Laporan wartawan Tribun Jatim Network, Erwin Wicaksono
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Pengalaman belajar di luar negeri menjadi momen berharga bagi Akhmad Murtadho, mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Selama hampir lima bulan, Juli hingga Desember 2025, mahasiswa yang akrab disapa Dodo ini mengikuti program student exchange di Kasetsart University, Bangkok, Thailand.
Tak sekadar menjalani perkuliahan, Dodo merasakan langsung atmosfer pendidikan internasional.
Seluruh proses belajar mengajar berlangsung menggunakan bahasa Inggris, dengan mahasiswa yang berasal dari berbagai negara.
Suasana kelas yang multikultural membuat diskusi menjadi lebih hidup, tidak hanya membahas materi akademik, tetapi juga pertukaran budaya dan sudut pandang global di bidang agribisnis.
"Dalam satu kelas itu mahasiswanya campur dari banyak negara,"
"Jadi serunya, kami bisa saling berbagi budaya dari daerah masing-masing," kata Dodo pada Rabu (31/12/2025).
Baca juga: Desa Tambakasri Malang Simpan Potensi Besar, Mahasiswa UMM Olah Limbah Kopi Jadi Produk Unggulan
Menurutnya, program ini sangat cocok bagi mahasiswa yang ingin mengasah kemampuan bahasa Inggris sekaligus membangun jejaring internasional.
Interaksi lintas negara yang intens juga membentuk kepercayaan diri dan cara berpikir yang lebih terbuka.
Pengalaman yang paling membekas bagi Dodo adalah kunjungan akademik ke Suwan Farm atau National Corn and Sorghum Research Center di Pak Chong, Provinsi Nakhon Ratchasima.
Pusat penelitian milik Kasetsart University ini dikenal sebagai salah satu pusat riset jagung dan sorgum terkemuka di Thailand.
Di Suwan Farm, Dodo mempelajari riset pertanian secara mendalam, mulai dari pemuliaan tanaman, pengembangan varietas, hingga pengujian ketahanan tanaman terhadap penyakit.
Ia melihat langsung bagaimana riset dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.
"Suwan Farm itu bukan sekadar kebun. Ini pusat riset,"
"Kami belajar bagaimana varietas jagung dari berbagai negara dikembangkan dan diuji ketahanannya terhadap penyakit," jelasnya.
Suwan Farm dikenal sebagai pengembang varietas unggul Suwan 1, jagung yang tahan terhadap penyakit downy mildew dan telah menjadi andalan Thailand sejak era 1970-an.
Pusat riset ini juga menjalin kolaborasi internasional, termasuk dengan CIMMYT (International Maize and Wheat Improvement Center), serta mengembangkan produk turunan seperti susu jagung UHT sebagai bentuk hilirisasi riset.
Meski menghasilkan inovasi, Suwan Farm tidak berorientasi pada produksi massal.
Fokus utamanya tetap pada penguatan riset dan pengembangan ilmu pengetahuan di bidang pertanian.
Selain pusat riset, Dodo dan mahasiswa lainnya juga mengunjungi sejumlah perkebunan jagung, karet, dan kelapa.
Kunjungan ini memberi gambaran utuh tentang sistem agribisnis, dari proses budidaya hingga pemanfaatan hasil panen.
Di luar kegiatan akademik, Dodo juga merasakan dinamika kehidupan sosial dan budaya masyarakat Thailand.
Tantangan adaptasi sempat ia hadapi, terutama terkait ketersediaan makanan halal.
Namun hal tersebut tidak mengurangi nilai pengalaman yang ia peroleh selama tinggal di negeri orang.
"Soal makanan memang perlu penyesuaian. Tapi secara keseluruhan, hidup dan belajar di sana tetap menyenangkan dan memberi banyak pelajaran," tuturnya.
Pengalaman internasional ini tidak ingin berhenti sebagai cerita semata.
Dodo bertekad membawa ilmu dan pendekatan riset yang ia pelajari untuk diterapkan di Indonesia, khususnya dalam pengembangan sektor agribisnis.
"Apa yang saya pelajari di sana ingin saya terapkan di Indonesia, terutama bagaimana riset pertanian bisa menghubungkan teori dengan praktik di lapangan," tandasnya.