TRIBUNTRENDS.COM - Kasus dugaan pelecehan yang dilakukan oknum dosen Universita Manado (Unima) terhadap mahasiswi bernama Evia Maria Mangolo hingga menyebabkan korban depresi sampai putuskan akhiri hidup tengah jadi sorotan.
Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Unima ini ditemukan tak bernyawa di kamar kosnya di Kaaten, Kelurahan Matani Satu, Kota Tomohon, Sulawesi Utara.
Sebelum meninggal dunia, Maria ternyata sempat menuliskan surat pengaduan atas tindakan pelecehan yang ia terima.
Surat tersebut ditujukan kepada Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi UNIMA, Dr. Aldjon Dapa, M.Pd.
Di dalamnya, Maria menuliskan laporan dugaan pelecehan seksual yang ia alami, dengan terduga pelaku seorang dosen berinisial DM.
Dalam surat itu, korban memaparkan kronologi kejadian secara rinci.
Baca juga: Sisi Gelap Dosen UNIMA yang Diduga Lecehkan Maria Dibongkar Alumni: Suka Bahas Hal Intim di Kelas
Ia menuliskan bagaimana peristiwa tersebut berdampak besar terhadap kondisi psikologisnya, menimbulkan rasa takut, trauma, dan tekanan mental yang terus menghantui.
Salah satu pengakuan yang paling menyita perhatian publik adalah ketika korban mengungkap permintaan tidak pantas dari dosen tersebut.
"Pada hari Jumat tanggal 12 Desember, sekitar jam satu siang Mner Danny chat ke saya.
Beliau bertanya kepada saya kalau saya bisa urut ke dia. Saya jawab, ‘Maria tidak tau ba urut Mner’.
Mner bilang, ‘Mener capek sekali’. Dalam pikiran saya itu bukan hak saya untuk melayani dia seperti itu,” tulis Evia Maria Mangolo, sebagaimana dikutip TribunTrends, Kamis, (1/1/2026).
Dalam surat pengaduannya, korban mengungkap tekanan batin yang ia rasakan.
“Kejadian tersebut masih dalam lingkup kampus FIPP. Dampak yang saya rasakan adalah trauma dan ketakutan.
Setiap bertemu DM, saya merasa malu jika ada mahasiswa yang melihat saya naik atau turun dari mobilnya karena bisa menjadi bahan pembicaraan.
Saya merasa tertekan dengan masalah ini,” tulisnya.
Pengakuan ini menegaskan bahwa beban psikologis yang dialami korban bukanlah perkara ringan, terlebih karena peristiwa tersebut terjadi di lingkungan akademik yang seharusnya menjadi ruang aman.
Baca juga: Alumni UNIMA Bongkar Borok Dosen yang Lecehkan Maria: 10 Tahun Lalu Saya Kuliah, Pelakunya Juga Dia!
Dosen DM yang dituduh melakukan pelecehan terhadap Maria memiliki akun Instagram dengan 313 pengikut.
Dari pantauan Tribun Trends, akun tersebut telah lama tidak aktif.
Unggahan terakhirnya dibuat pada 27 Agustus 2015, di mana ia memamerkan foto bersama seorang wanita yang diduga adalah istrinya.
Dalam akun tersebut, sang dosen memang kerap mengunggah potret bareng keluarga.
Di foto-foto yang ditampilkan, ia memiliki seorang istri dan dua anak, satu laki-laki, satu perempuan.
Namun tidak diketahui identitas dari keluarganya.
Akun Instagram sang dosen yang diburu begitu namanya disangkutkan dengan Evia Maria.
Unggahannya terakhirnya dibanjiri teror berupa kecaman terhadap dugaan pelecehan yang ia lakukan.
Kasus yang menimpa Evia Maria membuat alumni PGSD Unima ikut marah.
Seorang alumni bernama Wulandari Albarzanji ikut buka suara melalui unggahan Instagramnya pada Selasa (30/12/2025).
Wulan mengaku sangat marah ketika pertama kali mendengar kabar soal Evia Maria.
"Halo semua, saya Wulan alumni PGSD Unima. Hari ini saya marah sekali. Kita dapat kabar ada mahasiswa Unima semester akhir nekat bunuh diri karena mengalami pelecehan seksual oleh dosen yang ada di PGSD Unima," ungkapnya.
Ia juga kaget ketika membaca nama dosen yang dimaksud oleh Evia.
Baca juga: Profil Maria Eleanor Alias Lidya Pratiwi, Artis Terlibat Pembunuhan Berencana Kini Jadi Youtuber!
Dalam surat terakhirnya, Evia Maria memang menuliskan nama panjang dosen yang melecehkannya.
Menurut Wulan, nama tersebut sama dengan nama atas kejadian serupa 10 tahun yang lalu.
"Ternyata, ini adalah sosok dosen yang sama dari kurang lebih 10 tahun lalu saya menjadi mahasiswa di sana, yang masih berkeliaran di sekitaran kampus.
Sebelum mengakhiri hidupnya korban meninggalkan surat kronologis pelecehan yang si dosen yang namanya sama dengan yang sering kita dengar melakukan hal tersebut dari 10 tahun lalu," tambah Wulan.
Ia lantas meminta semua pihak, terutama alumni untuk ikut mengawal kasus ini.
"Kita sama-sama harus mengawal kasus ini. Kita harus sama-sama putus mata rantai ini karena sudah ada korban. Saya yakin mungkin teman-teman dulu ingin juga bersuara, tapi takut.
Hari ini sudah ada korban adik kita yang memilih untuk mengakhiri hidupnya karena depresi.
Jangan lagi ada mahasiswa-mahasiswa seperti itu. Jangan lagi ada yang dilecehkan dengan berkedok nilai."
Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Minahasa Rian Salu, mengatakan kasus tersebut harus diusut tuntas.
"Kasus tersebut bukan peristiwa tunggal, oknum dosen tersebut telah melakukan hal itu selama bertahun-tahun," kata Riand Salu, Rabu (31/12/2025).
Baca juga: Fakta-fakta Pembunuhan Maria WNA Spanyol di Senggigi Lombok, 2 Pelaku Nekat, Incar Harta Buat Judol
Riand mengatakan tak ada sanksi tegas yang diberikan oleh pihak kampus selama ini.
“Ini adalah kegagalan serius institusi. Ketika kekerasan seksual dibiarkan dan sanksi dijatuhkan setengah hati, korbanlah yang menanggung dampak paling tragis,” tegas Riand.
GMNI Minahasa mendesak penanganan kasus secara transparan, penjatuhan sanksi tegas terhadap pelaku sesuai hukum, serta evaluasi menyeluruh sistem penanganan kekerasan seksual di UNIMA.
"Kampus harus bertanggung jawab, memastikan ruang pendidikan yang aman dan manusiawi," lanjutnya.
Riand Salu berharap agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
“Tidak boleh ada lagi pembiaran. Kampus harus berpihak pada korban dan keadilan,” tutupnya. (Tribun Trends/GPS)