BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Kasus yang melibatkan perempuan dan anak hingga November 2025 tercatat berjumlah 105 kasus di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
Angka tersebut tercatat di UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) pada Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) HSS.
Hal ini, seperti yang diutarakan Kepala Dinas PPKBPPPA HSS, Heri Utomo saat sosialisasi pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (KtPA), Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) dan Perkawinan Anak, Jumat (5/12/2025).
“Data UPTD PPA sampai November, kasus tercatat 105 yang terdiri 28 kasus perempuan dan 72 kasus anak. Melalui kegiatan ini, menjadi langkah untuk meningkatkan pemahaman, kepedulian, dan peran aktif masyarakat mencegah, menangani kasus kekerasan,” katanya, Jumat (5/12/2025).
Adanya keterlibatan organisasi keagamaan, masyarakat, lembaga adat, lembaga profesi, dunia usaha, media, dan lembaga masyarakat lainnya di HSS akan menjadi sinergi untuk mencegah kekerasan tersebut.
Sementara, Sekretaris Daerah (Sekda) HSS, Muhammad Noor turut menyoroti angka dari jumlah kasus melibatkan perempuan dan anak tersebut.
Dikatakan Muhammad Noor, ini warning yang sangat nyata, bahwa persoalan ini mendapatkan perhatian serius.
“Melalui DPPKBPPPA agar bisa terus memberikan sosialisasi secara masif terkait penanganan, terutama chanel pelaporan. Ketika ada kejadian, pihak korban atau terdekat segera dan mengetahui kemana harus melaporkan dan mendapatkan penanganan,” ungkapnya.
Menurut Sekda, tidak hanya melalui kegiatan resmi, tapi dapat digunakan melalui media-media lainnya. Maka dari itu, DPPKBPPPA dan UPTD PPA lebih mengefektifkan kinerja.
Namun, Sekda turut berharap tidak hanya Pemkab HSS, akan tetapi terlibatnya tokoh masyarakat, agama, lembaga swadaya masyarakat untuk bisa menjadi perpanjangan tangan pula dalam hal penanganan kekerasan PPA ini.
“Terpenting lagi pola asuh sejak dini dan keterlibatan orang tua bisa menjadi penentu. Sekarang banyak orang tua yang mengambil jalan pintas menggunakan Gawai (seperti handphone) yang diserahkan langsung, padahal ini tidak baik apalagi usia yang masih kecil,” bebernya.
Dirinya berharap orang tua, keluarga sejak dini dapat memberikan pendidikan yang baik bagi anak.
(Banjarmasinpost.co.id/Adiyat Ikhsan)