Maleo satwa endemik Sulawesi ini menjadi satwa utama di TNBNW

Gorontalo (ANTARA) - Pelestarian Burung Maleo (Macrocephalon maleo) dan habitat nya di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Bone (TNBNW) berperan penting dalam menguatkan Geopark Gorontalo.

Kepala SPTN 1 TNBNW Hariadi Siswantoro di Gorontalo, Minggu mengatakan dalam bentang alam ini terdapat tiga unsur utama menyusun Geopark, yaitu geologi, biodiversitas dan keunikan budaya masyarakat.

Panas bumi (Geotermal) yang keluar dari rekahan batuan kapur di daerah ini menjadi "ibu" bagi anak-anak maleo yang menetas setelah 60 hari dibenamkan induknya di dalam tanah.

Maleo satwa endemik Sulawesi ini menjadi satwa utama di TNBNW.

Kekayaan biodiversitas ini menjadi salah satu unsur penting dalam Geopark Gorontalo.

Di sisi lain, warga Suwawa Bone yang mendiami bentang alam ini adalah aktor utama pelestarian, menjaga keanekaragaman hayati dalam harmoni alam.

Hubungan TNBNW dalam memperkuat Geopark Gorontalo ini dikupas dalam gelar wicara peringatan Hari Maleo Sedunia yang digelar di Wadala Stable komplek Danau Perintis, Kabupaten Bone Bolango.

Gelar wicara ini adalah bagian dari peringatan ke-5 Hari Maleo Sedunia di Gorontalo.

"Kami mengawali peringatan Hari Maleo dengan edukasi ke peserta Peran Saka Nasional beberapa waktu lalu," kata Hariadi.

Enam orang pembicara dihadirkan dalam gelar wicara yang bertema Harmoni di lanskap Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Bone.

Mereka adalah Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Gorontalo yang juga Direktur Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Budiyanto Sidiki, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo yang diwakili Irwan Bempah, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bone Bolango M Yamin Husain, Kepala Seksi 1 Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Bone Hariadi Siswantoro, Ketua Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Negeri Gorontalo Sri Sutarni Arifin, dan Kepala LKBN Antara Biro Gorontalo Debby H Mano.

Festival Maleo ini dilakukan secara kolaboratif oleh berbagai pihak, seperti Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Bone Bolango, Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Perkumpulan Biota, Wildlife Conservation Society (WCS), Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota UNG, Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS), Sekolah Brillikids dan Komunitas Masyarakat Berbahasa Bonda.

"Festival Maleo tahun ini diikuti banyak lembaga, ini menunjukkan semakin menarik perhatian masyarakat," kata Kepala Bidang Pariwisata Bone Bolango Yudiawan Maksum.

Ia mengatakan Festival Maleo tahun ini mengaitkan pelestarian satwa endemik Sulawesi dengan sosial budaya masyarakat Bone Suwawa di Kabupaten Bone Bolango.

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yang menjadi habitat burung maleo juga menjadi bagian penting keberadaan masyarakat Bone Suwawa.

"Dari gelar wicara ini kami mendorong adanya rekomendasi untuk para pihak yang terkait dengan konservasi maleo dan habitat nya," kata Budiyanto Sidiki.

Kegiatan ini dimoderatori Rosyid Azhar dari Perkumpulan BIOTA diikuti puluhan mahasiswa dan sejumlah undangan.