TRIBUNNEWS.COM - Forum Genre Indonesia resmi mendeklarasikan Gerakan Lawan Bullying sebagai komitmen nasional orang muda untuk menciptakan ruang tumbuh yang aman, sehat, dan berdaya di Indonesia. Gerakan ini didukung oleh 32 organisasi dan komunitas orang muda dari berbagai sektor yang bersama-sama menyerukan penghentian segala bentuk perundungan di lingkungan sekolah, kampus, dunia kerja, dan ruang digital.
Gerakan ini dikemas dalam kegiatan Nonton Bareng Film “Ozora”, Diskusi Partisipatif, dan penandatanganan Deklarasi Lawan Bullying yang berlangsung penuh energi kolaboratif. Mengangkat kisah nyata penyintas bullying, acara ini menjadi refleksi bahwa perundungan bukan sekadar candaan, tetapi kekerasan yang dapat menghancurkan kehidupan seseorang.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Bapak Wihaji, memberikan dukungan penuh atas gerakan ini dan mengingatkan bahwa, “Bullying harus dihentikan bersama. Kita memerlukan ruang aman bagi generasi muda untuk bermimpi dan berkembang. Saya mengapresiasi langkah Genre Indonesia yang menggandeng banyak organisasi pemuda untuk bergerak bersama. Ini bukan sekadar kampanye, tetapi aksi nyata menyelamatkan masa depan anak muda Indonesia,” tegas Menteri Wihaji.
Sementara itu, Ketua Umum Forum Genre Indonesia, I Putu Arya Aditia Utama, menegaskan bahwa gerakan ini adalah panggilan keberanian.
“Bullying tidak boleh lagi dianggap wajar. Gerakan ini adalah suara kolektif orang muda. Kita ingin lingkungan di mana setiap orang dihargai, didengar, dan dilindungi. Kami percaya kolaborasi lintas organisasikomunitas menjadikan perjuangan ini lebih kuat dan berkelanjutan,” ujar Arya.
Kegiatan ini juga dihadiri langsung oleh David Ozora, sosok yang kisahnya menginspirasi film Ozora. Serta Anggy Umbara (sutradara), Muzaki Ramdhan, dan Anisa Kailla. Mereka tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi juga menyuarakan pesan keberanian untuk melawan perundungan dalam kehidupan nyata.
Sutradara film Ozora, Anggy Umbara, menyampaikan harapannya, “Cerita David bukan hanya film, ini kenyataan yang harus dihadapi banyak anak muda. Kalau kita diam, pelaku akan terus merasa benar. Ayo bersuara, saling jaga, dan jangan biarkan bullying merusak masa depan teman-teman kita,” ungkapnya.
Melalui momentum ini, Gerakan Lawan Bullying menjadi pintu kolaborasi yang lebih luas untuk edukasi publik, kampanye anti-bullying di sekolah dan kampus, hingga advokasi kebijakan yang berpihak pada keselamatan psikososial generasi muda.