BANGAKPOS.COM -- Oknum polisi bunuh mahasiswi Probolinggo bernama Faradila Amalia Najwa (21).
Faradila Amalia Najwa merupakan mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Adapun sosok yang membunuh mahasiswi tersebut adalah Bripka AS.
Bripka AS ternyata adalah kakak ipar Faradila Amalia Najwa alias FAN.
Bripka AS merupakan anggota Provos Polsek Krucil.
Keluarga korban menduga motif pembunuhan yang dilakukan oleh oknum polisi ini karena harta.
Baca juga: Benarkah Lisa Mariana jadi Penyebab Atalia Praratya Gugat Cerai Ridwan Kamil? Namanya Masuk Gugatan
Menurut pengakuan keluarga yakni orang tua korban, memang hubungan keduanya di mata keluarga korban sama sekali tidak harmonis.
Bripka AS dan korban memiliki hubungan yang sangat tidak harmonis.
Begitupun juga antara terduga pelaku dengan kakak sulung korban.
FAN (21) merupakan anak bungsu dari pasangan suami istri (Pasutri) H. Ramlan (60) dan Siti (52).
Kakak sulung korban FAN (21) bernama Yanu (36) dan kakak kedua korban bernama Husna (34).
Husna (34) ini diketahui sebagai istri dari terduga pelaku yakni Bripka AS.
Faradila Amalia Najwa (21), mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditemukan tak bernyawa di sungai pinggir Jalan Raya Malang-Pasuruan, di depan Pabrik PT Satoria.
Jasad Faradila Amalia Najwa ditemukan dalam kondisi telentang di dasar sungai yang kering dengan posisi lutut kaki tertekuk.
Baca juga: Inilah Sosok Bolhassan, Bos Minyak Malaysia Beri Bantuan untuk Aceh Rp 777 Juta Lewat Gubernur Aceh
Korban berinisial FAN ini adalah warga Dusun Taman, Desa-Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo.
Saat ditemukan, kondisi pakaian korban masih lengkap.
Gadis tersebut mengenakan jaket hoodie, celana panjang, serta masih memakai helm berwarna pink di kepalanya.
Penemuan jasad ini kali pertama diketahui oleh seorang petani jagung yang hendak berangkat ke sawah sekira pukul 06.30 WIB.
Saat memarkir kendaraannya di sekitar jembatan, saksi melihat tubuh seorang perempuan berada di aliran sungai kecil dan tidak bergerak.
Saksi kemudian memanggil warga lain sebelum akhirnya melaporkan temuan tersebut ke Polsek Wonorejo.
Pihak kepolisian yang menerima laporan segera mengamankan lokasi dengan memasang garis polisi untuk keperluan penyelidikan.
Kapolsek Wonorejo, AKP Sugiyanto, mengatakan, petugas Inafis Polres Pasuruan langsung dikerahkan ke lokasi untuk melakukan identifikasi awal.
Karena tidak ditemukan kartu identitas seperti KTP atau barang bukti lainnya di sekitar korban, petugas melakukan pemeriksaan sidik jari guna mengenali identitas gadis tersebut.
Hingga pemeriksaan awal selesai, identitas korban belum diketahui secara pasti, namun dipastikan berjenis kelamin perempuan dan berusia masih muda.
Kasat Reskrim Polres Pasuruan, AKP Adimas Firmansyah, menjelaskan bahwa pengungkapan identitas ini berhasil dilakukan setelah tim Inafis mengidentifikasi sidik jari serta ciri fisik tertentu pada tubuh korban.
Salah satu ciri fisik menonjol yang ditemukan petugas adalah adanya tindik pada bagian pusar.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, korban bernama Faradila Amalia Najwa (21), kelahiran 15 April 2004, yang beralamat di Dusun Taman, Desa Tiris, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo.
Lebih lanjut, Adimas menyatakan bahwa korban merupakan putri dari pasangan Ramlan dan Siti.
