Ringkasan Berita:
- Pengujian tahun ini dilakukan dengan pendekatan yang lebih komprehensif dibandingkan tahun sebelumnya.
- Cofiring hidrogen sebagai menurunkan emisi dan meningkatkan efisiensi.
- Langkah ini sesuai roadmap transisi energi nasional dan pencapaian NZE 2060 yang ditetapkan pemerintah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Gas (PLTDG) Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Bali Pesanggaran, Bali, dilakukan uji coba lanjutan cofiring hidrogen.
Cofiring hidrogen adalah metode pembakaran campuran dua bahan bakar yang berbeda dalam satu sistem, di mana hidrogen dicampur dengan bahan bakar utama seperti gas alam atau batu bara untuk menghasilkan listrik.
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, mengatakan, implementasi cofiring hidrogen bukan lagi sekadar wacana, tetapi sudah diuji dan buktikan dapat diterapkan secara nyata dan aman di aset pembangkitan.
"Ini adalah fondasi penting bagi upaya kami menurunkan emisi, meningkatkan efisiensi, sekaligus memperkuat portofolio energi bersih perusahaan," ujar Bernadus dikutip Minggu (30/11/2025).
VP Technology Development PLN Indonesia Power sekaligus penanggung jawab program cofiring hidrogen, Hedwig Lunga Sampe Pajung, menjelaskan pengujian tahun ini dilakukan dengan pendekatan yang lebih komprehensif dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika pada 2024 pengujian hanya dilakukan pada beban penuh (100 persen kapasitas mesin) dengan rasio cofiring 7%, maka pada 2025 pengujian melibatkan tiga variasi beban untuk mendapatkan gambaran performa yang lebih lengkap.
“Pengujian kali ini kami lakukan pada beban 75%, 85%, dan 100% kapasitas mesin. Hasilnya, rasio cofiring hidrogen mencapai 23% pada beban 75%, 22% pada 85%, dan 17% pada 100%. Dengan variasi ini, kami bisa melihat perilaku mesin di berbagai kondisi operasi dan menentukan batas maksimum hidrogen yang aman untuk setiap level beban,” jelas Hedwig.
Dari sisi teknis, pengembangan difokuskan pada sistem suplai hidrogen melalui penggunaan Pressure Regulator System (PRS) berbasis Programmable Logic Controller (PLC) dan Human Machine Interface (HMI).
Sistem ini memungkinkan pengaturan injeksi hidrogen yang lebih akurat, efisien, dan aman.
“Dengan kontrol elektronik penuh, proses feeding hidrogen menjadi jauh lebih stabil dan presisi,” tambah Hedwig.
Selain itu, tim juga menemukan indikasi peningkatan efisiensi pembakaran. Pada kondisi beban yang sama, konsumsi energi total (gas alam + hidrogen) lebih rendah dibandingkan pembakaran murni gas alam.
Hal ini diduga karena hidrogen membantu pembakaran lanjutan karbon monoksida (CO), yang terlihat dari kadar emisi CO yang lebih rendah saat cofiring.
Pelaksanaan cofiring hidrogen ini menjadi bagian penting dari dukungan PLN Indonesia Power terhadap roadmap transisi energi nasional dan pencapaian Net Zero Emission (NZE) 2060 yang ditetapkan pemerintah.
“Jika keekonomiannya juga terpenuhi, hidrogen dapat disuplai secara kontinu sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi pembangkitan,” ujarnya.