Oleh: Triono Hadi MSos, Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik Riau
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Harusnya dengan kesejahteraan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dengan berbagai jenis mulai dari gaji dan tunjangan yang tidak kecil, kedisiplinan mesti dijaga.
Dia tidak bisa berdiri sendiri pula. Bagaimana disiplin juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan pimpinan.
Pimpinan mesti harus memperkuat budaya kerja ASN untuk lebih produktif.
Memperbanyak libur di hari kerja, menunjukkan sebenarnya tugas dan fungsi yang tidak banyak.
Sementara jumlah ASN pada kenyataannya banyak.
Sehingga seolah-olah jika tidak bekerja juga tidak ada masalah. Pemerintahan tetap berjalan.
Namun, sejatinya itu pertanda sebenarnya menujukkan terlalu banyak ASN yang tidak memiliki berfungsi krusial.
Tentu ini sebagai bentuk paradox dari kondisi ril keberadaan ASN sebagai perpanjangan tangan pemerintah daerah.
Bagaimana jumlah mereka yang banyak itu menjadikan pembagian tugas tidak sepadan yang menciptakan celah untuk tidak bekerja maksimal.
Padahal ditelaah lebih dalam keberadaan mereka memang sengaja dihadirkan untuk membantu tugas-tugas yang tentu saja penting.
Terutama pada pelayanan bagi masyarakat.
Oleh karena itu, pimpinan harus punya strategi evaluasi menyeluruh terhadap kinerja ASN.
Menghitung ulang kebutuhan ASN regulernya.
Apakah benar-benar memiliki fungsi atau sebanarnya tidak ada fungsinya.
Evaluasi bukan hanya kinerja harian berdasarkan absensi.
Tapi juga kinerja yang benar-benar ril.
Apa yang dibutuhkan dan sejauh mana keberadaan ASN yang direkrut betul-betul berdasarkan kebutuhan untuk membantu kerja pemerintah.
Tentu tugas dan tangungjawab, menjadi ASN adalah pekerjaan yang sebenarnya banyak kelonggaran.
Lima hari dalam seminggu, dengan rata-rata 20 hari perbulannya. Ditambah hari libur lainnya yang ditetapkan pemerintah.
Jadi untuk menambah jadwal libur tentu itu sudah tidak pantas. (*)