Pihak kepolisian pun telah menjalin komunikasi dengan keluarga korban untuk keperluan pemeriksaan lebih lanjut sekaligus proses penyerahan jenazah kepada pihak keluarga.
Baca juga: Kekayaan Nadiem Makarim, JPU Disebut Perkaya Diri Sendiri Rp 809,5 M dalam Kasus Korupsi Chromebook
Saat ditemui wartawan Tribunjatim Network di rumah duka, ayah korban H. Ramlan mengungkapkan hubungan korban dan pelaku tidak harmonis.
H. Ramlan mengungkap jika hubungan anak sulung dan anak bungsunya dengan Bripka AS tidak harmonis sejak lama.
Bripka AS merupakan menantu H. Ramlan.
Terakhir berkomunikasi dengan korban, menurut Ramlan, itu 3 hari sebelumnya atau pada tanggal 14 Desember 2025.
Saat itu korban meminta untuk diisikan token listrik. Karena saat itu, korban berada di Malang.
"Sebelum anak saya ditemukan meninggal dunia, dari CCTV kos nya itu terlihat dijemput oleh ojol."
"Kemudian tahunya kalau anak saya meninggal dunia keluarga dihubungi Polres Pasuruan setelah identitasnya diketahui dari sidik jari," kata Ramlan, Rabu (17/12/2025).
Kapolsek Wonorejo AKP Sugiyanto, mengatakan, ada beberapa barang bukti yang diamankan dari meminta keterangan sejumlah saksi.
“Korban sudah dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Watukosek, Gempol, untuk keperluan pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.
Disampaikannya, pihaknya masih mendalami penyebab kematian korban, termasuk kemungkinan adanya unsur tindak pidana.
Informasi yang dihimpun surya.co.id, diperoleh penyebab kematian korban diduga karena pembunuhan.
Baca juga: Panglima TNI dan Kapolri Ditegur Prabowo Subianto, Anak Buah Rusak Hutan Sumatra: Tindak Aparat
Setelah mengetahui jika anak bungsunya ditemukan meninggal dunia dan berada di RS Bhayangkara Watukosek, Sidoarjo, Ramlan lantas menyuruh 2 sopir pribadinya dan Bripka AS yang saat itu sedang berada di rumahnya sendiri di Kecamatan Kraksaan.
"Sepeda motor anak saya dan helm nya itu tetap ada di kos nya dan anak saya sudah semester 3."
"Kalau dugaan keluarga karena memang ingin menguasai harta, mengingat anak saya ini kayak bendahara keluarga," jelas Ramlan.
"Terlebih lagi saat ditemukan, beberapa barang anak saya seperti HP dan dompet yang berisi ATM tidak ditemukan. Tapi ATM nya sudah diurus dan sudah diblokir," pungkasnya.
Sebelum ditangkap Tim Jatanras Polda Jatim, Bripka AS yang sekaligus ipar dari FAN (21), sempat disuruh oleh orang tua korban atau mertua Bripka AS untuk mendatangi Rumah Sakit Bhayangkara, Watukosek, Sidoarjo.
Bripka AS yang merupakan anggota Provos Polsek Krucil itu kemudian pergi dengan 2 sopir pribadi keluarga korban, yakni Samsul (40) dan Abdul (48).
Namun, ketiganya pergi menggunakan kendaraan masing-masing.
Setiba di RS Bhayangkara, sambil lalu menunggu hasil otopsi, Samsul sempat pergi ke warung sekitar untuk makan.
Tak berselang lama, datang Bripka AS bersama beberapa orang dari Polda Jatim.
"Ke saya bilangnya pergi sebentar karena masih ada urusan di Polda. Setelah makan, baru lah saya dapat kabar kalau dia (Bripka AS) ditangkap Tim Jatanras Polda Jatim," kata Samsul, Rabu (17/12/2025).
Penangkapan itu, menurut Samsul, lalu dikuatkan lagi dengan adanya rekaman CCTV di sekitar Tempat Kejadian Perkara (TKP) penemuan tubuh korban di Desa/Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan.
