13 Orang Dilaporkan Tewas Usai Konsumsi Air Keran di India, Diduga Terkontaminasi
January 01, 2026 08:17 PM

TRIBUNNEWS.COM - Tiga belas orang dilaporkan tewas dan ratusan orang, termasuk banyak anak-anak, jatuh sakit setelah meminum air keran di India bagian tengah.

Dugaan sementara peristiwa ini terjadi dikarenakan saluran air yang berada di wilayah Negara Bagian Madhya Pradesh tersebut telah terkontaminasi.

Hal ini diperkuat dengan pengakuan warga dan keluarga korban yang mengatakan kepada media lokal bahwa air berbau busuk telah dialirkan ke daerah tersebut selama seminggu terakhir.

Dikutip dari Times of India, sejumlah warga yang menderita diare dan muntah setelah menggunakan air dari saluran pipa juga dilaporkan telah dilarikan ke beberapa rumah sakit di Kota Indore, Madhya Pradesh.

Setidaknya, lebih dari 162 pasien masih dirawat di 27 rumah sakit di Indore, dengan 26 di antaranya dalam kondisi kritis di unit perawatan intensif (ICU).

Korban termasuk anak-anak kecil termasuk bayi berusia enam bulan yang meninggal pada 31 Desember 2025 setelah menderita diare berat.

Pejabat kota Indore menduga kejadian ini terjadi akibat kebocoran limbah yang mungkin telah bercampur dengan pasokan air keran karena adanya kebocoran pada saluran pipa di Bhagirathpura.

Pipa air minum utama di Bhagirathpura ternyata berada di bawah konstruksi toilet polisi setempat, di mana limbah dialirkan ke lubang resapan tepat di atas pipa.

Kebocoran pada sambungan pipa air limbah kemudian diduga bercampur dengan air bersih, menyebabkan wabah diare, muntah, dan dehidrasi parah.

Warga Bhagirathpura, sebuah kawasan padat penduduk dengan sekitar 15.000 jiwa, telah mengeluhkan air keran berbau busuk dan kotor sejak seminggu sebelumnya.

Keluhan ini dilaporkan berulang kali kepada otoritas Indore Municipal Corporation (IMC), tetapi tidak ditindaklanjuti dengan cepat.

Investigasi awal mengungkap kelalaian serius, termasuk penundaan tender perbaikan pipa lama yang sudah diajukan sejak Agustus 2025 sekitar Rp 4,5 miliar.

Baca juga: Gandeng Vantara India, Pemerintah Berharap Bisa Revitalisasi Rumah Sakit Gajah di Sumatera

Menteri Utama Madhya Pradesh, Mohan Yadav, menyebut insiden ini sebagai "situasi darurat" dan dirinya telah mengunjungi rumah sakit yang menjadi lokasi rujuk pada Rabu (31/12/2025).

Tak sendirian, Yadav melakukan kunjungan tersebut bersama Menteri Pembangunan Perkotaan dan Perumahan, Kailash Vijayvargiya.

Yadav mengumumkan kompensasi sebesar 200.000 rupee (sekitar Rp 37,1 juta) untuk keluarga korban meninggal, perawatan gratis bagi semua pasien, serta penyediaan air bersih melalui tangki dan tablet klorin.

Tindakan tegas juga telah diambil oleh pemerintah setempat dengan pembentukan tim investigasi terkait kebocoran limbah yang ada.

Pengadilan Tinggi Madhya Pradesh juga turun tangan, memerintahkan laporan status rutin kepada para pejabat terkait mulai 2 Januari 2026 dan memastikan perawatan gratis di rumah sakit swasta bagi seluruh korban.

Kontroversi Penanganan Kasus

Penanganan dari kasus ini turut menjadi sorotan setelah Menteri Pembangunan Perkotaan dan Perumahan, Kailash Vijayvargiya mengeluarkan pernyataan kontroversial saat mengunjungi korban yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit pada hari Rabu.

Kontroversi ini terjadi saat Vijayvargiya diwawancarai wartawan NDTV tentang tanggung jawab pejabat senior terkait kasus ini.

Vijayvargiya yang marah mendengar ucapan tersebut mengatakan pertanyaan tersebut adalah hal yang "tidak berguna" dan ia kemudian mengeluarkan kata-kata kasar kepada wartawan.

Video konfrontasi ini viral di media sosial, serta menuai kritik tajam dari oposisi Kongres yang menuduh pemerintah arogan dan berusaha menutupi kelalaian.

Vijayvargiya kemudian meminta maaf melalui media sosial dan menyatakan penyesalan atas kata-katanya di tengah kesedihan mendalam.

Ia mengakui adanya "kesalahan" oleh pejabat dan berjanji tindakan tegas tanpa pandang bulu bagi pihak yang terbukti lalai dalam kasus pencemaran limbah ini. 

Sementara itu, kontroversi juga terjadi pada angka pasti terkait jumlah korban yang ada

Beberapa laporan media menyebutkan bahwa setidaknya 13 orang tewas dan lebih dari 1.000 orang jatuh sakit.

Namun demikian, laporan resmi dari pemerintah negara bagian Madhya Pradesh menyebutkan angka yang lebih rendah yakni sekitar 3-10 orang.

Baca juga: Cegah Kematian Gajah Sumatera Akibat Infeksi EEHV, Dokter Spesialis Datang dari India

Vijayvargiya sendiri enggan menanggapi kontroversi terkait jumlah korban tewas saat diwawancarai pada hari Kamis ini (1/1/2026)

Ia hanya menyatakan bahwa jumlah warga yang dirawat di rumah sakit kini berkurang.

"Saya tidak dapat berkomentar tentang jumlah korban tewas pada saat ini," ujarnya kepada para wartawan pada Kamis.

(Tribunnews.com/Bobby)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.