Ringkasan Berita:
- 303 tewas, 279 hilang, lebih dari 50 ribu jiwa mengungsi akibat banjir di Sumatra
- Warga Bireuen gunakan drum plastik & tali baja untuk seberangkan orang dan logistik.
- Aceh Utara lumpuh, di mana kampung tenggelam dua meter, warga bertahan di pinggir jalan nasional tanpa bantuan.
- Polri temukan anak hilang di Sibolga, Bhayangkari menyusui bayi terpisah dari ibunya.
- Empat hari tanpa listrik & sinyal, warga Medan Marelan cemas penjarahan di tengah banjir.
TRIBUNNEWS.COM - Tragedi banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menyisakan kisah pilu.
Jumlah korban terbaru banjir dan longsor di Sumatra hingga 29–30 November 2025 mencapai lebih dari 303 orang meninggal dunia, dengan sekitar 279 orang masih hilang. Lebih dari 50.000 jiwa mengungsi di posko resmi dan mandiri.
Daerah terdampak meliputi
Aceh
Pidie, Meureudu, Aceh Utara, Aceh Timur, Kota Langsa, Aceh Tamiang
Sumatera Utara
Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Langkat
Sumatera Barat
Padang, Pauh, Gunung Nago, Kabupaten Agam (Malalak, Matur, Tanjung Raya, Palupuh, Palembayan).
Bencana itu terjadi, karena curah hujan ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar.
Selain itu, terjadi juga kerusakan lingkungan berupa deforestasi, alih fungsi lahan, dan lemahnya tata ruang.
Situasi diperparah karena topografi curam di wilayah Sumbar dan Aceh yang rentan longsor
Sejumlah kampung di Kabupaten Aceh Utara hingga kini masih terendam banjir dengan ketinggian air mencapai dua meter.
Mirisnya, ratusan warga terpaksa mengungsi di pinggir jalan nasional Banda Aceh–Medan tanpa pasokan bantuan memadai.
Keuchik Alue Gunto, Kecamatan Syamtalira Aron, M Umar, mengatakan sekitar 120 kepala keluarga sudah empat malam bertahan di tenda darurat.
“Kampung tenggelam semua, air dua meter. Bantuan sangat dibutuhkan karena di sini tidak ada barang. Beras yang sudah kena air itu kami masak,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Mudar, pengungsi dari Gampong Meunasah Reudeup, Kecamatan Lhoksukon.
“Ini malam kelima kami mengungsi di sini. Ketinggian air setinggi dada hingga kepala orang dewasa,” katanya.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) bersama rombongan menyalurkan bantuan darurat berupa 10 ton beras dan paket logistik dari Dinas Pangan Aceh, Triangle Pase, serta BPMA.
Bantuan didistribusikan hingga tengah malam ke sejumlah titik pengungsian, termasuk Alue Gunto, Geumata, Meunasah Reudeup, Keude Sampoiniet, dan Panton Labu.
Mualem menegaskan distribusi bantuan menghadapi kendala akses transportasi.
“Kami mengantar bantuan ke semua pelosok di seluruh Aceh. Kendala dalam distribusi karena ada wilayah yang tidak dapat diakses. Daerah yang bisa dilewati kendaraan seperti Pidie, Pidie Jaya, dan Bireuen sudah kita salurkan. Untuk wilayah lain akan kita tempuh lewat darat, laut, dan udara,” katanya.
Ia juga menekankan pemulihan listrik dan jaringan komunikasi sebagai prioritas.
“Ini yang paling urgent. Kita sudah koordinasi supaya listrik dan sinyal komunikasi bisa dipulihkan secepat mungkin. Kami usahakan bantuan segera sampai kepada masyarakat terdampak,” pungkasnya.
Kepedulian dan respons cepat personel kepolisian kembali menjadi harapan di tengah situasi darurat bencana di Sumatera Utara.
Pada Sabtu (29/11/2025) malam, seorang anak perempuan bernama Cindi Natalia Telambanua (9), warga Desa Muara Nibung, Hajoran, Kabupaten Tapanuli Tengah, ditemukan dalam kondisi kebingungan oleh personel Polsek Sambas, Kota Sibolga.
Cindi diketahui tersesat setelah bermain dengan temannya dan kehilangan arah pulang. Personel Polsek segera membawanya ke Posko Tanggap Darurat Bencana Polres Sibolga untuk mendapatkan perlindungan.
Di posko, Cindi diterima dalam keadaan sehat dan diberikan makanan, tempat istirahat, serta pendampingan agar tidak merasa takut.
Setelah beberapa jam pencarian intensif, pada Minggu (30/11/2025) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, petugas berhasil menghubungi orang tua Cindi dan mempertemukan mereka di posko.
