Laporan Wartawan Serambi Indonesia Saifullah | Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Di tengah teriknya matahari, suara sekop dan cangkul terdengar bersahut-sahutan dari halaman Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Muara Batu, Aceh Utara.
Lumpur setebal hampir setengah betis menutupi ruang kelas, halaman, hingga lorong madrasah.
Namun semangat tak pernah surut dari wajah Muhaimin, seorang guru senior, dan rekannya Agussalim, staf madrasah, yang sejak pagi bergelut dengan lumpur demi mengembalikan wajah sekolah mereka.
Banjir besar yang melanda kawasan Aceh pada akhir November 2025 lalu, meninggalkan jejak kerusakan di MIN 1 Muara Batu.
Madrasah yang biasanya riuh oleh suara anak-anak kini berubah menjadi lautan lumpur pekat.
Muhaimin mengaku hatinya teriris melihat ruang belajar yang selama ini menjadi tempat menanamkan ilmu, kini tak bisa digunakan.
Baca juga: Yonif TP 837/KT Bersihkan Lumpur di Sekolah dan Puskesmas Peusangan Bireuen
“Kami tidak bisa menunggu. Anak-anak harus segera kembali belajar. Karena itu, meski berat, kami turun langsung membersihkan madrasah,” ujarnya sambil menghela napas panjang.
Upaya Muhaimin dan Agussalim tidak dilakukan sendirian.
Polres Lhokseumawe mengerahkan puluhan personel untuk membantu proses pembersihan.
Kehadiran aparat membuat pekerjaan lebih ringan, sekaligus memberi semangat baru bagi para guru.
Tak hanya itu, relawan dari Sahabat Kemanusiaan Karawang juga datang jauh-jauh dari Jawa Barat untuk bergabung.
Mereka membawa peralatan kebersihan, masker, dan tenaga ekstra.
Baca juga: 200-an Rumah Warga Kutablang-Bireuen Masih Tertimbun Lumpur
Pemandangan gotong royong itu menjadi bukti nyata solidaritas.
Guru, staf, aparat kepolisian, dan relawan bahu-membahu mengangkat lumpur, menyiram lantai, hingga menata kembali meja dan kursi yang sebelumnya terendam.
Sesekali terdengar canda tawa di sela-sela kerja keras, seakan ingin menepis rasa lelah.
Agussalim menuturkan, meski pekerjaan ini berat, semangat mereka tak pernah padam.
“Kami ingin anak-anak kembali belajar dengan nyaman. Madrasah ini bukan sekadar bangunan, tapi rumah kedua bagi mereka,” tuturnya.
Bagi Muhaimin, perjuangan ini adalah panggilan hati.
Baca juga: Empat Hari, Personel BKO Brimob Bersihkan Lumpur di Dua SDN Baktiya yang Terdampak Banjir
Ia percaya pendidikan harus tetap berjalan meski bencana datang silih berganti.
“Kami ingin menunjukkan kepada murid-murid bahwa guru mereka tidak pernah menyerah,” terang dia.
“Ini juga pelajaran hidup tentang keteguhan dan kebersamaan,” tambahnya.
Kisah perjuangan Muhaimin dan Agussalim bersama Polres Lhokseumawe serta relawan Sahabat Kemanusiaan Karawang menjadi simbol keteguhan masyarakat Aceh Utara.
Di balik lumpur yang menimbun madrasah, tersimpan semangat pantang menyerah untuk bangkit.
Baca juga: Instruksi Gubernur Mualem, ASN Dinas Pengairan Aceh Bersihkan Lumpur di SMP 4 Karang Baru
Mereka percaya, dengan kerja sama dan kepedulian, pendidikan anak-anak akan tetap berjalan, dan madrasah akan kembali berdiri tegak sebagai pusat ilmu dan harapan.(*)