Menjaga Rasa, Membangun Bangsa: UMKM Bakpia Fadila di Pusat Pemberdayaan BRI
Sri Juliati December 01, 2025 01:31 AM

TRIBUNNEWS.COM - Di Yogyakarta, kota yang tak pernah tidur dari hiruk-pikuk wisata, aroma bakpia masih mengepul di banyak sudut. Namun, di balik wangi itu, ada kegelisahan yang tak kasat mata: bakpia tradisional semakin terdesak oleh gempuran inovasi rasa dan persaingan harga yang brutal.

Beberapa tahun terakhir, pasar mendadak dibanjiri "bakpia baru": bakpia kukus, bakpia lembut, bakpia keju, cokelat, hingga versi premium yang menjual tampilan ketimbang tradisi. Deretan toko oleh-oleh dan gang-gang wisata kini lebih banyak dikuasai produk-produk yang menyerupai bakpia, tetapi tak lagi berjalan di rel tradisionalnya.

Di titik inilah, Joni Purwantoro (52)—pemilik Bakpia Fadila di Pathuk, Ngampilan—merasakan usahanya seperti berada di ujung tanduk.

“Pasar kami sempat tergerus. Kalau ikut modifikasi berlebihan, identitas bakpia Yogya bisa hilang," jelasnya ketika berbincang pada Sabtu (29/11/2025).

Jatuh dalam Senyap: Persaingan, Letih Produksi Manual, dan Pandemi yang Menghantam

Dulu, Joni menguleni adonan dengan tangan. Oven kecil di rumahnya hanya mampu memanggang sedikit. Produksi harian yang seharusnya menghidupi keluarga malah terseok karena kapasitas tak bisa mengejar permintaan.

Lalu pandemi menghantam.

Penjualan yang biasanya ratusan dus jelang Lebaran menukik tajam.

“Sehari laku 10 dus saja rasanya sudah syukur,” ujarnya lirih.

Toko oleh-oleh tutup, wisata berhenti, dan usaha rumahan Joni hampir tidak bergerak. Ia sempat menutup dapur produksi selama beberapa waktu karena tak sanggup menutup logistik harian.

Namun Joni tak ingin menyerah.

“Saya harus bangkit. Kalau saya berhenti, tradisi bakpia ini ikut berhenti,” katanya.

Ketika KUR BRI Menjadi Penyelamat

Dalam keputusasaan itulah, Joni memutuskan mengambil langkah terbesar dalam hidupnya: mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.

Hanya dengan modal Rp10 juta dari KUR pertama, Joni membeli mesin penggiling adonan dan peralatan produksi yang lebih layak. Dampaknya langsung terasa. Produksi naik dua kali lipat, tenaga yang dikeluarkan jauh lebih ringan, kualitas bisa lebih terjaga karena tak lagi bergantung pada kelelahan fisik.

“Dari 50 dus sehari, kami bisa naik dua kali lipat. Itu titik balik,” ungkapnya.

BRI bukan hanya membuka pintu modal, tetapi juga mengajaknya mengikuti pelatihan digitalisasi, penggunaan QRIS, hingga strategi pemasaran modern. Joni mempraktikkan semuanya: Instagram, TikTok, WhatsApp, pre-order, hingga konten proses pembuatan bakpia tradisional.

Hasilnya, pelanggan setia kembali berdatangan, bahkan dari luar kota.

Pernah satu pelanggan memesan 400 dus sekaligus.

“Yang penting kualitas. Kalau pelanggan puas, mereka pasti kembali,” ujarnya mantap.

Dari Dapur Bakpia ke Bisnis Homestay: Diversifikasi yang Tak Disangka

Ketika omset pulih, Joni mengambil keputusan nekat: memperluas usaha dengan membangun homestay. Lagi-lagi lewat dukungan KUR BRI.

Ia membeli rumah tetangga dan menyulapnya menjadi penginapan. Kini tiga petak rumah berdiri sebagai homestay keluarga yang ramai wisatawan.

Setiap tamu disambut dengan bakpia gratis—cara sederhana yang justru memperluas pasar oleh-oleh Joni.

“Banyak yang pulang membawa 2–5 dus. Kalau dikalikan jumlah tamu, lumayan,” katanya tersenyum.

Bakpia dan homestay akhirnya saling menguatkan, seperti dua roda usaha yang berjalan beriringan.

