AS Desak Israel Buka Rafah, Akses Gaza Disebut Segera Normal Kembali
January 02, 2026 06:30 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Israel bersiap membuka kembali Penyeberangan Rafah antara Jalur Gaza dan Mesir menyusul kunjungan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ke Amerika Serikat (AS), menurut media Israel Kan 11, Kamis (1/1/2026).

Keputusan tersebut dilaporkan muncul setelah tekanan Presiden AS Donald Trump untuk memastikan bantuan kemanusiaan dapat masuk ke Gaza dan warga Palestina dapat keluar masuk wilayah tersebut.

Penyeberangan Rafah telah lama menjadi satu-satunya jalur bagi warga Gaza untuk mengakses dunia luar.

Namun sejak Mei 2024, pasukan Israel menduduki sisi Palestina perbatasan ini, menghancurkan bangunan, dan membatasi perjalanan, memicu krisis kemanusiaan, terutama bagi pasien.

Fase pertama dari rencana gencatan senjata 20 poin Trump menekankan pentingnya membuka Rafah di kedua arah dan memasukkan bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Meski demikian, Israel sebelumnya hanya bersedia membuka penyeberangan untuk keluar warga Palestina, sementara Mesir menutup akses masuk, menimbulkan kekhawatiran internasional.

Para menteri luar negeri dari Mesir, Indonesia, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi tersebut dan menolak pengusiran warga Palestina dari tanah mereka.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada The Times of Israel bahwa Israel kemungkinan membuka Rafah dalam beberapa hari mendatang, setelah Netanyahu kembali dari AS.

Trump memuji Netanyahu sebagai “pahlawan” dan menegaskan Israel memenuhi rencana perdamaian AS secara penuh.

Kepala IDF, Eyal Zamir, menegaskan bahwa tahun 2026 akan menjadi “tahun menentukan” bagi keamanan Israel.

Ia menambahkan, Israel tetap bertekad melucuti senjata Hamas dan mencegah kelompok itu membangun kembali kemampuan militernya.

Baca juga: Kushner dan Netanyahu Bahas Fase Kedua Rencana Trump untuk Gaza, 200 Pejuang Hamas Terjebak di Rafah

Meski gencatan senjata sejak Oktober 2025 sebagian besar menghentikan pertempuran antara Israel dan Hamas, beberapa laporan mengungkapkan pelanggaran masih terjadi.

Hamas menegaskan tidak akan menyerahkan senjatanya.

Selain itu, hujan lebat mengancam pengungsi Palestina.

Kementerian Kesehatan Hamas melaporkan beberapa korban tewas akibat tembakan IDF dan runtuhnya bangunan akibat hujan, termasuk anak-anak.

Puluhan ribu pengungsi menghadapi risiko banjir karena rusaknya tenda dan tempat penampungan akibat perang dan hujan lebat.

Militer Israel mengatakan pihaknya telah mengizinkan masuk ratusan ribu tenda dan terpal, menunggu izin organisasi internasional untuk memasukkan hampir 100.000 palet barang terkait air.

Pasukan Israel juga menemukan peluncur roket siap tembak di Gaza utara, yang dihancurkan sesuai prosedur keamanan.

Langkah ini diharapkan menormalkan akses kemanusiaan bagi warga Gaza sekaligus menjaga keselamatan mereka.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.