TRIBUNPRIANGAN.COM - Tribuners, waktu terus berputar dan umur terus berkurang.
Inilah sistem paten yang tak bisa dihindari setiap manusia yang sedang diizinkan hidup di alam dunia.
Pergantian waktu kewaktu seiring jalan semakin cepat dan memakan umur setiap manusia.
Ya, sistem perputaran dalam kehidupan manusia terus mengikuti poros yang berdampingan dengan aturan dan konsekuensi.
Pasalnya, waktu yang diberikan pasti akan dipertanggung jawabkan ketika berpulang kerahmatuLlah kelak.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 2 Januari 2026: Syukur atas Nikmat Selama Setahun
Disisi lain, sholat menjadi salah satu amal yang dihitung saat hari perhitungan kelak.
Dalam penerapannya dalam kehidupan, sholat dibagi sesuai dengan hukum asalnya, yakni Wajib dan Sunnah.
Selain shalat 5 waktu, salah satu shalat yang termasuk dalam golongan fardhu' ain adalah Shalat Jumat.
Ya, shalat jumat menjadi wajib terkhusus untuk para kaum laki-laki.
Salah satu rukun yang wajib dikerjakan adalah berkhutbah yang disampaikan oleh sang khatib.
Dalam penerapannya, berkhutbah bisa mengangkat berbagai tema dan topik.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 2 Januari 2026: 3 Cara Mudah Bermuhasabah Diri Setiap Detik
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَوْضَحَ لَنَا شَرَائِعَ دِيْنِهِ وَمَنَّ عَلَيْنَا بِتَنْزِيلِ كِتَابِهِ وَأَمَدَّنَا بِسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَلِلّٰهِ الْحَمْدُ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ مِنْ هِدَايَتِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ مُبَيِّنًا عَلَى رِسَالَةِ الرَّحْمَنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ جَمِيْعًا, وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مُوْقِنٍ بِتَوْحِيْدِهِ، مُسْتَجِيْرٍ بِحَسَنِ تَأْيِيْدِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ الْمُصْطَفَى، وَأَمِيْنُهُ الْمُجْتَبَي وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَةِ الْوَرَى أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى مَا هَدَاكُمْ لِلإِسْلاَمِ، وَأَوْلاَكُمْ مِنَ الْفَضْلِ وَالإِنْعَامِ، وَجَعَلَكُمْ مِنْ أُمَّةِ ذَوِى اْلأَرْحَامِ. قَالَ تَعَالَى: بِسْمِ اللّٰهِ الرّٰحْمَنِ الرّٰحِيْمِ، وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِِلَّا الَّذِینَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SwT
Pertama-tama dan yang paling utama marilah kita bersama-sama meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta memanjatkan puja dan puji sykur kita kepada Allah SWT yang tanpa henti memberikan semua nikmat kesehatan dan kesempatan.
Tidak lupa juga untuk senantiasa bershalawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw. yang membawa peradaban Islam dan membebaskan umat dari zaman kejahiliyahan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pergantian hari, bulan, dan adalah sunnatullah yang sarat makna bagi kita. Tidak kurang Allah mengabadikan pentingnya waktu melalui representasi surat Al-‘Ashr. Sunnatullah ini juga diindikasikan dalam firman Allah surat Ar-Ra’d ayat 2:
ٱللَّهُ ٱلَّذِي رَفَعَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ بِغَيۡرِ عَمَدٖ تَرَوۡنَهَاۖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ كُلّٞ يَجۡرِي لِأَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ يُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لَعَلَّكُم بِلِقَآءِ رَبِّكُمۡ تُوقِنُونَ ٢
“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu.”
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 2 Januari 2026: Introspeksi Diri di Penghujung Tahun
Sementara itu dalam surat Al-Baqarah ayat 164, Allah ‘menyentil’ kita yang masih bergeming tidak menyadari kebesaran sang Khaliq padahal begitu banyaknya bukti dan indikator kekuasaan Allah dari fenomena alam yang kita alami.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
Bahwa pada pergantian malam dan siang, pada hujan yang turun, dan pada berbagai fenomena alam terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mau berpikir. Maka, ketika alam “berbicara” dengan cara seperti ini, seorang mukmin tidak boleh lalai. Musibah bukan hanya ujian bagi korban, tetapi juga peringatan bagi yang masih diberi keselamatan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Di penghujung tahun ini, kita dihadapkan pada berbagai peristiwa bencana alam yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan sejumlah daerah lainnya. Peristiwa tersebut bukan sekadar fenomena alam, tetapi bagian dari ayat-ayat Allah yang harus kita sikapi dengan iman, ilmu, dan amal.
