GridHEALTH.id -Bencana banjir yang melanda beberapa wilayah di Sumatera tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga membawa ancaman penyakit bagi korban yang perlu diwaspadai.
Kementerian Kesehatan RI mengingatkan adanya potensi peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan leptospirosis pada masa pasca-banjir ini.
Salah satu yang paling berbahaya adalah leptospirosis, yaitu penyakit infeksi akibat bakteri Leptospira yang dapat menyerang ginjal, hati, hingga menyebabkan komplikasidan kematianbila tidak segera ditangani.
Apa Itu Leptospirosis?
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia) yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri ini biasanya ditemukan dalam urine tikus, tetapi juga dapat dibawa oleh hewan lain seperti anjing, kucing, sapi, dan babi.
Pada kondisi banjir, risiko penularan leptospirosis meningkat drastis karena air banjirmemungkinkan penyebaran urine tikus atau hewan lain ke lingkungan warga, bahkan hingga ke tenda pengungsian.
Kondisi lingkungan lembap dan kotor pun dapat mempermudah bakteri bertahan lebih lama.
Itulah mengapa masyarakat diminta untukwaspada akan potensi penyakitleptospirosis yang muncul setelah banjir surut.
Bagaimana Leptospirosis Bisa Menular?
Penularan leptospirosis dapat terjadi ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melalui:
Korban banjir yang sering berjalan tanpa alas kaki atau kontak langsung dengan air banjir memiliki risiko paling tinggi.
Gejala Leptospirosis yang Perlu Diwaspadai
Dilansir darilaman CDC, seseorang umumnya mulai mengalami gejala leptospirosis dalam rentang waktu 2 hingga 30 hari setelah terpapar bakteri Leptospira.
Gejalaleptospirosis ini bisa mirip dengan flu atau demam berdarah, sehingga sering tidak disadari. Beberapa tanda umum antara lain:
Untuk warga yang mengalami gejala-gejala ini, terutama setelah kontak dengan air banjir, harapsegera periksakan dirike dokter atau pos kesehatan terdekat.
Cara Mencegah Leptospirosis Setelah Banjir
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk mengurangi risiko penyakit. Beberapa langkah penting meliputi:
1. Jaga Kebersihan Diri: Rutin mencuci tangan pakai sabun, menjaga kebersihan tubuh, dan selalu memakai alas kaki untuk mencegah masuknya bakteri melalui luka.
2. Konsumsi Makanan dan Minuman yang Higienis: Pastikan makanan dimasak hingga matang dan gunakan air bersih untuk diminum dan memasak.
3. Kelola Lingkungan Pengungsian: Pastikan area tetap kering dan bebas genangan air, buang sampah pada tempatnya, gunakan toilet darurat dengan benar, dan tutup luka dengan perban atau plester.
4. Cegah DBD dengan 3M Plus:Selain leptospirosis, ancaman DBD juga meningkat pasca-banjir. Lakukan langkah 3M Plus: Menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, mendaur ulang barang bekas, plus tindakan tambahan seperti menggunakan lotion anti-nyamuk atau memasang kelambu.
5. Segera Periksa Kesehatan: Jika mengalami gejala leptospirosis atau gejala penyakit lainnya, seperti demam, diare, ISPA, atau gatal-gatal, segeralah berkunjung ke pos kesehatan atau fasilitas kesehatan terdekat agar dapat ditangani lebih cepat.
Leptospirosis adalah ancaman serius bagi korban banjir Sumatera karena dapat menular lewat air banjir yang rawan terkontaminasi urine tikus dan hewan lainnya.
Menerapkan PHBS, menjaga kebersihan lingkungan, serta segera memeriksakan diri ketika muncul gejala leptospirosis merupakan langkah penting untuk mencegah penyakit ini menyebar.