TRIBUNWOW.COM - Gaslighting atau bentuk sikap manipulatif sering kali terlihat sepele karena tidak meninggalkan luka fisik, padahal di situlah letak bahayanya.
Gaslighting adalah bentuk manipulasi yang bekerja perlahan, menyasar pikiran dan perasaan sesorang.
Orang yang mengalami gaslighting banyak yang tidak segera menyadarinya.
Kondisi tersebut terjadi karena proses gaslighting berlangsung secara bertahap dan sering "tidak tampak".
Memahami mengapa gaslighting begitu berbahaya sangatlah penting agar kita dapat mengenali tanda-tandanya sejak awal dan mencegah dampak psikologis yang buruk.
Pertanyaan:
Mengapa gaslighting berbahaya?
Begini penjelasan Psikolog Klinik Utama Kasih Ibu Sehati Hafiz Mutiara Nisa S.Psi, M.Psi, CHt dalam podcast kesehatan "Healthy Talk" dalam kanal YouTube Tribunnews.com.
Jawaban:
Gaslighting disebut sebagai hal yang berbahaya karena merupakan bentuk kekerasan emosional.
Dampak gaslighting tidak tampak secara fisik tetapi langsung menyasar emosi dan pikiran korban.
Pelaku sengaja memutarbalikkan fakta atau membuat korban meragukan hal-hal yang sebenarnya tidak terjadi, sehingga pikiran korban menjadi goyah.
Saat terus-menerus dipaksa mempertanyakan apa yang ia rasakan atau ingat, korban perlahan mulai menganggap dirinya tidak dapat dipercaya.
Rasa tidak percaya diri berkembang menjadi keraguan terhadap diri sendiri.
Korban mulai mempertanyakan apakah ia salah, apakah ia berlebihan, atau apakah ia "tidak normal" sehingga semakin sulit membela diri.
Saat rasa ragu semakin kuat, pelaku mudah mengontrol korban.
Karena korban tidak yakin lagi pada pikirannya sendiri, pelaku mendapatkan posisi dominan untuk mengendalikan sikap, keputusan, dan tindakan korban.
Dalam jangka panjang, korban bisa mengalami stres berat, kecemasan, hingga merasa tidak berharga karena terus hidup dalam tekanan mental dan rasa bingung.
(TribunWow.com/Peserta Magang dari Universitas Sebelas Maret Surakarta/Orisa Sativa Hapsari)