"Di rekaman CCTV yang tak jauh dari lokasi korban ditemukan itu menampilkan ada mobil tryton double kabin warna merah dop yang mondar mandir."
"Mobil itu memang milik yang bersangkutan karena dibelikan oleh abah (Ayah korban)," terang Samsul.
Usai ditangkap Polda Jatim, lanjut Samsul, dirinya sempat bertanya kepada petugas kamar jenazah dan menyatakan jika yang bersangkutan sempat masuk ke kamar jenazah namun tidak melihat tubuh korban.
"Cuma masuk ke kamar jenazah saja, tapi tidak sampai lihat atau buka kantong jenazah korban," pungkasnya.
Baca juga: Sosok dan Nasib 6 Polisi Keroyok Debt Collector hingga Tewas, Begini Respon Kapolri Jenderal Listyo
Kapolres Pasuruan AKBP Jazuli Dani Iriawan saat dikonfirmasi kabar penangkapan pelaku dalam kasus itu, belum memberikan kepastian.
“Kalau untuk perkmbangan kasus penemuan mayatnya, masih dalam penyelidikan kriminal umum Polda Jawa Timur,” katanya, Rabu (17/12/2025) pagi.
Humas Polres Pasuruan Iptu Joko Suseno pun juga menyatakan hal yang sama. “Kasusnya diambil alih Polda Jatim mas,” katanya saat dihubungi.
Di tubuh FAN (21) mahasiswi asal Probolinggo, Jawa Timur yang diduga dibunuh Bripka AS atau kakak iparnya banyak ditemukan lebam maupun memar setelah dilakukan otopsi.
Korban sendiri tiba di rumah duka di Dusun Krajan, Desa Ranuagung, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, pada Selasa (16/12/2025) sekitar pukul 21.20 WIB dan dikebumikan sekitar pukul 22.00 WIB.
Hal itu disampaikan oleh Samsul (40) sopir pribadi keluarga korban saat menerima hasil otopsi di Rumah Sakit Bhayangkara, Watukosek, Sidoarjo.
Pengakuan Samsul, setelah menerima hasil otopsi, baru diketahui jika dibagian leher ada bekas cekikan, bagian dahi ada bekas pukulan, di bagian nadi ada bekas tekanan dan di bagian paha ada bekas cubitan.
"Saya biasanya yang jemput dia (Korban) kalau mau pulang ke Probolinggo dan yang ngantarkan juga kalau mau balik. Jadi sama abah (Ayah korban) yang disuruh ke rumah sakit itu saya," kata Samsul, Rabu (17/12/2025).
Dari keterangan pihak kepolisian, lanjut Samsul, ada kejanggalan saat korban ditemukan.
Hal itu diketahui saat helm korban dibuka dan ternyata rambut hingga pipinya berlumuran lumpur, sedangkan helm yang dikenakan seperti baru beli.
Baca juga: Sosok Letjen TNI Purn Untung Budiharto, Eks Pangdam Jaya jadi Dirut PT Antam, Lulusan Akmil 1988
"Kalau helm nya sendiri masih ada di kos nya sama sepeda motornya. Mungkin, dipakaikan biar dikira jadi korban begal, terlebih lagi HP dan tas nya juga hilang," ungkap Samsul.
Korban, menurut Samsul, juga memiliki sifat pendiam dan perhatian.
Bahkan jika berada di rumahnya, korban jarang keluar rumah kecuali ingin membeli sesuatu di toko.
"Orangnya pendiam, tapi pemberani. Jarang sekali keluar rumah, paling cuma beli di toko dekat rumah."
"Kalau saya antarkan balik ke Malang, pasti selalu bertanya rokok saya ada apa tidak, dan sudah makan apa tidak," pungkasnya.
(Bangkapos.com/TribunProbolinggo.com/TribunJatim.com/Surya.co.id)