Jakarta (ANTARA) - Bupati Aceh Tamiang Armia Fahmi, dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto, melaporkan kondisi pemulihan layanan air bersih di wilayahnya pascabencana banjir.

Diikuti dalam jaringan (daring) Sekretariat Presiden di Jakarta, Kamis, Armia mengungkapkan bahwa fasilitas Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat mengalami kerusakan berat akibat bencana banjir yang melanda pada akhir November 2025.

"PDAM kami mengalami kerusakan yang cukup fatal dan saat ini sedang dalam tahap perbaikan," ujar Armia Fahmi kepada Presiden.

Ia mengatakan dukungan telah diberikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berupa dua unit genset untuk memperkuat pasokan listrik di instalasi air.

Saat ini, layanan distribusi air bersih baru kembali menjangkau dua kecamatan, yakni Kuala Simpang dan Karang Baru.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum juga berencana membangun ulang infrastruktur air bersih untuk tiga kecamatan terdampak lainnya di Aceh Tamiang guna memperluas cakupan pelayanan PDAM.

Di tengah proses pemulihan tersebut, kata Armia, kebutuhan air bersih warga turut dipenuhi melalui upaya darurat.

Bupati mengatakan bantuan TNI dan Polri dalam pengeboran sumur tanah sangat membantu masyarakat.

Selain itu, bantuan suplai air menggunakan mobil tangki ke desa-desa juga terus berjalan untuk memastikan warga tetap mendapatkan akses air bersih.

Dalam rapat terbatas yang digelar di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak melaporkan bahwa pihaknya sudah melakukan pengeboran air bersih pada 129 titik di Aceh Tamiang.

Jumlah itu di luar tambahan sumur bor yang dilakukan BNPB dan Polri yang jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan titik.

"Yang ditempat pengungsian yang kita bor, terus di sekolah-sekolah, masjid, kecamatan. Jadi, kami bekerja simultan dari Kemenhan kirim 10 pemadam kebakaran makanya jalan cepat selesai (bersih)," katanya.

Dalam agenda yang sama, Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan sumur bor yang digali Polri berkedalaman sekitar 10 hingga 30 meter, sementara yang dibangun TNI AD berkedalaman 100 hingga 200 meter untuk kebutuhan air minum.

"Semuanya sudah dilaksanakan, tapi masih kurang. Untuk sehari-hari, saya rasa masih cukup untuk tanki air jalan terus setiap hari," katanya.