Bupati Manggarai Dapat Kado Spesial Tahun Baru Bersama 10 Bupati/Wali Kota Pro Kebudayaan
January 01, 2026 06:47 PM

 

 

TRIBUNFLORES.COM,JAKARTA-Saat merayakan malam Tahun Baru 2026 bersama warga di daerahnya masing-masing, 10 bupati/wali kota di berbagai provinsi, mendapat kado spesial dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat. 

Kado itu, menurut Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat Yusuf Susilo Hartono berupa pengumuman babak presentasi, yang merupakan babak terakhir dari serangkaian proses untuk mendapatkan Anugerah Kebudayaan PWI Pusat pada puncak perayaan Hari Pers Nasional, di Banten, 9 Februari 2026.

Dewan Juri AK PWI - HPN 2026 terdiri 5 orang, berasal dari dalam dan luar PWI Pusat , yakni  Dr. Nungki Kusumastuti (Dosen IKJ, penari dan artis film), Agus Dermawan T (pengamat dan penulis seni budaya, penerima Anugerah Kebudayaan RI), Sudjiwo Tejo (seniman, budayawan, mantan wartawan, anggota Tim Pakar PWI Pusat), Akhmad Munir (Dirut LKBN Antara, Ketua Umum PWI Pusat periode 2025-2030), dan Yusuf Susilo Hartono (Wartawan senior, pelukis dan penyair, Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat.

 

 

 

• Kedutaan Besar Spanyol Minta Pencarian 3 Warganya Dilanjutkan

 

 

 

 

 

 

 

Ke-10 kepala daerah tersebut, terdiri tiga wali kota masing-masing Wali kota Malang Provinsi Jawa Timur Wahyu Hidayat, Wali kota Samarinda Kalimantan Timur Andi Harun dan Wali kota Mataram NTB Mohan Roliskan. 

Adapun tujuh yang lain para bupati, masing-masing Bupati Lampung Utara Provinsi Lampung Harmartoni Ahadis, Bupati Temanggung Jawa Barat Agus Setiawan, Bupati Manggarai Heribertus Geradus Laju Nabit, Bupati Blora Jawa Tengah Arief Rohman, Bupati Labuhanbatu Sumatera Utara  Maya Hasmita, Bupati Manokwari Papua Barat Hermus Indou dan Bupati Padang Pariaman Sumatra Barat John Kenedy.

Inklusif dan Berkelanjutan

Yusuf menambahkan, waktu presentasi akan berlangsung tanggal 8-9 Januari 2026. Pada hari pertama, didahului dengan silaturahmi para bupati/wali kota dengan Pengurus PWI Pusat dan para tokoh pers, ditutup dengan pengundian nomer urut dan foto bersama untuk kepentingan buku acara. Kemudian pada hari kedua, presentasi berdasarkan nomor urut yang ada. 

“Dalam presentasi itu nanti, Dewan Juri akan mendalami sesuai topik yang diajukan. Aspek penilaiannya meliputi penguasan materi, gaya dan tehnik presentasi, dan sarana atau peraga pendukung,” tuturnya.

Ia menekankan saat presentasi, bupati/walikota dibolehkan membawa rombongan yang terdiri dari kepala dinas terkait, tokoh masyarakat dan pengurus PWI Provinsi/Kota/Kabupaten. 

“Akan tetapi mereka tidak boleh membantu bicara. Hanya sebagai saksi,” tambahnya.

AK PWI Pusat 2026 mengangkat tema “Pemajuan Kebudayaan daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan, Berbasis Media dan Pers”. Dari tiga sub tema yang ditawarkan, kebanyakan buati/wali kota memilih sub-tema “Penguatan keragaman ekspresi budaya dan interaksi budaya inklusif”. Melalui potensi budaya masing-masing, yang terkait dengan 10 Objek Pemajuan Kebudayaan, yang ada dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dalam menilai, “Dewan Juri, menyoroti aspek inovasinya apa, dan dampaknya sejauh mana pada masyarakat lokal, nasional dan global,” tandasnya.

Wartawan dan Komunitas 
Lebih jauh Yusuf menjelaskan, AK PWI Pusat telah berlangsung sejak HPN 2016 di Lombok, NTB. Dari sekitar 50 bupati/walikota “alumni” Anugerah Kebudayaan PWI Pusat ini, antara lain Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang kini jadi Gubernur Jawa Barat, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas kini mantan Menteri PANRB, Wali kota Surabaya Eri Cahyadi. Ada pula yang dianulir karena tertangkap KPK.

Pada tahun kesepuluh ini, selain kategori bupati/wali kota, ditambah satu kategori rintisan, yaitu “Wartawan dan Komunitas”. Kategori ini menitik beratkan pada kinerja jurnalistik dan kegiatan seni budaya yang digeluti paling kurang selama 10 tahun, dengan dampaknya nasional hingga internasional. Mereka mendaftar dengan mengirim proposal, CV, copy kartu pers, bukti tulisan, foto/video kegiatan, dan piagam-piagam. Selain dari bebagai daerah di Pulau Jawa, pesertanya juga dari Pulau Sumatra. 

Dewan Juri telah menetapkan tiga wartawan senior yang akan menerima penghargaan ini. Masing-masing Rahmi Hidayati (Tangsel)  mantan wartawan Bisnis Indonesia,yang berkiprah sebagai Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) yang tutut perempuan mengangkat kebaya meraih warisan tak benda dunia UNESCO. Seno Joko Suyono (Jakarta/Bekasi), mantan wartawan Tempo, dengan komunitas Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF), dan Henri Nurcahyo (Surabaya) penggerak komunitas Panji dengan jaringannya sampai Asia dan internasional, serta turut berjuang sehingga Panji meraih warisan dunia tak benda dunia UNESCO. 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.