TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di perbatasan Thailand–Kamboja meningkat tajam setelah militer Thailand mengerahkan jet tempur F-16 untuk menyerang tiga titik strategis di wilayah Kamboja, Senin (8/12/2025)
Operasi udara itu dilakukan setelah serangkaian bentrokan sengit yang menewaskan seorang tentara Thailand dan melukai empat lainnya.
Militer Thailand menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons langsung terhadap tembakan artileri Kamboja yang semakin agresif dan dianggap mengancam keamanan nasional Thailand, terutama di daerah perbatasan yang dihuni warga sipil.
Dikutip The Nation Thailand, Komandan Angkatan Darat Kerajaan Thailand melaporkan bahwa bentrokan pertama pecah pada Minggu (7/12/2025) di wilayah Phu Pha Lek–Phlan Hin Paet Kon, Distrik Kantharalak, Provinsi Si Sa Ket.
Pasukan Kamboja disebut menyerang lebih dulu, memicu respons dari unit darat Thailand berdasarkan aturan keterlibatan yang berlaku.
Pada Senin dini hari, situasi kembali memburuk di Chong An Ma, Distrik Nam Yuen, Provinsi Ubon Ratchathani.
Militer Kamboja melepaskan tembakan senjata ringan dan tembakan tidak langsung sekitar pukul 05.05 waktu setempat, kemudian melanjutkan serangan beberapa menit berikutnya.
Militer Thailand lantas membalas dengan jenis senjata serupa. Namun eskalasi meningkat ketika sekitar pukul 07.00 dimana unit Thailand di Chong Bok kembali diserang menggunakan senjata pendukung, menewaskan seorang tentara Thailand dan mencederai empat lainnya.
Menurut Mayor Jenderal Winthai Suvaree, insiden itu menjadi titik krusial yang memaksa Thailand mengaktifkan operasi udara, menerjunkan pesawat F-16 untuk menekan posisi artileri Kamboja yang dinilai menjadi sumber ancaman utama.
Melansir dari Nation Thailand , pesawat F-16 dikerahkan untuk memberikan dukungan udara jarak dekat kepada unit darat yang berada di garis depan.
Serangan udara tersebut difokuskan pada tiga lokasi yang dinilai memiliki peran penting dalam operasi militer Kamboja, yakni Chong An Ma, Prasat Khana, dan sebuah titik tiang radio di dekat area Preah Vihear.
Ketiga lokasi itu diyakini sebagai pos komando, pusat dukungan tembakan, serta jalur logistik yang digunakan untuk mengkoordinasikan serangan terhadap posisi Thailand di perbatasan.
RTAF menegaskan bahwa seluruh target yang diserang adalah instalasi militer yang memiliki fungsi langsung terhadap operasi pertempuran.
Tidak ada wilayah pemukiman warga yang dimasukkan ke dalam daftar sasaran.
Pihak angkatan udara menjelaskan misi dilakukan secara terukur dengan perencanaan ketat, mengikuti protokol keamanan internasional, serta mengutamakan pencegahan korban sipil.
“Penggunaan kekuatan udara dilakukan untuk menurunkan kemampuan tempur lawan ke tingkat minimal demi menjaga keamanan nasional dan melindungi warga sipil,” ujar juru bicara Angkatan Udara Kerajaan Thailand (RTAF) Jackkrit Thammavichai.
Hingga berita ini diturunkan, operasi udara dan pemantauan situasi perbatasan masih terus berlangsung. Pihak militer Thailand menyatakan akan melanjutkan langkah-langkah pertahanan selama ancaman terhadap wilayahnya belum mereda.
Di tengah meningkatnya intensitas tembakan lintas batas, Satuan Tugas Suranaree dan Satuan Tugas Burapha telah bergerak mengevakuasi penduduk dari zona merah di beberapa titik perbatasan.
Langkah evakuasi ini diambil setelah laporan intelijen dan pengamatan lapangan menunjukkan pergerakan militer Kamboja yang tidak biasa.
Thammavichai, mengungkapkan bahwa pasukan Kamboja telah memobilisasi persenjataan berat, menggeser unit-unit tempur ke area dekat perbatasan, serta memperkuat posisi dukungan tembakan.
Aktivitas tersebut dinilai sebagai tanda meningkatnya postur ofensif Kamboja yang dapat memicu operasi militer lebih besar dan membahayakan wilayah Thailand.
Sementara itu, juru bicara RTAF Marsekal Udara Jackkrit Thammavichai menyebut bahwa Kamboja telah memobilisasi senjata berat, memindahkan unit tempur, dan memperkuat posisi dukungan tembakan.
Aktivitas itu dinilai dapat memicu operasi militer berskala lebih besar dan membahayakan wilayah Thailand.
Oleh karena itu, evakuasi warga terus diperluas di beberapa titik, sementara operasi pemantauan udara dan respons militer tetap berlangsung untuk mencegah terjadinya eskalasi yang lebih besar.
Pemerintah Thailand menyatakan akan memberikan pembaruan lanjutan seiring perkembangan situasi di lapangan.
(Namira)