Peneliti Inggris Ungkap Rotasi Bumi Terus Melambat, Durasi Sehari Berpotensi 25 Jam
January 01, 2026 01:03 PM

 

SERAMBINEWS.COM - Para peneliti dari Durham University, Inggris, mengungkapkan bahwa rotasi Bumi mengalami perlambatan secara bertahap.

Temuan ini diperoleh dari analisis data astronomi jangka panjang yang menunjukkan perubahan tempo perputaran planet dari waktu ke waktu.

Rotasi Bumi merupakan gerakan planet berputar pada porosnya dari arah barat ke timur.

Dalam kondisi normal, satu kali putaran membutuhkan waktu sekitar 23 jam 56 menit 4 detik, yang kemudian dibulatkan menjadi 24 jam sebagai satu hari kalender.

Perputaran tersebut berlangsung pada sumbu imajiner yang miring sekitar 23,5 derajat terhadap bidang orbit Bumi saat mengelilingi Matahari.

Kemiringan inilah yang turut memengaruhi pergantian musim di berbagai belahan dunia.

Meski terus bergerak, rotasi Bumi tidak dirasakan secara langsung oleh makhluk hidup. Hal ini karena gaya gravitasi Bumi menjaga segala sesuatu tetap menempel di permukaan, sehingga pergerakan planet berlangsung stabil tanpa efek guncangan.

Secara ilmiah, rotasi Bumi dipengaruhi oleh momentum awal saat tata surya terbentuk.

Selain faktor internal seperti distribusi massa di dalam Bumi, tarikan gravitasi dari benda langit lain juga ikut berperan dalam menentukan kecepatan rotasi.

Rotasi inilah yang menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam. Wilayah Bumi yang menghadap Matahari mengalami siang hari, sementara bagian yang membelakangi Matahari berada dalam kondisi malam.

Selain itu, rotasi Bumi juga membuat Matahari tampak terbit dari arah timur dan terbenam di barat, sekaligus menjadi dasar pembagian zona waktu di seluruh dunia.

Dampak lainnya adalah munculnya gaya Coriolis, yang berpengaruh terhadap arah pergerakan angin dan arus laut di berbagai wilayah Bumi.

Baca juga: 10 Negara Ini Tak Rayakan Tahun Baru 1 Januari, Tetangga Indonesia Termasuk

Perubahan Waktu

Para peneliti Inggris mengatakan, pelambatan rotasi bumi membawa dampak perubahan waktu.

Nantinya, periode waktu menjadi 25 jam dalam sehari, dan bukan lagi 24 jam.

Dari data rekam fenomena alam semesta selama 2.735 tahun yang dikumpulkan tim peneliti tersebut, terlihat adanya perubahan tempo rotasi bumi.

Dari data tersebut, didapati periode sehari di bumi ternyata bertambah dua milidetik tiap abad, menandakan adanya perlambatan rotasi bumi secara gradual.

Hal itu terlihat dari adanya perubahan konsisten dari kalkulasi terlihatnya fenomena gerhana dari bumi.

"Itu artinya percepatan rotasi bumi selama ini berubah-ubah," jelas Leslie Morrison, astronom yang tergabung dalam tim penelitian itu, dilansir dari Tribun Pontianak.

Menurut Leslie Morisson, melambatnya rotasi bumi ini memungkinkan periode 24 jam dalam sehari bisa jadi bertambah.

Namun, masih butuh waktu yang cukup lama untuk pertambahan periode sehari itu benar-benar terasa dampaknya bagi kehidupan di bumi.

Sebab, untuk bertambah semenit saja, butuh waktu 6,7 juta tahun lagi, sehingga untuk menjadikan periode sehari menjadi 25 jam butuh waktu sekitar dua juta abad lagi.

Tim peneliti menyebut perubahan rotasi bumi ini bisa jadi dipengaruhi beberapa faktor, seperti perubahan permukaan kutub dan aktivitas elektromagnetik dari inti bumi.

Penyebab Utama Pelambatan Rotasi Bumi

Rotasi Bumi memang melambat secara bertahap seiring waktu, sehingga satu hari bisa menjadi lebih panjang dari 24 jam, meski mencapai 25 jam memerlukan skala waktu jutaan tahun.

Dilansir dari laman National Geographic, gesekan pasang surut dari Bulan dan Matahari menjadi faktor dominan, di mana tarikan gravitasi Bulan menyebabkan deformasi lautan dan kerak Bumi yang menghambat rotasi seperti rem alami.

Proses ini membuat Bulan perlahan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun, sambil memperlambat putaran Bumi sekitar 2,3 milidetik per abad.

Perubahan distribusi massa akibat aktivitas manusia seperti pencairan es kutub (Greenland dan Antartika) memindahkan air ke ekuator, mirip penari balet yang merentangkan tangan untuk memperlambat putaran.

Gempa bumi besar, pergerakan lempeng tektonik, dan dinamika inti Bumi (seperti perlambatan inti dalam sejak 2010 akibat turbulensi inti luar cair) juga berkontribusi, meski efeknya kecil seperti sepersekian detik per hari.

Secara historis, hari purba hanya 6-8 jam 4,5 miliar tahun lalu; sekarang memakan 1,7 milidetik lebih lama per abad. 

Perlambatan ini memerlukan penyesuaian jam atom global, tapi tidak terasa sehari-hari berkat gravitasi yang stabil.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.