TRIBUNTRENDS.COM - Kepergian Antoineta Evia Maria (21) bukan hanya menyisakan kesedihan mendalam, tetapi juga membuka tabir kegelisahan yang selama ini ia pendam sendirian.
Di balik sosoknya yang dikenal ceria dan penuh mimpi, Evia ternyata memikul beban berat yang perlahan menggerus ketenangannya.
Sahabat dekat almarhumah, Nadia, akhirnya angkat bicara. Ia mengungkapkan bahwa sebelum Evia ditemukan meninggal dunia pada Selasa pagi, 30 Desember 2025, almarhumah sempat mencurahkan keresahan terkait dugaan pelecehan seksual yang diduga dialaminya.
Evia Maria merupakan mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Manado (Unima) yang ditemukan meninggal secara tidak wajar di kamar kosnya.
Baca juga: Sisi Gelap Dosen UNIMA yang Diduga Lecehkan Maria Dibongkar Alumni: Suka Bahas Hal Intim di Kelas
Mahasiswi asal Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara itu ditemukan tak bernyawa di sebuah indekost yang berlokasi di Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon.
Kabar duka tersebut sontak mengguncang Sulawesi Utara.
Gelombang kesedihan tak hanya datang dari keluarga, tetapi juga dari sahabat-sahabat terdekat Evia, termasuk Nadia, teman seperjuangannya sejak masa sekolah.
Nadia dan Evia bukan sekadar teman biasa. Keduanya telah menjalin persahabatan sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Mereka sama-sama menempuh pendidikan di SMK Negeri 1 Siau Timur, Jurusan Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran (OTKP), dan mulai berteman sejak tahun 2019.
Menurut Nadia, hubungan mereka telah melampaui sekadar sahabat. Ikatan batin yang terjalin membuat mereka merasa layaknya saudara kandung.
Meski setelah lulus mereka tinggal di daerah berbeda Evia menetap di kos di Tomohon sementara Nadia tinggal di Manado komunikasi di antara keduanya tetap terjalin erat dan intens.
Dalam keterangannya kepada wartawan Tribunmanado.co.id, Nadia mengungkap percakapan terakhirnya dengan Evia—percakapan yang kini menjadi kenangan paling menyayat.
Evia, menurut Nadia, kerap mencurahkan isi hatinya terkait dugaan pelecehan seksual yang dialaminya. Sosok yang sering disebut Evia dalam curhatan tersebut adalah salah satu oknum dosen di lingkungan Unima.
Beberapa waktu sebelum meninggal dunia, Evia bahkan sempat datang langsung ke kos Nadia. Kedatangannya bukan tanpa alasan.
Saat itu, Evia menyampaikan keinginannya untuk berkunjung karena ingin bercerita, sembari memperlihatkan rencana foto studio yang menyerupai foto kelulusan SMA.
Baca juga: Pesan WA Terakhir Mahasiswi UNIMA Sebelum Bunuh Diri: Mimpi Rayakan Tahun Baru Sirna, Adik Histeris
Namun suasana berubah mendadak.
“Waktu di kos, dia tiba-tiba curhat sambil menangis.
Dia cerita tentang dosen yang diduga melecehkannya,” kata Nadia saat diwawancarai melalui akun Facebook miliknya bernama Nadia, Kamis 1 Januari 2026 sore.
Tangisan itu, yang kala itu mungkin hanya dianggap sebagai pelampiasan kesedihan, kini terasa seperti jeritan terakhir yang tak sempat tertolong.
Tak hanya satu kali Evia mengungkapkan kegelisahannya. Nadia menuturkan bahwa sahabatnya itu juga pernah mengaku menerima perlakuan tidak pantas melalui pesan langsung atau direct message (DM) dari dosen yang bersangkutan.
Bahkan, Evia sempat mengirimkan pesan suara kepada Nadia.
Dalam voice note tersebut, Evia mengaku telah melaporkan dugaan pelecehan seksual yang dialaminya kepada Wakil Dekan III (WD III).
“Almarhumah bilang sudah lapor ke WD III soal pesan DM dan perlakuan dosen itu,” kata Nadia.
Pengakuan itu menunjukkan bahwa Evia tidak sepenuhnya diam. Ia berusaha mencari jalan keluar, meski ketakutan terus membayangi.
Baca juga: Alumni UNIMA Bongkar Borok Dosen yang Lecehkan Maria: 10 Tahun Lalu Saya Kuliah, Pelakunya Juga Dia!
Pada 15 Desember, bertepatan dengan hari ulang tahun Nadia, Evia kembali menghubunginya.
Bukan untuk sekadar memberi ucapan atau berbagi tawa, melainkan untuk mencurahkan rasa takut yang kembali menghantuinya.
Evia meminta pendapat Nadia karena merasa tertekan dan khawatir dengan sikap dosen tersebut.
“Saya bilang ke dia, lebih baik lapor saja. Kalau tidak, takutnya dosen itu bisa bertindak seenaknya lagi ke mahasiswa lain,” ujar Nadia.
Dorongan itu akhirnya membuat Evia mengambil langkah lebih jauh.
Menurut cerita Evia kepada Nadia, keesokan harinya ia mengabarkan bahwa laporan dugaan pelecehan seksual tersebut telah disampaikan secara lisan kepada WD III.
Nadia juga menyebut, berdasarkan cerita Evia, pihak WD III menyarankan agar laporan itu dituangkan dalam bentuk surat pernyataan tertulis untuk kemudian dilanjutkan ke pihak pusat atau pimpinan kampus.
Di balik beban berat yang ia tanggung, Nadia mengenang Evia sebagai pribadi yang ceria dan penuh semangat. Evia dikenal memiliki mimpi besar tentang masa depannya.
Salah satu cita-cita yang paling sering ia ceritakan adalah keinginannya untuk menjadi seorang pramugari.
“Dia sering bilang sebenarnya dia sangat ingin jadi pramugari,” kata Nadia.
Mimpi itu kini tinggal cerita sebuah harapan yang terhenti sebelum sempat terbang tinggi.
Kematian Evia Maria bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga memicu kegemparan di tengah masyarakat Sulawesi Utara.
Perhatian publik semakin tersedot setelah beredarnya sebuah surat yang ditujukan kepada Dekan FIPP Unima.
Surat tersebut berisi dugaan pelecehan seksual yang disebut-sebut dilakukan oleh oknum dosen Unima berinisial DM.
Tribunmanado.co.id kemudian merangkum lima fakta terkait kematian Evia Maria, yang dipublikasikan pada Rabu, 31 Desember 2025.
Kisah Evia kini bukan sekadar cerita duka seorang mahasiswi yang pergi terlalu cepat, melainkan juga potret sunyi tentang jeritan yang sempat disampaikan namun mungkin belum sepenuhnya didengar.
***