Laporan Wartawan TribunPriangan.Com Sumedang Kiki Andriana
TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG - Pelaku usaha pariwisata di Kabupaten Sumedang tengah menghadapi tekanan berat seiring menurunnya kunjungan wisatawan pada momen libur Tahun Baru 2026.
Kondisi tersebut memunculkan jeritan hati para pengusaha wisata yang merasakan langsung lesunya pergerakan sektor pariwisata dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Mantan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumedang sekaligus pemilik wisata Kampung Karuhun di Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan, Nana Mulyana, mengungkapkan bahwa penurunan pariwisata terjadi akibat kombinasi berbagai faktor yang saling berkaitan.
“Di momen tahun baru 2026 ini, kondisi pariwisata di Sumedang memang mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu. Ini bukan satu faktor saja, tapi banyak faktor yang saling memengaruhi,” ujar Nana kepada Tribun, Kamis (1/1/2026).
Menurut Nana, faktor pertama yang sangat berpengaruh adalah kondisi alam. Curah hujan yang tinggi dan terjadi hampir setiap hari membuat minat masyarakat untuk berwisata menurun drastis.
“Hampir setiap hari hujan. Orang jadi malas keluar rumah, apalagi untuk wisata alam,” katanya.
Faktor kedua adalah melemahnya daya beli masyarakat. Nana menyebut, di tengah kondisi ekonomi saat ini, masyarakat tetap ingin berwisata, namun cenderung memilih destinasi dengan harga murah.
“Daya beli masyarakat menurun. Kalau pun ingin wisata, mereka cari yang murah. Ini realitas yang kami hadapi di lapangan,” ujarnya.
Selain itu, Nana menyoroti persoalan over suplai destinasi wisata di Sumedang. Menurutnya, pertumbuhan destinasi yang tidak dibarengi dengan perencanaan matang justru berdampak pada penurunan kunjungan di masing-masing lokasi.
“Sumedang sudah mulai over suplai di bidang pariwisata. Seharusnya Dinas Pariwisata membuat blue print dan zonasi. Misalnya, berapa banyak destinasi yang sebenarnya dibutuhkan di Sumedang,” katanya.
Ia menilai, saat ini hampir tidak ada kontrol dalam pembukaan destinasi wisata baru. Siapa pun bisa membuka tempat wisata, yang secara regulasi tidak bermasalah, namun berdampak langsung pada terbagi-baginya jumlah kunjungan wisatawan.
“Kondisi ini bukan hanya terjadi di Sumedang. Di Jawa Barat hampir merata mengalami penurunan. Bandung Barat, Bandung, Subang, Garut, Tasikmalaya, semuanya turun,” katanya.
Nana juga menyoroti perubahan pola wisata masyarakat Jawa Barat. Menurutnya, sebagian wisatawan kini memilih berlibur ke luar daerah bahkan ke luar negeri.
“Kaum mendang-mending lebih memilih ke Semarang, Jogja, Magelang. Bahkan untuk yang punya kemampuan lebih, wisatanya ke Vietnam, Singapura, Thailand. Warga Jawa Barat banyak yang piknik ke sana,” ujarnya.
Menghadapi kondisi tersebut, Nana menilai perlu ada langkah strategis dan kolaboratif untuk menyikapi arah pariwisata ke depan. Peningkatan infrastruktur, seperti kualitas jalan dan konektivitas internet, menjadi hal penting. Namun, menurutnya, aspek promosi harus menjadi perhatian utama.
“Yang paling penting adalah promosi. Kita bisa melibatkan Badan Promosi Daerah dan mengoptimalkan peran Dinas Pariwisata di Sumedang. Tanpa promosi yang kuat dan terarah, destinasi yang ada akan terus saling berebut pengunjung,” katanya.(*)