Ringkasan Berita:
- Kemhan dan TNI menyalurkan bantuan alat-alat kesehatan dari PMI hingga obat-obatan untuk korban terdampak bencana di Pulau Sumatra.
- Menhan Sjafrie menegaskan prioritas utama pemerintah saat ini adalah pendorongan logistik bagi masyarakat.
- Seluruh bantuan akan didistribusikan menggunakan alutsista TNI ke titik-titik terdampak di 18 kabupaten.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Pertahanan dan TNI menyalurkan bantuan berupa alat-alat kesehatan dari Palang Merah Indonesia (PMI) hingga ribuan kilogram obat-obatan untuk korban terdampak bencana di Pulau Sumatra.
Hal itu terungkap usai Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI) Sjafrie Sjamsoeddin meninjau langsung lokasi terdampak banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Sabtu (29/11/2025).
Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kabaloghan Kemhan Marsdya TNI Yusuf Jauhari, dan Didit Hediprasetyo juga ikut dalam kunjungan itu.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Kolonel Arm Rico Ricardo Sirait mengatakan kunjungan dilakukan sebagai bentuk respons cepat pemerintah dalam memastikan penanganan darurat berjalan dengan baik serta kebutuhan masyarakat terpenuhi.
Rico menjelaskan Menhan meninjau dua lokasi pengungsian di Desa Blang Awe, Kecamatan Meureudu untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat yang terdampak serta kebutuhan mendesak di lapangan.
Setelah melakukan peninjauan, kata Rico, Sjafrie menegaskan prioritas utama pemerintah saat ini adalah pendorongan logistik bagi masyarakat, mulai dari bahan makanan, kebutuhan pribadi seperti pakaian, hingga obat-obatan.
Seluruh bantuan akan didistribusikan menggunakan alutsista TNI ke titik-titik terdampak di 18 kabupaten.
Selain itu, pengerahan alat berat dan pemasangan jembatan Bailey juga akan dilakukan untuk memulihkan akses darat yang terputus akibat bencana.
"Menghadapi situasi bencana tersebut, Kementerian Pertahanan (Kemhan) juga turut menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana," kata Rico saat dikonfirmasi pada Minggu (30/11/2025).
Bantuan yang terdistribusi baik dari Kemhan dan TNI serta instansi terkait meliputi:
"Juga perahu Landing Craft Rubber (LCR) 20 EA untuk memudahkan mobilisasi di wilayah yang sulit dijangkau," imbuhnya.
Ia menjelaskan Kemhan juga berencana menyalurkan bantuan ke Sumatra Utara, dan Sumatra Barat yang juga terdampak bencana akibat hujan lebat yang menyebabkan banjir serta tanah longsor.
"Kunjungan dan pengiriman bantuan ini diharapkan dapat mempercepat proses penanganan darurat serta memberikan dukungan nyata bagi warga yang tengah menghadapi masa sulit akibat bencana," pungkasnya.
Terkini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total sebanyak 303 jiwa meninggal dunia dalam bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat hingga Sabtu (29/11/2025).
Di Provinsi Aceh, BNPB mencatat sebanyak 47 korban meninggal dunia, 51 orang hilang, serta 8 orang luka-luka.
Jumlah pengungsi di sana mencapai 48.887 kepala keluarga yang tersebar di berbagai wilayah.
Mereka tersebar di Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil.
Masifnya kerusakan jembatan dan jalan nasional berdampak pada terputusnya akses utama, termasuk jalur Banda Aceh–Lhokseumawe serta jalur perbatasan Aceh–Sumatra Utara di Aceh Tamiang.
Hingga kini, beberapa daerah seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah juga dilaporkan masih belum dapat diakses melalui jalur darat.
Di Sumatra Utara, BNPB mencatat 166 korban meninggal dunia dan 143 orang masih dinyatakan hilang.
Ribuan warga mengungsi di berbagai titik akibat kondisi permukiman yang rusak dan akses yang terputus.
BNPB juga mencatat jumlah pengungsi mencapai ribuan jiwa di Tapanuli Selatan dan Kota Sibolga, serta ratusan hingga ribuan kepala keluarga di Mandailing Natal, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan.
Di Provinsi Sumatra Barat, BNPB mencatat 90 korban meninggal dunia, 85 orang hilang, dan 10 orang mengalami luka-luka.
Jumlah korban tertinggi tercatat berada di Kabupaten Agam.
Data sementara BNPB menunjukkan sebanyak 11.820 kepala keluarga atau sekitar 77.918 jiwa mengungsi, terutama di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan.
Sejumlah jalur provinsi dan nasional terputus akibat longsor dan kerusakan jembatan menyulitkan akses distribusi.
Namun, logistik dari Padang Pariaman dan Pesisir Selatan telah tiba dan delapan titik tambahan dalam proses pengiriman dengan pengawalan kepolisian.