Teror Terhadap Influencer Sama dengan Pelecehan Korban Banjir Sumatra ​
January 01, 2026 08:35 PM

TRIBUNNEWSDEPOK-Tindakan teror terhadap aktivis dan influencer adalah pelecehan terhadap korban bencana Sumatra. 

Pasalnya para influencer dan aktivis tersebut mendapatkan teror usai vokal membela korban banjir Sumatra yang belum kunjung mendapatkan akses bantuan dari negara.

Pernyataan itu disampaikan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

YLBHI menyoroti aksi teror yang dialami sejumlah aktivis dan influencer, beberapa waktu terakhir.

Mereka yang mengalami teror di antaranya Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik, kreator konten Ramond Dony Adam alias DJ Donny, kreator konten Sherly Annavita, aktor Yama Carlos, dan aktivis sekaligus konten kreator Virdian Aurellio.

Ketua Umum YLBHI Muhammar Isnur mengatakan teror ini sebagai bukti penyelenggara negara gagal untuk mendengarkan dan juga mengurai aspirasi kritis warga negara dan menormalisasi bentuk-bentuk tindakan yang mengabaikan suara publik dalam penanganan bencana dan sejumlah isu publik lainnya.

Padahal, kata Isnur, kepedulian dari warga yang kritis terhadap kondisi masyarakat terdampak bencana di Sumatera adalah sebuah ekspresi solidaritas dan tanggung jawab yang menunjukkan kecintaan dan keberpihakan mereka terhadap warga negara yang mengalami duka dan luka.

Sehingga menurutnya, tindakan teror ini sama saja dengan pelecehan terhadap para korban bencana yang belum mendapatkan akses bantuan.

"Tindakan teror dan intimidasi kepada mereka yang kritis adalah sebuah pelecehan terhadap semangat gotong royong dan usaha untuk memulihkan situasi bencana dan juga membantu masyarakat yang sampai sekarang masih belum mendapatkan akses terhadap bantuan pasca bencana," ujar Isnur seperti dimuat Tribunnews.com dalam Kamis (1/1/2026).

Isnur juga menjelaskan serangan atau intimidasi terhadap warga yang kritis dan pemengaruh di media sosial adalah sebuah serangan terhadap nilai demokrasi dan kemerdekaan menyampaikan pikiran dan pendapat yang dijamin oleh konstitusi dan regulasi.

Isnur menilai, serangan ini menunjukkan dua kegagalan penyelenggara negara untuk menjaga dan melindungi warga negara. 

Ia juga menyoroti sejumlah korban teror dan intimidasi merupakan individu yang lantang dalam menyampaikan kondisi, fakta dan pandangannya terkait dengan lambannya pemerintah dalam merespon dan menanggulangi bencana yang ada di Sumatera.

Isnur juga menyayangkan pemerintah yang terkesan bungkam dengan aksi intimidasi yang dialami oleh para aktivis dan influencer tersebut.

"Penyelenggara negara telah membiarkan serangan teror dan intimidasi terjadi tanpa ada respon dan sikap yang tegas untuk menghukum para pelaku teror dan intimidasi," kata Isnur.

Sejumlah influencer dan aktivis Greenpeace mendapatkan teror usai mengkritik penanganan banjir Sumatra dan industri sawit yang membuat banjir besar di Sumatra.

Greenpeace mengungkapkan kronologi teror yang menimpa salah satu aktivis mereka usai habis-habisan mengkritik perihal banjir Sumatra. 

Kronologi itu disampaikan Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak usai salah satu aktivis Greenpeace, Iqbal Damanik menerima teror di rumahnya Selasa (30/12/2025).

Leonard mengatakan rumah Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, mendapat kiriman bangkai ayam.

Bangkai ayam itu ditemukan di teras rumah pada Selasa pagi, tanpa pembungkus apa pun.

Di kaki ayam tersebut terikat plastik berisi kertas bertuliskan pesan “JAGALAH UCAPANMU APABILA ANDA INGIN MENJAGA KELUARGAMU, MULUTMU HARIMAUMU”.

Pada Selasa dini hari, Iqbal memang sempat mendengar suara ‘gedebuk’ di teras rumahnya. 

Namun, baru sekitar pukul 05.30 WIB, anggota keluarga Iqbal menemukan bangkai ayam tersebut. Iqbal kemudian memeriksa sambil mendokumentasikan kiriman tersebut.

Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak, menduga kiriman ini sebagai bentuk teror terhadap kerja-kerja Iqbal Damanik sebagai pengkampanye Greenpeace. 

Apalagi, ada pola teror serupa yang juga menimpa masyarakat sipil, jurnalis, dan pegiat media sosial dalam beberapa waktu belakangan. 

Lewat media sosialnya, disjoki asal Aceh, DJ Donny, mengabarkan bahwa ia pun mendapat kiriman bangkai ayam. 

Selain DJ Donny, pemengaruh dan kreator konten asal Aceh, Sherly Annavita, mengunggah kabar tentang vandalisme di mobil pribadi serta kiriman sekantung telur busuk ke tempat tinggalnya. 

Seperti Iqbal, keduanya juga menerima surat bernada mengancam.

“Sulit untuk tak mengaitkan kiriman bangkai ayam ini dengan upaya pembungkaman terhadap orang-orang yang gencar menyampaikan kritik atas situasi Indonesia saat ini,”

“Ada satu kemiripan pola yang kami amati, sehingga kami menilai ini teror yang terjadi sistematis terhadap orang-orang yang belakangan banyak mengkritik pemerintah ihwal penanganan bencana Sumatera,” kata Leonard.

Belakangan ini, Iqbal Damanik melalui akun media sosial pribadinya kerap menayangkan unggahan tentang banjir Sumatera dan respons pemerintah dalam menangani bencana tersebut. 

Sejumlah juru kampanye Greenpeace juga banyak bersuara lewat wawancara media maupun media sosial. 

Berbagai pernyataan tersebut berangkat dari temuan tim yang pergi ke lapangan pascabencana, serta temuan dan analisis Greenpeace. 

Namun dalam beberapa hari terakhir, Iqbal banyak menerima serangan di kolom komentar unggahan media sosialnya, juga pesan bernada ancaman lewat direct message Instagram.

“Kritik publik, termasuk pengkampanye kami, terhadap cara pemerintah menangani banjir Sumatera ini sebenarnya lahir dari keprihatinan dan solidaritas terhadap para korban. 

“Apalagi di balik banjir Sumatera ini ada persoalan perusakan lingkungan, yakni deforestasi dan alih fungsi lahan yang terjadi menahun, yang terjadi atas andil pemerintah juga. Belum lagi pemerintahan Prabowo malah akan membuka jutaan hektare lahan di Papua, yang bakal merugikan Masyarakat Adat dan memperburuk dampak krisis iklim,” ujar Leonard.

Greenpeace Indonesia mengecam maraknya upaya teror terhadap masyarakat sipil, mulai dari aktivis, jurnalis, hingga pegiat media sosial. 

Kritik publik mestinya tak diperlakukan sebagai ancaman, melainkan ekspresi demokrasi dan pengingat bagi kekuasaan untuk tetap akuntabel. Kebebasan berbicara merupakan hak yang dijamin dalam konstitusi. 

Greenpeace pun memastikan tidak akan takut dan gentar terhadap teror-teror tersebut.

“Upaya teror tak akan membuat kami gentar. Greenpeace akan terus bersuara untuk keadilan iklim, HAM, dan demokrasi,” tutup Leonard.

(TribunnewsDepok/DES/Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.