Wanita Ini Batalkan Pernikahan setelah Didiagnosis Mandul, Respons Calon Mertua jadi Sorotan
January 02, 2026 12:09 AM

TRIBUN-MEDAN.com – Seorang wanita muda didiagnosis mengalami gagal ovarium setelah menjalani pemeriksaan kesehatan pranikah.

Mengetahui kondisi tersebut, wanita bernama Xiao Min itu secara sukarela mengembalikan seluruh uang seserahan dan emas pernikahan yang telah diterimanya.

Namun, respons keluarga calon suaminya justru memicu perhatian luas.

Dikutip dari Eva.vn Kamis (1/1/2026), peristiwa tersebut terjadi pada pagi hari 24 Desember. Xiao Min meninggalkan rumah sejak dini hari dengan membawa hasil pemeriksaan kesehatan pranikah.

Dalam hasil tersebut tertulis diagnosis gagal ovarium dini, yaitu kondisi menurunnya fungsi ovarium sebelum usia 40 tahun. Dokter menjelaskan bahwa kondisi ini menyebabkan peluang kehamilan alami menjadi sangat rendah.

Pada malam sebelumnya, Xiao Min dilaporkan tidak dapat tidur. Keesokan paginya, ia mengumpulkan uang seserahan sebesar 180.000 yuan serta seluruh perhiasan emas pernikahan yang telah diterimanya. Semua barang tersebut dimasukkan ke dalam sebuah tas kain dan dibawa ke rumah keluarga calon suaminya.

Setibanya di rumah tersebut, ibu dari Da Qiang, calon suaminya, sedang menyiapkan sarapan. Xiao Min kemudian meletakkan tas berisi uang dan emas di atas meja dan menyampaikan bahwa ia tidak dapat melanjutkan pernikahan.

Ia menjelaskan bahwa dirinya didiagnosis mengalami gagal ovarium dini dan sangat sulit untuk memiliki anak. Ia menyatakan tidak ingin keluarga Li kehilangan garis keturunan dan tidak ingin menghambat masa depan Da Qiang.

Xiao Min kemudian menyampaikan niatnya untuk mengembalikan seluruh uang seserahan dan perhiasan pernikahan.

Usai menyampaikan pernyataan tersebut, Xiao Min menundukkan kepala dan hendak meninggalkan rumah. Namun, ibu Da Qiang menghentikannya dengan menggenggam pergelangan tangannya dan mengembalikan tas tersebut ke tangannya.

Ibu calon suaminya menyampaikan bahwa sulit hamil tidak berarti sama sekali tidak bisa memiliki anak. Ia menegaskan bahwa putranya menikah untuk membangun kehidupan bersama pasangan, bukan semata-mata untuk melanjutkan garis keturunan.

Tidak lama kemudian, ayah Da Qiang keluar dari kamar dan menyampaikan sikap keluarga secara tegas. Ia menyatakan bahwa meskipun keluarga Li hanya memiliki satu garis keturunan selama tiga generasi, mereka menjalani hidup dengan mengedepankan nilai kemanusiaan, bukan semata-mata mempertahankan silsilah keluarga.

Ia menegaskan bahwa keputusan untuk membatalkan pernikahan tidak dapat diterima dan menyatakan bahwa Xiao Min tetap harus menjadi menantu keluarga Li.

Di balik keputusan Xiao Min mengembalikan seserahan, terdapat pertimbangan pribadi yang matang. Ia telah mencari informasi mengenai gagal ovarium dini, kondisi yang tidak hanya menyulitkan kehamilan, tetapi juga dapat menyebabkan perempuan mengalami gejala pra-menopause lebih awal, seperti gangguan tidur, rasa panas berlebih, serta gangguan siklus menstruasi.

Data menunjukkan bahwa sekitar satu hingga tiga dari setiap 100 perempuan usia subur mengalami kondisi ini dan jumlahnya cenderung meningkat.

Dalam banyak kasus, perempuan yang diketahui sulit memiliki anak menghadapi perlakuan kurang menyenangkan dari keluarga pasangan, termasuk sikap dingin dan pengucilan.

Sebagian perempuan memilih menarik diri, sementara yang lain dihadapkan pada pilihan hidup yang berat. Berbeda dari kondisi tersebut, Xiao Min memilih untuk mengundurkan diri secara terhormat dengan mengembalikan seserahan agar tidak memengaruhi masa depan pihak lain.

Xiao Min juga mengetahui adanya metode bantuan reproduksi seperti bayi tabung dan memahami bahwa kemajuan medis memungkinkan sebagian pasangan memiliki anak.

Namun, ia tidak ingin keluarga calon suaminya berada di bawah tekanan untuk memiliki keturunan. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengambil langkah mengembalikan seserahan dan membatalkan pernikahan.

Sikap keluarga Da Qiang menunjukkan pandangan mereka mengenai makna pernikahan. Ibu Da Qiang menyampaikan bahwa ia membesarkan anaknya bukan semata-mata untuk mendapatkan cucu, melainkan agar anaknya memiliki pasangan hidup yang saling mencintai dan menjalani kehidupan dengan baik.

Keputusan Xiao Min untuk mengembalikan seserahan dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap kedua belah pihak. Sementara itu, sikap keluarga calon suami yang tetap mempertahankan Xiao Min sebagai menantu menunjukkan pilihan yang mengedepankan nilai kemanusiaan di atas tekanan sosial.

Dengan dukungan keluarga calon suaminya, Xiao Min memiliki sandaran dalam menghadapi masa depan, meskipun kemungkinan masih akan menghadapi berbagai pandangan dari lingkungan sekitar.

 

(cr31/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.