Di dapur kecilnya, Joni kini tak lagi dihantui ketakutan bakpia tradisional hilang ditelan zaman. Ia punya mesin, punya pasar, punya strategi digital, dan—yang paling penting—punya keberanian untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan akar budaya.

Ia bermimpi suatu hari Bakpia Fadila menjadi ikon bakpia tradisional Pathuk yang tak lekang oleh waktu.

Dan baginya, permodalan dan pendampingan dari BRI bukan sekadar bantuan finansial, melainkan energi berkelanjutan yang memampukan UMKM seperti dirinya untuk terus bertahan dalam arus perubahan.

“Selama kita jaga kualitas dan terus belajar, bakpia tradisional tidak akan hilang. Dan selama ada BRI, UMKM seperti kami masih punya harapan besar,” tutup Joni.

Bangkit Bersama BRI

Kisah Joni hanyalah satu dari 4 juta lebih debitur UMKM yang tersentuh program KUR BRI sepanjang 2025.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah UMKM di Indonesia mencapai 65,5 juta unit usaha dan berkontribusi 61,9 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Adanya UMKM ini menyerap 119 juta lebih tenaga kerja atau sekitar 97 persen dari total tenaga kerja nasional.

Dari perspektif tersebut, Bank Rakyat Indonesia (BRI) tampil sebagai motor penggerak utama pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

BRI tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi membangun ekosistem lengkap yang mencakup akses modal, digitalisasi layanan, pelatihan, inkubasi, klaster usaha, hingga perluasan pasar.

BRI menegaskan bahwa UMKM adalah pilar ekonomi nasional, dan komitmen tersebut tercermin dari capaian kinerja terbarunya.

Pada pemaparan kinerja Triwulan III 2025, Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyampaikan bahwa BRI berhasil membukukan laba Rp41,2 triliun, ditopang oleh stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan kredit sektor produktif.

Ia menegaskan bahwa prospek pertumbuhan ke depan semakin kuat karena perbaikan likuiditas, penurunan biaya dana, dan meningkatnya kebutuhan kredit masyarakat.

“Dengan kondisi makro perekonomian Indonesia dan kebijakan moneter yang positif, hal ini berdampak terhadap stabilitas industri perbankan nasional. BRI melihat prospek pertumbuhan kedepan akan semakin kuat, ditopang oleh penurunan biaya dana (cost of fund), perbaikan likuiditas, serta peningkatan permintaan kredit di sektor produktif dan konsumtif,” ujarnya, dalam keterangan tertulis.

Hery Gunardi juga menekankan bahwa BRI tetap fokus pada ekonomi kerakyatan dan terus memperkuat dukungannya terhadap program pemerintah, terutama melalui pembiayaan UMKM. Salah satu wujud terbesarnya adalah penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Hingga September 2025, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp130,2 triliun, kepada 2,8 juta debitur atau 74,4 persen dari total alokasi nasional Rp175 triliun.

KUR menjadi tulang punggung pembiayaan produktif karena memberi modal murah bagi pelaku usaha mikro yang sebelumnya sulit mendapatkan akses kredit formal.

Selain pembiayaan, BRI juga menjalankan berbagai program pemberdayaan UMKM seperti pelatihan manajemen, literasi keuangan, digital, dan ekspor. Kemudian program klaster usaha dan desa binaan, pendampingan melalui Rumah BUMN, digitalisasi pemasaran lewat LinkUMKM, yang kini telah diikuti lebih dari 12,9 juta pelaku UMKM.

Dalam konteks inilah program inklusi keuangan dan UMKM BRI hadir, sejalan dengan semangat HUT ke-130 BRI, yakni “Bersama Rakyat Indonesia Maju.”

Menurut Hery Gunardi, program-program ini bukan hanya memberikan akses modal, tetapi juga membangun komunitas usaha yang kuat sehingga UMKM dapat tumbuh bersama dan naik kelas secara kolektif.

BRI juga menyadari masih ada tantangan besar seperti rendahnya literasi digital, standar kualitas ekspor, kapasitas produksi, dan konsistensi bahan baku. Namun dengan kombinasi pembiayaan, digitalisasi, dan pendampingan usaha, BRI melihat peluang besar untuk mengakselerasi pertumbuhan UMKM yang lebih merata dan berkelanjutan.

(*)

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.