TRIBUNJATIM.COM - Pemilihan Imam Masjid di London belakangan disoroti lantaran pemenangnya adalah Warga Negara Indonesia.
Di antara puluhan pelamar dengan kompetensi menawan, nama Muhammad Fahmi Reksa Alfarisi justru muncul sebagai kandidat terpilih Imam Masjid di Indonesian Islamic Centre London.
Mengenyam didikan pesantren selama 13 tahun, Fahmi berhasil mendapatkan kesempatan emas untuk menjadi imam masjid di Indonesian Islamic Centre London.
Muhammad Fahmi Reksa Alfarisi baru-baru ini berbagi cerita tentang pengalamannya itu.
Fahmi mengenyam pendidikan di pesantren 13 tahun lalu dilanjutkan dengan berkuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung mengambil Jurusan Hukum menjadi alasan mengapa dirinya dapat mengungguli kandidat imam lainnya.
“Pada awalnya ada sekitar 32 kandidat. Setelah melalui beberapa tahapan, hanya empat orang yang masuk ke tahap wawancara dan pemaparan grand design. Ketika keputusan akhir diumumkan, saya benar-benar terkejut,” kenang Fahmi menukil laman Kemenag, Rabu (31/12/2025).
Menurut Fahmi, kemampuan hafalan al-Qur’an dan penguasaan khazanah keislaman yang dimiliki kandidat lain jauh lebih mendalam dibanding dirinya.
Baca juga: Tetangga Ungkap Alasan Ayah Tinggalkan Bayi Usia 6 Bulan di Kamar Kos Sendirian
Namun, takdir membawanya berdiri di mimbar sebuah masjid yang memiliki makna istimewa: masjid pertama milik Indonesia di London.
Bagi Fahmi, amanah tersebut merupakan kelanjutan dari perjalanan intelektual dan spiritual yang panjang. Latar belakang pesantren yang dimilikinya tidak serta merta menjadi klaim kesiapan dirinya.
Ia merasa keilmuan yang ia peroleh belum cukup untuk menjawab kebutuhan umat dan tantangan zaman secara komprehensif.
“Namun Alhamdulillah, setidaknya itu menjadi titik awal yang kuat, sebuah pondasi untuk berpijak,” tuturnya.
Berdiri di tengah aktivitas Indonesian Islamic Centre London menempatkan Fahmi pada persimpangan antara identitas, tradisi, dan keberagaman.
Baca juga: Habis Rp 15 Juta untuk Modal, Budi Kecewa Terompet Buatannya Tak Laku Lagi saat Tahun Baru
Masjid tersebut merupakan rumah spiritual bagi masyarakat Indonesia di Inggris, sekaligus ruang ibadah bagi jamaah dari berbagai latar budaya dan kebangsaan. Fahmi mengakui bahwa tanggung jawab ganda ini penuh makna sekaligus menantang.
“Di satu sisi, ada kewajiban untuk menjaga dan merepresentasikan tradisi keagamaan Indonesia serta melayani jamaah Indonesia. Di sisi lain, kami juga dituntut untuk responsif terhadap komunitas Muslim yang lebih luas dan sangat beragam,” ungkapnya.
Perbedaan yang kerap muncul seperti dalam praktik ibadah sehari-hari dipandang sebagai peluang, bukan hambatan.
Menurutnya, dalam konteks tersebut, perbedaan tidak memisahkan. Akan tetapi menjadi ruang untuk saling berbagi pengetahuan serta menguatkan pemahaman.
Menjadi seorang minoritas di London turut mengubah cara pandangnya. Alih-alih sibuk berdebat soal siapa yang paling benar, Fahmi justru berfokus pada upaya menghadirkan ruang ibadah yang damai dan inklusif.
Di tengah komitmen akademik dan tanggung jawab keagamaan, Fahmi menyimpan harapan untuk masa depan.
Ia membayangkan mahasiswa lain dari Program Dual Degree UIII–SOAS dapat melangkah ke peran serupa, melanjutkan apa yang ia sebut sebagai “estafet dakwah” yang merupakan mata rantai pengabdian dan komitmen.
“Kebutuhan akan terus bertambah. Dan pelayanan terbaik harus senantiasa diupayakan bagi jamaah dan masyarakat luas,” tegasnya.
WNI yang diberi kesempatan menempuh pendidikan di London tampaknya memang kerap menarik perhatian.
Beberapa waktu lalu juga terekam kisah seorang mahasiswi yang berkuliah di London.