Ada beberapa hal penting yang perlu kita garis bawahi dalam memaknai akhir tahun dan musibah ini sebagai seorang Muslim, yaitu: pertama, musibah mengajarkan muhasabah. Muhasabah adalah evaluasi diri yang jujur dan mendalam.
Allah SWT berfirman: "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura [42]: 30).
Baca juga: Naskah Singkat Khutbah Jumat 26 Desember 2025: Jadikan Semua Poin Halal sebagai Gaya Hidup
Ayat ini mengajak kita untuk melakukan muhasabah, evaluasi diri yang jujur dan mendalam. Seorang Muslim tidak boleh hanya menyalahkan keadaan, tetapi harus bertanya: sejauh mana iman, syukur, dan sabar telah kita jalankan.
Rasulullah Saw. bersabda bahwa seluruh urusan orang beriman adalah kebaikan. Saat memperoleh nikmat ia bersyukur, dan saat ditimpa musibah ia bersabar.
Dua sikap ini merupakan standar keimanan yang harus terus kita jaga, terutama ketika Allah mengingatkan kita melalui bencana dan pergantian waktu. Akhir tahun menjadi momentum untuk mengevaluasi kualitas ibadah, akhlak, dan tanggung jawab sosial kita sebelum kelak dihisab oleh Allah SWT.
Kedua, musibah menumbuhkan solidaritas dan kepedulian sosial.
Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Musibah yang menimpa sebagian masyarakat adalah panggilan bagi yang lain untuk hadir membantu. Kepedulian terhadap korban bencana, baik melalui doa, infak, tenaga, maupun dukungan moral, adalah wujud nyata dari iman dan akhlak Islam.
Kita perlu menyadari bahwa keselamatan yang kita rasakan hari ini bukan jaminan untuk esok hari. Oleh karena itu, kepekaan sosial dan semangat ta’awun harus terus kita hidupkan.
Rasulullah Saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai dan menyayangi adalah seperti satu tubuh.” (HR. Bukhari dan Muslim). Seorang Muslim tidak boleh merasa aman dan acuh ketika saudara-saudaranya sedang diuji.
Ketiga, musibah dan akhir tahun mendorong mujahadah dan perencanaan hidup. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18).
Baca juga: Naskah Singkat Khutbah Jumat 26 Desember 2025: Jadikan Semua Poin Halal sebagai Gaya Hidup
Ayat ini menegaskan bahwa muhasabah harus ditindaklanjuti dengan mujahadah, kesungguhan untuk memperbaiki keadaan. Tahun baru bukan sekadar pergantian kalender, tetapi awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Muhasabah harus ditindaklanjuti dengan mujahadah, yaitu kesungguhan untuk memperbaiki keadaan. Tahun baru bukan sekadar pergantian kalender, tetapi titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih bertakwa.
Rasulullah Saw. mengingatkan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung. Maka setiap Muslim dituntut untuk memiliki perencanaan hidup yang jelas, baik dalam ibadah, pendidikan, ekonomi, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Perubahan tidak lahir dari niat semata, tetapi dari perencanaan yang matang dan kerja yang konsisten, sebagaimana dicontohkan Rasulullah Saw. dalam seluruh aspek kehidupannya.
Keempat, musibah mengingatkan bahwa hidup ini sementara dan nasib berputar. Bencana mengajarkan kepada kita bahwa hidup di dunia tidak abadi. Umur bertambah berarti jarak dengan kematian semakin dekat. Allah SWT berfirman: “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 140).
Musibah menyadarkan kita bahwa dunia tidak kekal. Keselamatan dan kelapangan hidup bisa berubah kapan saja. Kesadaran ini menumbuhkan sikap tawadhu’, kesederhanaan, serta kesiapan untuk beramal dan menolong sesama.
Allah SWT menggilir keadaan manusia agar kita tidak sombong saat lapang dan tidak putus asa saat sempit. Kesadaran ini harus melahirkan sikap tawadhu’, kesederhanaan, serta kesiapan untuk berbagi dan menolong sesama. Inilah karakter Muslim yang beriman, berilmu, dan beramal.
Baca juga: Resmi dari Kemenag Naskah Khutbah Jumat 26 Desember 2025: Beriman Berarti Menghargai Perbedaan
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah
Semoga akhir tahun ini menjadi momentum bagi kita untuk memperbaiki diri, memperkuat kepedulian sosial, dan meningkatkan kualitas amal shalih, sehingga kehadiran kita benar-benar membawa kemanfaatan bagi umat dan bangsa.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللّٰهِ ! إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
(*)