Masjid Agung Palembang Gelar Zikir dan Doa di Malam Tahun Baru untuk Korban Bencana Banjir Sumatera
January 01, 2026 10:32 AM

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG – Ribuan umat muslim di kota Palembang, Sumatera Selatan, zikir dan doa bersama di malam pergantian tahun 2025 ke 2026 di Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) Jayo Wikrama Palembang atau Masjid Agung Palembang, Rabu (31/12/2025).

Ini adalah sebagai bentuk refleksi diri atau muhasabah dan sebagai komitmen untuk tidak menggelar perayaan hura-hura.

Tradisi Ratif Saman, yakni zikir dan doa bersama ini dipandu Ustadz Kms H Andi Syarifuddin.

Sekretaris Umum Yayasan Masjid Agung Palembang, Kms H Iqbal Hasan Zainal, menegaskan bahwa Masjid Agung, secara prinsip tidak pernah mengadakan perayaan tahun baru.

Kegiatan yang dilakukan murni bersifat ibadah dan ajakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pelaksanaan zikir tahun ini terasa lebih khidmat dan penuh empati.

Selain sebagai momen pergantian tahun, acara ini juga didedikasikan sebagai bentuk solidaritas atas musibah bencana alam yang menimpa sejumlah wilayah di Sumatera, mulai dari Aceh, Sumatera Barat (Padang), hingga Sumatera Utara (Medan).

"Tahun ini, rangkaian zikir kita selipkan doa khusus untuk saudara-saudara kita di Aceh, Padang, dan Medan yang sedang tertimpa musibah. Kami ingin mengajak warga Palembang ikut bersimpati dan memohon perlindungan agar kita semua terhindar dari bencana," kata Iqbal.

Kegiatan ini dengan jadwal, Ba'da Isya: Persiapan dan pembukaan Pukul 21.00 WIB Pelaksanaan Ratif Saman yang dipandu oleh Ustadz Kms. H. Andi Syarifuddin.

Dan ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan warga Palembang.

Terkhusus bagi warga Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara yang kini sedang diuji oleh Allah SWT.

Langkah ini juga sejalan dengan imbauan Wali Kota Palembang, H Ratu Dewa, yang mengharapkan masyarakat mengisi malam pergantian tahun dengan kegiatan positif dan menunjukkan rasa simpati terhadap sesama.

Baca juga: Malam Tahun Baru di Palembang, Kambang Iwak Jadi Tempat Favorit Keluarga

Momen Mawas Diri

Antusiasme juga datang dari para jemaah.

Haryono, salah satu jemaah setia, menilai zikir kali ini memiliki makna ganda yang istimewa karena bertepatan dengan masuknya Bulan Rajab dalam kalender Hijriah.

"Zikir ini bukan sekadar rutinitas, tapi momen mawas diri. Secara filosofis, bulan Rajab adalah waktu untuk menanam benih amal, Syakban untuk menyiramnya, dan Ramadan adalah saat kita memanen hasilnya," ungkap Haryono.

Bagi umat Muslim di Palembang, memulai langkah di awal tahun Masehi dengan bersimpuh di Bulan Rajab dianggap sebagai cara terbaik untuk mempersiapkan ruhani menuju bulan suci Ramadan yang sudah di depan mata.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.