Malam Tahun Baru 2026, Bupati Mas Ipin Ajak Masyarakat Nobar Film Penolakan Tambang Emas Ra Ritek
January 01, 2026 09:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Perayaan malam tahun baru 2026 jauh dari kata mewah. Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin mengajak masyarakat menonton Film Tambang Emas Ra Ritek di Halaman Pendopo Manggala Praja Nugraha, Kelurahan Surodakan, Kecamatan/Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Rabu (31/12/2025).

Film Tambang Emas Ra Ritek merupakan karya pemuda Trenggalek yang mendapatkan penghargaaan bergengsi Piala Citra FFI 2025 untuk kategori film dokumenter panjang terbaik.

Film tersebut selaras dengan komitmen Mas Ipin, sapaan akrab Mochamad Nur Arifin untuk menjaga kelestarian alam Trenggalek yang akan diwariskan ke anak cucu mendatang. 

Seperti judulnya, film tersebut mengangkat isu perjuangan warga Trenggalek dalam penolakan ekploitasi Tambang Emas di daerahnya. 

Baca juga: Puncak Prestasi Olahraga Kota Kediri, 175 Medali Porprov Jatim 2025 Jadi Rekor Satu Dekade

Tujuannya tentu menyuarakan isu lingkungan dan meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya perlindungan lingkungan hidup seperti yang disampaikan dalam film yang berdurasi lebih dari 1 jam itu.

Dalam kesempatan itu, Mas Ipin meyakinkan masyarakat terhadap komitmennya untuk menolak eksploitasi tambang emas di Trenggalek 

"Semoga saya panjang umur, bisa sampai dengan 2029, karena ijin tambang ini sampai dengan 2029," ucap Mas Ipin saat malam pergantian tahun baru.

Mas Ipin juga memastikan, ia telah mengantisipasi penolakan tambang emas di Trenggalek dalam jangka panjang melalui penyusunan Perda Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah.

Sehingga walaupun masa jabatannya berakhir Kabupaten Trenggalek akan terlindungi dari eksploitasi tambang dan tetap menjaga kelestarian dan keseimbangan ekologi. 

Selain itu Mas Ipin juga mengajak dan mengingatkan kepada masyarakat Trenggalek, bawasannya kekuatan yang mutlak ada di tangan masyarakat karena kedaulatan negara kembali kepada masyarakatnya. 

Artinya benteng terkuat untuk menjaga lingkungan di Kabupaten Trenggalek kembali kepada komitmen masyarakatnya.

Getol menjaga ekologi, Bupati Trenggalek sempat mendapat wasiat dari kakeknya, yang menyampaikan pesan Bung Karno ketika berkunjung ke Trenggalek pada tahun 1950.  

"Kalau mau netel (makan) alase kudu ketel (hutannya harus lebat)," ucapnya 

Sementara itu, Sutradara Film Tambang Emas Ra Ritek, Alvina berharap berawal dari halaman Pendopo Trenggalek, Tambang Emas Ra Ritek bisa diputar di desa-desa.

Sehingga harapannya bisa mengedukasi masyakat semakin luas lagi mengenai dampak dari aktivitas tambang yang lebih banyak merugikan masyarakat. 

Pemutaran film ini mendapatkan banyak tanggapan positif dari masyarakat Trenggalek, salah satunya Amin Tohari, warga Desa Ngadirenggo yang setelah menyaksikan Film Tambang Ra Ritek setuju menolak tambang di Trenggalek.

Tidak ada tambang emas saja daerahnya terdampak bencana banjir setiap tahun apalagi bila tambang emas nantinya dieksploitasi, pastinya akan semakin mendampak bencana bagi mereka.

Di sisi lain menolak tambang, pria ini berharap jangan sampai tolak tambang tapi masyarakat dieksploitasi dari sisi pajak untuk pendapatan negara atau pendapatan daerah. 

Pria ini berharap Pemerintah Kabupaten Trenggalek bisa mempunyai solusi meningkatkan pendapatan daerahnya dengan tidak meningkatkan pajak kepada masyarakat.

Pernyataan tersebut langsung ditanggapi Bupati Trenggalek dimana pihaknya berkomitmen untuk mengoptimalkan aset aset yang dimiliki untuk menjadi motor ekonomi daerah. 

Seperti saat ini kepala daerah muda itu yang berupaya keras sektor pariwisatanya bisa dikelola lebih baik lagi. Lulusan magister manajemen pengembangan sumberdaya manusia Universitas Airlangga Surabaya ini sepakat sektor pajak manufaktur yang dikelola pusat kembalinya ke daerah terserah pusat, artinya pemerintah daerah tidak bisa bergantung pada sektor pajak ini. 

Tak hanya itu, Mas Ipin juga menggagas program sangu sampah. Dimana dari kegiatan sangu sampah ini selain bermanfaat menyelesaiakan permasalahan sampah karena dipilah, siswa bisa mengkonversi sampahnya menjadi uang saku, sehingga bisa dapat mengurangi beban keluarga.


(Sofyan Arif Chandra/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.