AS Bantah Klaim Rusia soal Drone Ukraina ke Rumah Putin, Tudingan Dinilai Upaya Gagalkan Perdamaian
January 01, 2026 04:47 PM

TRIBUNGORONTALO.COM – Klaim Rusia yang menuduh Ukraina menyerang kediaman pribadi Presiden Vladimir Putin dengan drone mulai diragukan.

Amerika Serikat, Ukraina, dan Uni Eropa secara terbuka membantah tudingan tersebut dan menilainya sebagai manuver politik yang berpotensi menggagalkan upaya perdamaian menjelang pergantian tahun.

Isu ini mencuat setelah Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Senin menuding Ukraina mengerahkan puluhan drone untuk menyerang rumah Putin di wilayah Novgorod, Rusia utara.

Baca juga: Modus Towing, Sabu 100 Kg Nyaris Beredar Saat Malam Tahun Baru

Lavrov menyebut insiden itu sebagai alasan Moskow untuk meninjau ulang posisi negosiasinya dalam perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat.

Namun, temuan pejabat keamanan nasional AS justru menyatakan sebaliknya.

Laporan Wall Street Journal menyebut penilaian intelijen Amerika, termasuk analisis CIA, menyimpulkan Ukraina tidak menargetkan Putin maupun kediamannya dalam serangan drone.

Hingga kini, Reuters menyebut belum ada bukti independen yang menguatkan klaim Rusia tersebut.

Presiden AS Donald Trump sempat menunjukkan empati terhadap pernyataan Putin.

Baca juga: Tahun Baru di Pengungsian, Prabowo Janji Perusak Alam Akan Ditertibkan Habis

Ia mengaku mendapat laporan langsung dari Presiden Rusia dan menyebut Putin “sangat marah” atas dugaan serangan itu.

Namun sikap Trump berubah beberapa hari kemudian.

Pada Rabu, Trump membagikan editorial New York Post di media sosial yang justru menuding Rusia menghambat perdamaian Ukraina.

Seorang sumber yang mengetahui persoalan ini menyebut perubahan sikap Trump terjadi setelah ia mendapat penjelasan dari Direktur CIA John Ratcliffe terkait tuduhan Rusia tersebut.

Ukraina: Tuduhan Rusia Bentuk Disinformasi

Pemerintah Ukraina secara tegas membantah telah melancarkan serangan drone ke rumah Putin.

Kyiv menyebut klaim Moskow sebagai kampanye disinformasi yang bertujuan merusak hubungan Ukraina dan Amerika Serikat.

Tuduhan itu disebut muncul tak lama setelah pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Florida Selatan.

Pertemuan tersebut sebelumnya digambarkan kedua pihak berlangsung hangat dan produktif.

Dalam dokumen pengarahan yang dibagikan Ukraina kepada delegasi Uni Eropa dan diperoleh Reuters, Kyiv menilai tudingan Rusia dirancang untuk “menyabotase” kesepakatan awal yang tercapai dalam pertemuan Trump–Zelenskyy.

Kepala Diplomat Uni Eropa, Kaja Kallas, juga merespons keras klaim Rusia. Ia menyebut tudingan tersebut sebagai “pengalihan perhatian yang disengaja”.

“Tidak seorang pun seharusnya menerima klaim tak berdasar dari pihak agresor yang sejak awal perang telah menyerang infrastruktur dan warga sipil Ukraina secara membabi buta,” tulis Kallas melalui media sosial X.

Bukti Rusia Dinilai Janggal

Hingga Rabu, belum ada konfirmasi independen mengenai serangan drone ke kediaman Putin.

Meski demikian, Kementerian Pertahanan Rusia merilis video yang diklaim menunjukkan sisa-sisa drone Ukraina yang berhasil dijatuhkan.

Dalam video tersebut, Mayor Jenderal Alexander Romanenkov menyebut drone jenis Chaklun-V membawa bahan peledak 6 kilogram namun gagal meledak.

Ukraina langsung menepis tayangan itu dan menyatakan “sangat yakin” tidak ada serangan yang terjadi.

Ukraina juga menyoroti adanya kejanggalan dalam pernyataan pejabat Rusia.

Dalam beberapa jam setelah dugaan insiden, sejumlah pejabat Moskow mengeluarkan pernyataan publik yang hampir identik, yang dinilai Kyiv mengindikasikan adanya koordinasi sebelumnya.

Selain itu, warga di sekitar lokasi kediaman Putin di Novgorod dilaporkan media lokal tidak mendengar suara sistem pertahanan udara pada malam yang disebut sebagai waktu serangan.

Pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia pun dinilai tidak konsisten.

Awalnya Rusia menyebut 89 drone Ukraina dicegat di berbagai wilayah, termasuk 18 di Novgorod, tanpa menyebut kaitan dengan rumah Putin. 

Sehari kemudian, jumlah itu berubah menjadi 91 drone yang diklaim seluruhnya menuju kediaman Putin.

Situasi ini menegaskan betapa isu dugaan serangan drone tersebut bukan sekadar soal militer, melainkan juga pertarungan narasi politik di tengah upaya mencari jalan damai atas perang Ukraina yang telah berlangsung hampir empat tahun. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.