BANGKAPOS.COM -- Di tengah keluhan warga soal infrastruktur yang tak kunjung tersentuh, muncul sosok Mat Yasin, warga Madura yang memilih bertindak nyata.
Tanpa menunggu anggaran pemerintah, ia rela menguras tabungan pribadinya hingga Rp2 miliar demi membangun jalan desa yang telah puluhan tahun terbengkalai.
Jalan yang dibangunnya berada di Desa Madulang, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.
Selama hampir 40 tahun, akses tersebut rusak parah dan nyaris luput dari perhatian.
Baca juga: Tarif Listrik Per KWH Bulan Januari 2026 untuk Rumah Tangga hingga Industri, Lengkap Semua Golongan
Kini, berkat uluran tangan Mat Yasin, jalan yang dulu dipenuhi batu kasar dan lubang itu perlahan berubah menjadi akses layak bagi warga.
Tak berlebihan jika warga setempat menyebut Mat Yasin sebagai pahlawan desa.
Di saat keluhan bertahun-tahun tak berbuah solusi, ia justru hadir membawa harapan baru.
Aksinya disambut penuh haru dan rasa syukur oleh masyarakat Madulang yang selama ini kesulitan beraktivitas, terutama saat musim hujan.
Mengutip Tribun Madura, Mat Yasin dikenal sebagai pengusaha besi tua yang sukses.
Namun, kesuksesan itu tidak ia raih secara instan. Latar belakang hidupnya sederhana dan penuh perjuangan.
Sebelum menekuni usaha besi tua, Mat Yasin pernah bekerja sebagai tukang cukur dan penjual kasur kapuk keliling.
Dari pekerjaan kecil itulah ia belajar arti kerja keras, kejujuran, dan ketekunan.
Tahun demi tahun, usahanya berkembang hingga mengantarkannya menjadi pengusaha yang mapan.
Kesuksesan itu tak membuatnya lupa diri. Justru sebaliknya, Mat Yasin memilih mengembalikan sebagian rezekinya kepada masyarakat.
Selain membangun jalan desa, ia juga menggelontorkan dana pribadi sekitar Rp800 juta untuk membangun jaringan listrik desa yang kini dapat dinikmati oleh beberapa desa sekitar.
Bahkan, ia turut membangun Tembok Penahan Tanah (TPT) sepanjang 400 meter guna mencegah longsor di kawasan rawan.
Ketika ditanya alasan berani mengeluarkan dana hingga miliaran rupiah, Mat Yasin menjawab dengan sederhana. Ia menegaskan bahwa semua itu bukan untuk mencari pujian atau popularitas.
“Saya pernah bernazar, kalau sudah sukses ingin membangun jalan di kampung sendiri. Lillahi Ta’ala, biar masyarakat senang,” ujarnya.
Dengan dana pribadinya, Mat Yasin membangun jalan desa sepanjang empat kilometer yang menjadi penghubung antar desa di Kecamatan Omben. Pekerjaan dilakukan menggunakan alat berat, dan proses pengaspalan kini berjalan bertahap.
“Semenjak saya lahir di sini, kondisi jalannya rusak dan dari dulu tetap seperti ini. Sudah 40 tahun tak pernah diperbaiki,” ungkapnya.
Pembangunan tahap awal telah mencapai 250 meter dengan lebar 2,5 meter.
Meski belum rampung sepenuhnya, perubahan tersebut sudah sangat dirasakan warga.
Syaiful (60), salah seorang warga Desa Madulang, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya.
“Alhamdulillah sekarang jalan kami sudah bagus. Dulu kalau ada warga mau melahirkan saja susah lewat, sekarang semua jadi mudah,” tuturnya.
Kisah Mat Yasin menjadi bukti bahwa satu niat baik yang dilakukan dengan tulus mampu menghadirkan perubahan besar.
Ia menunjukkan bahwa kepedulian sosial tidak selalu harus menunggu kebijakan pemerintah.
Dengan latar belakang sederhana, Mat Yasin membuktikan bahwa siapa pun bisa menjadi besar jika mau bekerja keras dan berbagi. Jalan yang ia bangun bukan sekadar aspal, melainkan simbol harapan, kepedulian, dan amal jariyah yang manfaatnya akan terus dirasakan oleh generasi berikutnya.
Seperti pepatah yang hidup di tengah masyarakat, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.” Kisah Mat Yasin adalah cerminan nyata dari makna kalimat tersebut.
(Tribun Jabar/Tribunnews/Bangkapos.com)