Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon
POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) berencana membangun membangun Bandar Udara (Bandara) di lapangan Sasi, Kelurahan Sasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten TTU, NTT. Rencananya, pembangunan Bandara di Kabupaten TTU ini bakal dilaksanakan pada awal tahun 2026 ini.
Demikian disampaikan Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo saat diwawancarai POS-KUPANG.COM, 1 Januari 2026.
Menurutnya, beberapa hari lalu, dirinya bersama Ketua DPRD TTU dan sejumlah pihak lainnya meninjau langsung lokasi bandara yang beberapa tahun sudah direncanakan untuk pembangunan namun tak terealisasi.
Rencana tersebut dilatarbelakangi niat Pemkab TTU untuk menghidupkan kembali bandara di TTU yang pernah ada pada tahun 1970an. Rencana tersebut dimudahkan lantaran Pemkab TTU telah memiliki lokasi luas yang sangat potensial dan memungkinkan untuk pembangunan bandara.
Baca juga: Polisi Sebut Korban Lakalantas Maut di Kota Kefamenanu, Kabupaten TTU Diduga Mabuk Miras
Alasan lain yang melatarbelakangi pembangunan bandara yakni potensi sumber daya alam (SDA) lain di TTU seperti mangan yang rencananya bakal dikeluarkan izin usaha dalam waktu dekat.
Di sisi lain tambang emas yang potensial di wilayah Miomaffo telah menjadi salah satu alasan tersendiri pembangunan bandara ini.
Saat ini pemerintah daerah sedang mengurus izin usaha tambang emas di wilayah itu. Potensi tersebut bakal menjadikan Kabupaten TTU menjadi sentra ekonomi yang bakal tumbuh pesat.
Peluang tersebut harus ditangkap demi memperpendek jarak tempuh dan mempersingkat waktu mobilitas barang dan perputaran roda ekonomi. Jika semua ini berjalan normal maka, Kabupaten TTU bakal menjadi pusat perekonomian baru di wilayah perbatasan RI-RDTL.
"Inilah yang mendorong kita untuk kemudian mengajak beberapa kalangan penerbangan untuk mau masuk ke TTU," ucapnya.
Rencana pembangunan ini diawali dengan pelaksanaan pembersihan lahan dan pembangunan pagar. Selanjutnya, akan dilakukan pembangunan landasan pacu berjarak 700 meter sampai 800 meter.
Pemkab TTU menargetkan pada bulan Maret 2026 mendatang, pendaratan perdana sudah bisa dilakukan. Sejauh ini Falentinus mengaku sudah membangun komunikasi dengan sejumlah investor.
Berdasarkan hasil komunikasi, Falentinus memperoleh masukan dimana pembangunan bandara ini bakal melayani penerbangan komersial yang nantinya akan menggunakan landasan pendek untuk penerbangan perintis.
Penerbangan perintis ini memiliki spesifikasi khusus dimana pesawat yang melayani penerbangan ini bisa mendarat di landasan ekstrem.
Selain emas dan mangan, Falentinus menilai pembangunan bandara ini juga menangkap peluang rencana pembangunan proyek Strategis Nasional (PSN) seperti garam di Kabupaten TTU. Ia meyakini kebutuhan penerbangan ke Kabupaten TTU ke depan akan meningkat pesat.
Pertimbangan lain diantaranya, sulitnya akses transportasi darat oleh masyarakat Kabupaten TTU. Pasalnya, akses transportasi udara di Kabupaten Belu yang selama ini menjadi tulang punggung transportasi udara di wilayah perbatasan hanya melayani 3 kali penerbangan dalam sepekan.
"Karena kesulitan itu maka punya kita ini melalui kerja sama dengan bandara perintis akan melayani penerbangan setiap hari, sehingga tentu kita akan diuntungkan," pungkasnya. (bbr)