TRIBUNWOW.COM - Masa remaja adalah masa penuh perubahan, dari pencarian jati diri hingga emosi yang tidak stabil.
Di fase ini, remaja sedang belajar memahami diri, membangun hubungan, dan menentukan prinsip-prinsip hidupnya.
Namun, justru pada masa ini remaja rentan terpapar bentuk manipulasi emosional yang berbahaya, di antaranya gaslighting.
Gaslighting adalah tindakan membuat seseorang meragukan pikiran, perasaan, atau ingatannya sendiri sehingga ia merasa bersalah atau tidak mampu menilai situasi dengan benar.
Ketika remaja mengalami hal ini, dampaknya bisa sangat besar.
Memahami mengapa remaja menjadi lebih rentan terhadap situasi ini penting agar orang tua, pendidik, dan remaja sendiri dapat lebih waspada dan mampu membangun hubungan yang sehat.
Pertanyaan:
Lantas, mengapa remaja rentan terkena gaslighting?
Begini penjelasan Psikolog Klinik Utama Kasih Ibu Sehati Hafiz Mutiara Nisa S.Psi, M.Psi, CHt dalam podcast kesehatan "Healthy Talk" dalam kanal YouTube Tribunnews.com.
Jawaban:
Remaja rentan terkena gaslighting karena mereka berada di fase emosional yang belum matang.
Pada masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, emosi remaja belum stabil dan masih mudah berubah.
Kondisi ini membuat mereka lebih mudah percaya pada pengaruh dari luar, termasuk manipulasi.
Menurut teori Erikson, usia 12–18 tahun adalah fase pencarian jati diri.
Remaja masih mencoba memahami siapa diri mereka, apa yang mereka sukai, dan bagaimana mereka ingin dikenal.
Saat sedang bingung tentang identitas dirinya, remaja akan lebih rawan meragukan dirinya sendiri yang dapat membuatnya semakin mudah terkena gaslighting.
Selain itu, remaja belum memiliki pengalaman yang cukup untuk membedakan antara kritik yang sehat dan manipulasi.
Oleh karena itu, ketika di-gaslight, mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang dipermainkan atau dikendalikan.
(TribunWow.com/Peserta Magang dari Universitas Sebelas Maret Surakarta/Orisa Sativa Hapsari)