Suasana penuh haru menyelimuti pertemuan itu. Sang ayah dengan suara bergetar berkata:
“Kami sangat bersyukur dan tidak tahu harus berkata apa lagi. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak petugas polisi terutama yang di Sibolga ini, atas kerjasamanya telah membantu menemukan anak kami yang sejak tadi siang hilang di kerumunan orang banyak. Sekarang Puji Tuhan, sudah ketemu anak kami, tak ada balasan yang bisa kami berikan. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan kalian.”
Kabid Humas Polda Sumatera Utara, Kombes Pol Ferry Walintukan, menyampaikan apresiasi kepada anggota di lapangan.
“Kami bersyukur anak tersebut dapat ditemukan dengan selamat dan dipertemukan kembali dengan kedua orang tuanya. Dalam situasi bencana seperti saat ini, Polri tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tetapi juga memastikan keselamatan setiap warga, khususnya anak-anak yang paling rentan. Respons cepat personel Polsek Sambas dan Posko Tanggap Darurat Bencana Polres Sibolga adalah wujud kehadiran Polri untuk memberikan perlindungan dan rasa aman.”
“Kami mengimbau para orang tua agar tetap meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak di tengah situasi bencana. Polda Sumut bersama seluruh jajaran akan terus bekerja maksimal demi keselamatan masyarakat.”
Di tengah hiruk-pikuk posko penanganan banjir dan longsor di Dusun Purba Tua, Desa Marsada, Sipirok, sebuah peristiwa menyentuh terjadi.
Seorang nenek menggendong bayi berusia satu bulan yang terus menangis karena terpisah dari ibunya yang masih berada di lokasi longsor.
Melihat kondisi itu, anggota Bhayangkari Cabang Tapanuli Selatan, Ny. Yana Hanafi (Tengku Nova Mulyana), tergerak hatinya.
Ia menawarkan bantuan paling tulus: memberikan ASI-nya sendiri.
“Saat melihat bayi itu menangis, saya seperti melihat anak saya sendiri. Saya hanya memikirkan satu hal: dia harus segera ditenangkan dan dia harus minum. Selama saya bisa membantu, saya lakukan tanpa ragu,”ujarnya dengan suara bergetar.
Dengan persetujuan tenaga kesehatan dan sang nenek, Ny. Yana menyusui bayi tersebut di musholla kecil posko. Tangis bayi perlahan reda dan berganti tidur damai.
Kondisi banjir di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, masih belum pulih hingga Minggu (30/11/2025).
Selama empat hari terakhir, permukiman warga berubah menjadi lorong-lorong terisolasi. Listrik padam total sejak Rabu tengah malam, sementara jaringan Telkomsel ikut tumbang, membuat warga benar-benar terputus dari dunia luar.
Suasana gelap gulita membuat warga hanya mengandalkan senter dan lilin yang semakin menipis. Kedai-kedai kehabisan stok pangan dan kebutuhan dasar.
“Sudah empat hari kami seperti ini. HP mati, sinyal hilang. Kami bahkan tak tahu sampai kapan. Kami gak tahu di luar Marelan, saudara di luar gak tahu,” kata Icha (43), warga yang rumahnya sempat tenggelam seleher orang dewasa.
Madan menambahkan “Kalau ada listrik setidaknya bisa lebih hangat, dan beraktivitas. Masalah keamanan juga kami khawatir. Ada maling dan pencurian, hingga penjarahan rumah warga yang mengungsi.”
Roni (28) mengungkapkan: “Kalau ada orang sakit, kami harus ke ujung jalan besar dulu, itu pun kalau masih bisa lewat. Sinyal hilang total. Kami benar-benar merasa sendirian.”
Banjir besar ini disebut akibat hujan ekstrem sejak awal pekan, meluapnya Sungai Bedera, Sungai Deli, serta banjir kiriman dari Titi Papan.
Air naik cepat dalam hitungan jam, memaksa warga menyelamatkan diri hanya dengan pakaian di badan. Hingga hari keempat, sebagian besar rumah masih terendam.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menjelaskan lima gardu induk PLN di Medan Utara dan Marelan rusak akibat banjir.
“Tadi kami rapat dengan PLN, ada 5 gardu induk yang terkena atau rusak. Menyebabkan listrik padam di Medan Utara dan Marelan,” jelasnya. Ia memastikan perbaikan sudah dimulai di Medan Utara, sementara Marelan menunggu air surut. “Kalau Medan Marelan kita mulai perbaiki apabila air sudah surut segera diperbaiki. Tadi malam hingga saat ini kami juga memberikan instruksi bagian wilayah terdampak banjir untuk fokus evakuasi dan logistik di Medan Marelan hari ini,” ucapnya.
Sejak banjir bandang melanda Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang, Kamis (27/11/2025), Nurmala Dewi, warga asal Pekanbaru, masih kehilangan kontak dengan dua saudara sepupunya. Hingga Minggu (30/11/2025), sudah empat hari lamanya ia belum mendapat kabar.