Alih-alih meneruskan karirnya setelah mendapat kesempatan berkuliah di London menggunakan beasiswa LPDP, wanita ini jadi sorotan.
Galih Sulistyaningra memilih untuk mengabdi kepada dunia pendidikan di tanah air.
Galih Sulistyaningra, seorang wanita lulusan S2 London yang baru-baru ini viral.
Galih Sulistyaningra memutuskan kembali ke Indonesia setelah lulus S2 London.
Diketahui, Galih Sulistyaningra kuliah S2 di London dengan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Setelah lulus S2, Galih Sulistyaningra pun memilih menjadi guru SD di Tanah Air.
Keputusannya ini sontak menuai sorotan dari netizen.
Tak sedikit netizen memuji Galih Sulistyaningra yang memilih pulang untuk mengabdi jadi guru di Tanah Air.
Cerita Galih Sulistyaningra kembali ke Tanah Air setelah lulus S2 dibagikan melalui akun Instagramnya @galihtyanr.
Baca juga: Mahasiswa Tersenyum, Kuota Beasiswa LPDP Ditambah, 7 Ribu Peserta Bisa Kuliah Gratis ke Luar Negeri
Di video yang ia unggah, Galih menunjukkan momen ketika dirinya berada di London.
Tertulis caption "Lulusan beasiswa LPDP S2 London pulang ngapain?" pada video tersebut.
Setelah itu, videonya beralih ke momen saat dirinya menjadi seorang guru SD.
Galih mencuri perhatian internet setelah memajang kisah hidupnya tersebut.
"Karena S1 aku Pendidikan Guru SD, maka aku kembali dan menjadi guru SD.
Padahal kalau mau jujur, bukan itu rencana awalnya. Tapi ternyata memang aku butuh menjadi Guru SD Negeri terlebih dahulu untuk paham konteks dan masalah akar rumput, dan tanpa sadar memberi pengaruh untuk teman-teman lain.
Setelah ku ingat kembali, ternyata ini jalanku mewujudkan apa yang kupresentasikan saat wawancara dengan panelis LPDP: mengintegrasikan pembelajaran kontekstual dan bermakna di sekolah-sekolah negeri.
Siapa sangka ternyata tercapai dengan menjadi guru SD negeri itu sendiri, bukannya pembuat atau pemangku kebijakan atau NGO.
Tapi malah aktor utama dan garda paling depan, penentu kualitas pembelajaran. Hidup memang lucu terkadang," ujarnya.
Galih kembali ke Indonesia pada tahun 2019 lalu dan langsung ikut seleksi CPNS.
Baca juga: Gagal 118 Kali, Guru di Pontianak Akhirnya Dapat Beasiswa LPDP, Dulunya Tukang Parkir, Saya Gali
"Aku pulang di tahun 2019, dan saat itu langsung ikut CPNS formasi S1 guru SD atas kemauan kuat dari orang tua yang juga guru, yang ternyata masih memaknai kesuksesan anak sebagai seorang abdi negara.
Walau itu artinya mengikhlaskan dan mengarsipkan dulu ijazah S2ku dan merelakan pendapatan yg menurun jauh dari yang sebelumnya kuterima.
Namun orientasiku yang masih lajang kala melamar waktu itu tentu berbeda dengan kini yang menjadi ibu," imbuhnya.
Di video tersebut, Galih juga mengungkapkan berbagai hal yang ia ajarkan pada murid-muridnya.
Baca juga: Sosok Hilmy Mahasiswa Unair, CEO dan Founder Analitica, Wakili Jatim Raih Juara 4 LPDP Fest
Di antaranya adalah pencegahan kekerasan seksual, prinsip steam, kesetaraan gender, empati dan nilai-nilai kemanusiaan.
Video Galih ini mengundang berbagai macam komentar dari netizen.
Banyak netizen memuji keputusannya kembali ke Indonesia.
"Pada akhirnya memang benar kata2 orang bijak, mimpi dan visi jangan kita titipkan pada profesi, tapi pada masalah. Masalah pendidikan di Indonesia tak lekang oleh waktu, gak akan ada abisnya, perlu direspons dari berbagai angle, melalui berbagai profesi. You are an inspiration already Bu Galih ," tulis akun @barrysianturi.
"Ibu guru yang punya pengalaman luas akan membawa murid nya kesempatan dan peluang yang lebih besar. Terima kasih Bu Galih yang pergi jauh dan pulang kembali untuk mengabdi," tulis akun @gloriamfp.