Tantangan Bank Kalsel di 2026, Perekonomian Global Fase Pemulihan, Tingkat Ketidakpastian Tinggi
January 01, 2026 03:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Bank Kalsel mencermati bahwa perekonomian global masih diwarnai ketidakpastian, namun Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif kuat. 

Direktur Utama Bank Kalsel, Fachrudin, menyatakan, pada 2026 ini Bank Kalsel mengambil langkah yang terukur dan penuh kehati-hatian dengan tetap menjaga optimisme terhadap pertumbuhan yang berkelanjutan, sejalan dengan peran kami sebagai Bank Pembangunan Daerah yang mendukung perekonomian Kalimantan Selatan.

"Pertumbuhan global diproyeksikan moderat, dipengaruhi oleh fragmentasi perdagangan, tensi geopolitik, serta normalisasi kebijakan moneter negara maju," katanya.

Di tengah kondisi global tersebut, perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif kuat dengan pertumbuhan stabil di kisaran 5 perssn. 

"Konsumsi rumah tangga, pengendalian inflasi, serta sinergi kebijakan fiskal–moneter menjadi penopang utama stabilitas nasional. Sementara itu, sektor perbankan nasional tetap solid, meskipun menghadapi tantangan berupa pengetatan likuiditas dan tekanan margin," jelas Fachrudin.

Lebih lanjut dijelaskan, bagi Bank Pembangunan Daerah (BPD), tahun 2026 membawa tantangan spesifik, antara lain penyesuaian kebijakan fiskal daerah, kebutuhan penguatan modal inti, serta tuntutan efisiensi dan transformasi digital. Kondisi ini menjadi dasar bagi Bank Kalsel untuk memperkuat fundamental, menjaga kehati-hatian, dan mengarahkan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Proyeksi Kinerja di 2026 dalam proyeksi tahun 2026, Bank Kalsel menargetkan pertumbuhan Aset sebesar 6,70 persen persen (YoY),Dana Pihak Ketiga tumbuh 6,01 persen (YoY), sedangkan Kredit dan Pembiayaan Bank Kalsel ditargetkan tumbuh 8,06 persen (YoY). 

"Dari aktivitas dan ekspansi bisnis bank yang akan dilakukan di tahun 2026, ditargetkan laba bank tumbuh 7,26 persen dan modal inti tumbuh 8,12 persen," kata Fachrudin.

Potensi Bisnis Bank Kalsel Tahun 2026 Dengan mempertimbangkan lanskap ekonomi global, nasional, dan regional, Bank Kalsel menetapkan target bisnis tahun 2026 secara realistis namun progresif, sebagaimana tertuang dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026–2028.

Fokus utama diarahkan pada pertumbuhan kredit yang sehat, terutama pada sektor produktif, penguatan Dana Pihak Ketiga (DPK) dengan strategi peningkatan dana murah (CASA).

Peningkatan profitabilitas dan efisiensi, melalui optimalisasi pendapatan bunga dan fee based income. 

Ceruk pasar prioritas Bank Kalsel meliputi segmen ASN dan pensiunan, UMKM lokal, sektor produktif unggulan daerah, ekosistem pemerintah daerah, serta pembiayaan berkelanjutan (green finance). 

Strategi ini menegaskan peran Bank Kalsel sebagai motor intermediasi keuangan daerah dan mitra utama pembangunan Kalimantan Selatan.

Pengembangan operasional dan digitalisasi Bank Kalsel tahun 2026 ditetapkan sebagai fase akselerasi pengembangan operasional dan digitalisasi Bank Kalsel. Langkah ini ditempuh untuk menjawab perubahan perilaku nasabah, perkembangan teknologi, serta kebutuhan layanan yang semakin cepat dan efisien.

Arah pengembangan meliputi modernisasi proses operasional dan penyempurnaan SOP layanan. Akselerasi digital banking, termasuk peningkatan layanan mobile banking dan integrasi sistem.

Penguatan infrastruktur teknologi informasi dan keamanan data, kesiapan menuju Bank Devisa, melalui penguatan SDM, sistem, dan manajemen risiko transaksi internasional.

Seluruh pengembangan ini diselaraskan dengan RBB 2026–2028 untuk memastikan efisiensi operasional, peningkatan kualitas layanan, dan daya saing Bank Kalsel secara berkelanjutan.

Tata Kelola dan Penguatan SDM Bank Kalsel terus memperkuat penerapan Good Corporate Governance (GCG) sesuai dengan regulasi terbaru, termasuk penyesuaian terhadap POJK terkini. 

Penguatan dilakukan pada aspek transparansi, akuntabilitas, manajemen risiko, dan integritas organisasi.

Selain itu, Bank Kalsel meningkatkan penguatan APU PPT dan pencegahan kejahatan keuangan. Kesiapan ketahanan siber melalui penguatan sistem keamanan dan pengawasan digital.

Strategi pengembangan SDM tahun 2026, meliputi talent acquisition, reposisi frontliner, sertifikasi kompetensi, serta pengembangan Learning Center digital.

Penguatan tata kelola dan SDM ini menjadi fondasi penting dalam menjaga kepercayaan publik dan memastikan keberlanjutan bisnis Bank Kalsel.

Bank Kalsel akan terus memperkuat fundamental bisnis, tata kelola, serta kualitas sumber daya manusia, sekaligus mengakselerasi pengembangan operasional dan digitalisasi. 

"Dengan arah bisnis yang realistis namun progresif, kami optimistis Bank Kalsel dapat menjaga kinerja yang sehat, meningkatkan daya saing, dan menjalankan peran strategis sebagai mitra utama pemerintah daerah dan masyarakat dalam mendorong pembangunan ekonomi Kalimantan Selatan yang berkelanjutan,” tutup Fachrudin.

Komisaris Utama Non Independen, Subhan Nor Yaumil, yakini bahwa pertumbuhan Bank Kalsel meningkat tahun ini, di antaranya didukung kredit yang lebih baik. 

"Pertumbuhan kredit yang baik namun memerhatikan kehatian-hatian. Kami sebagai komisaris juga mengawasi dan mengevaluasi untuk meningkatkan kredit ini," kata Subhan.

Mengenai bank devisa, Subhan mengatakan, perizinan masih berproses dan semoga dalam waktu tak terlalu lama mendapat izin OJK dan direksi menindaklanjuti tahap selanjutnya. (AOL)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.