Kedua sepupunya bernama Muhammad Rivai Ramadhan dan Anastasia Risya Amanda. Sebelum kejadian, mereka terpantau berada di jembatan kembar Padang Panjang saat perjalanan dari Baso, Kabupaten Agam menuju Kota Padang.
“Terakhir kontak dengan saudara saya pukul 10.00 WIB, mereka saat itu berada di jembatan kembar, dari Baso menuju Padang,” ungkap Nurmala.
Ia menjelaskan, Rivai saat itu mengenakan kaos hitam dan celana hitam, sementara Risya memakai blouse pink dengan celana hitam. Mobil double cabin merek Ford yang mereka kendarai juga sempat terlihat di media sosial sebelum banjir bandang menerjang jembatan tersebut.
Sejak saat itu, komunikasi terputus dan keberadaan keduanya belum diketahui. Nurmala masih terus mencari informasi sambil menunggu kabar baik.
“Saya berharap saudara saya bisa kembali ke Pekanbaru dalam keadaan selamat,” tambahnya.
Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat luluh lantak akibat banjir bandang pada Rabu (26/11/2025) sore.
Warga terdampak memilih mengungsi di Masjid Nurul Iman, Bukit Malanca, karena rumah rusak dan material banjir masih menumpuk.
Pantauan di lokasi menunjukkan para pengungsi membutuhkan bantuan logistik mendesak, mulai dari makanan, pakaian, hingga kursi roda.
“Saat ini terpenting tentu kebutuhan pokok seperti makanan serta pakaian, soalnya banyak pengungsi yang hanya selamat dengan baju yang melekat di badan," kata Karni, salah satu pengungsi.
Karni mengaku sudah tiga hari bertahan di pengungsian karena akses jalan menuju rumah masih tertimbun material banjir.
“Jadi bantuan medis seperti obat sangat diperlukan, jika ada kursi roda pun sangat membantu kami yang tua ni susah berjalan," ujar Darlis.
Ia menegaskan cuaca masih belum stabil dengan hujan beberapa hari terakhir.
Material sisa banjir belum bisa dibersihkan karena akses jalan terkendala, sehingga warga harus bersabar bertahan di pengungsian.
Sementara itu, BNPB mengerahkan dua pesawat Cessna Caravan untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumbar. Direktur Dukungan Infrastruktur Darurat BNPB, Andria Yuferryzal, mengatakan:
“Sumber daya nasional sudah mulai masuk, di antaranya ada dua pesawat Cessna Caravan dalam rangka pelaksanaan OMC.”
Andria menjelaskan modifikasi cuaca bertujuan agar pencarian dan evakuasi berjalan lancar tanpa terhambat hujan.
“Sehingga kegiatan pencarian dapat dilakukan dengan baik,” sebutnya.
Selain itu, helikopter BNPB sudah dikerahkan untuk evakuasi daerah terisolir, serta dukungan logistik berupa sembako, tenda pengungsi, dan tenda keluarga mulai disalurkan.
“Sehingga Pemda Agam tidak sendiri dalam menghadapi bencana ini,” ujarnya.
Jembatan Teupin Mane di Km 10 Jalan Bireuen–Gayo putus akibat banjir bandang pada Rabu (26/11/2025), melumpuhkan akses antara Kecamatan Juli (Bireuen) dan Kabupaten Bener Meriah.
Warga tidak menyerah, di mana mereka merentangkan tali baja di atas sungai berarus deras untuk menyeberangkan orang, makanan, dan obat-obatan.
Warga menggunakan drum plastik yang dipotong dua, dikaitkan ke tali, lalu ditarik dari seberang.
Senapan angin dipakai untuk menembakkan peluru berikat benang pancing, lalu ditarik hingga tali baja terpasang ke seberang sungai.
Jembatan gantung di Desa Balee Panah juga hanyut, membuat Dusun Alue U terisolasi. Warga sakit dan keluarga di seberang hanya bisa dibantu lewat jalur tali baja.
Rumah-rumah di kedua sisi sungai tersapu, termasuk Dayah Babul Ilmi Istiqamatuddin. Luapan banjir membawa material kayu gelondongan, diduga terkait penebangan liar di hulu.
SAR Bireuen sempat turun dengan perahu karet pada 28 November, namun hanya sekali untuk evakuasi jenazah. Personel minim dan tanpa alat komunikasi, sehingga bantuan terbatas.
Relawan Dewi Sofiana menekankan kreativitas warga menjadi kunci bertahan hidup ketika pemerintah belum hadir, menunjukkan kekuatan swadaya masyarakat.
"Upaya mereka ternyata berhasil. Itu kreativitas naluri alam warga desa," kata Dewi.