WARTAKOTALIVECOM, Jakarta — Memasuki awal 2026, Kementerian Kesehatan RI mengonfirmasi telah terdeteksinya varian Influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia.
Varian ini kerap dijuluki “super flu”, bukan karena tingkat keganasannya yang mematikan, melainkan lantaran daya penularannya yang relatif cepat.
Satu orang yang terinfeksi berpotensi menularkan virus ini ke beberapa orang di sekitarnya dalam waktu singkat.
Meski istilah “super” terdengar mengkhawatirkan, para ahli menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan lonjakan signifikan pada angka rawat inap, kebutuhan perawatan intensif, maupun kematian akibat subclade K.
Situasi ini dinilai berbeda dengan fase awal pandemi COVID-19, ketika lonjakan kasus berat terjadi secara masif dalam waktu singkat.
Sejumlah dokter menjelaskan bahwa gejala yang ditimbulkan oleh subclade K memang bisa terasa lebih berat dibandingkan flu musiman pada umumnya.
Pasien dapat mengalami demam tinggi yang mencapai 39 hingga 41 derajat Celsius, nyeri otot hebat, kelelahan ekstrem, batuk kering, serta sakit kepala dan tenggorokan.
Namun, tingkat keparahan ini tidak serta-merta berarti lebih berbahaya dibandingkan COVID-19 pada kondisi saat ini, yang mayoritas kasusnya justru bergejala ringan hingga sedang.
Kelompok masyarakat yang perlu meningkatkan kewaspadaan adalah anak-anak, lansia, serta individu dengan penyakit penyerta.
Perbedaan daya tahan tubuh dan intensitas aktivitas sosial membuat kelompok ini lebih rentan mengalami komplikasi bila terinfeksi.
Data Kemenkes menunjukkan, anak usia 1–10 tahun menyumbang sekitar 35 persen dari total kasus yang terdeteksi, sehingga menjadi perhatian khusus dalam upaya pencegahan.
Hingga akhir Desember 2025, Kemenkes RI mencatat terdapat 62 kasus infeksi Influenza A (H3N2) subclade K yang terkonfirmasi di delapan provinsi.
Juru Bicara Kemenkes, drg Widyawati, mengungkapkan bahwa mayoritas kasus dialami oleh perempuan, dengan persentase sekitar 64 persen.
Meski jumlah kasus masih tergolong terbatas, temuan ini dinilai sebagai sinyal penting untuk meningkatkan kewaspadaan nasional.
Menurut Kemenkes, tingginya daya penularan varian ini menuntut kesiapsiagaan bersama, terutama di tengah mobilitas masyarakat yang kembali meningkat pascalibur akhir tahun.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap disiplin menjalankan langkah-langkah pencegahan yang selama ini sudah dikenal.
Vaksin influenza masih dinilai efektif untuk menurunkan risiko keparahan gejala, terutama bagi kelompok rentan.
Selain itu, langkah sederhana seperti menjaga kebersihan tangan, menggunakan masker saat sedang sakit atau berada di keramaian, serta menjaga imunitas tubuh melalui pola hidup sehat tetap menjadi kunci utama.
Pesan yang disampaikan otoritas kesehatan pun tegas: tetap tenang menghadapi kemunculan subclade K, namun jangan lengah terhadap potensi penularannya.