Sosok Kepala Desa Braja Asri Meninggal Diserang Gajah Liar di Lampung Timur
January 02, 2026 11:48 AM

 

PROHABA.CO, LAMPUNG TIMUR -  Kabar duka menyelimuti Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur, setelah Kepala Desa (Kades) Darusman meninggal dunia akibat serangan kawanan gajah liar pada Rabu (31/12/2025).

Kepergian Darusman bukan hanya kehilangan bagi keluarganya, tetapi juga bagi seluruh warga desa yang selama ini merasakan pengabdian totalitas dari sosok pemimpin yang dikenal sigap dan penuh dedikasi.

Sebagai kepala desa, Darusman selalu menjadi garda terdepan ketika warganya menghadapi ancaman kawanan gajah liar.

Desa Braja Asri sendiri merupakan salah satu permukiman penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK), kawasan konservasi yang menjadi habitat gajah Sumatra.

Kondisi geografis ini membuat warga desa kerap berhadapan langsung dengan kawanan gajah liar yang masuk ke area perladangan dan permukiman.

Kronologi Kejadian

Pada hari nahas itu, sekitar pukul 09.30 WIB, Darusman menerima tiga kali panggilan telepon dari warga yang melaporkan masuknya kawanan gajah liar ke area perladangan.

Menyikapi laporan tersebut, Darusman segera bersiap dan bergabung dengan ratusan warga lain untuk menghalau gajah agar tidak semakin masuk ke wilayah desa.

Sekitar pukul 10.30 WIB, upaya penghalauan dilakukan dengan membagi warga ke dalam beberapa kelompok.

Kawanan gajah yang berjumlah sekitar 17 ekor digiring menggunakan kembang api atau petasan, sebuah cara tradisional yang biasa digunakan warga untuk menakuti gajah agar kembali ke habitatnya.

Darusman bersama kelompoknya berjaga di sisi barat, sementara kelompok lain menghadang dari arah timur.

Namun, situasi berubah drastis ketika kawanan gajah dari arah timur mendekat dan akhirnya berhadapan langsung dengan tim Darusman.

Dalam kondisi panik, Darusman terjatuh, dan dua ekor gajah menyerangnya.

Ia mengalami luka serius di bagian kaki, dada, dan pelipis.

Warga yang berada di lokasi segera mengevakuasi Darusman ke rumah sakit terdekat, namun nyawanya tidak tertolong.

Baca juga: Kawan Gajah Liar Kembali Obrak-Abrik Kebun Warga di Pasie Raya Aceh Jaya, Dihalau Pakai Petasan

Sosok Pemimpin yang Totalitas

Kakak kandung Darusman, Kusnan, mengenang adiknya sebagai sosok pemimpin desa yang totalitas dalam mengabdi.

Menurutnya, Darusman selalu hadir di lapangan setiap kali ada laporan masuknya gajah liar.

Ia tidak pernah ragu untuk mendampingi warganya, meski risiko yang dihadapi sangat besar.

“Sebagai kakak, saya kehilangan sosok adik.

Selaku warga Braja Asri, kami kehilangan sosok pemimpin desa yang semangatnya totalitas dalam bekerja,” ujar Kusnan dengan nada penuh duka saat diwawancarai di kediamannya di Lampung Timur, Kamis (1/1/2026).

Darusman dikenal sebagai kades yang tidak hanya memimpin dari balik meja, tetapi selalu turun langsung ke lapangan.

Baginya, tugas seorang kepala desa bukan sekadar administratif, melainkan juga memastikan keselamatan dan kesejahteraan warganya.

Kepala Desa Braja Asri, Darusman
KADES DARUSMAN - Kusnan, kakak kandung Kepala Desa Braja Asri, Darusman, saat menceritakan insiden masuknya kawanan gajah liar hingga menewaskan adiknya, Kamis (1/1/2026). Sebagai kades, Darusman disebut selalu sigap ketika mendapat laporan dari warganya terkait kedatangan gajah liar. (Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq)
 

Konflik Gajah Liar yang Berulang

Kusnan menuturkan bahwa kejadian masuknya kawanan gajah liar ke permukiman warga bukanlah hal baru.

Sepanjang tahun 2025, peristiwa serupa terjadi berulang kali.

Dugaan kuat, kawanan gajah tersebut mencari sumber makanan dari hasil pertanian warga, seperti jagung dan padi.

Kondisi ini membuat warga desa penyangga TNWK hidup dalam kecemasan.

Menjelang masa panen, bukannya merasa senang, para petani justru dihantui rasa takut hasil panen mereka dimakan gajah liar.

Banyak warga yang harus berjaga di ladang sepanjang malam demi melindungi sumber penghidupan mereka.

“Menjelang panen, para petani justru tidak bisa tidur dengan tenang karena sibuk berjaga di lahan pertanian mereka,” kata Kusnan.

Baca juga: Polres Nagan Raya Amankan Truk Tangki Bermuatan 16.000 Liter Solar Subsidi Ilegal

Harapan Warga terhadap Pemerintah

Kusnan menegaskan bahwa warga desa penyangga Way Kambas membutuhkan solusi konkret dari pemerintah.

Menurutnya, konflik gajah liar bukan hanya terjadi di Braja Asri, tetapi juga di desa-desa lain seperti Braja Selebah, Purbolinggo, dan Labuhan Ratu.

“Kalau tidak dihalau warga, habis tanaman jagung, padi, milik petani dimakan gajah liar.

Inilah yang menjadi masalah bertahun-tahun.

Kalau tidak ada solusi konkret, kejadian ini bakal terus berulang,” tegas Kusnan.

Warga berharap pemerintah Kabupaten Lampung Timur bersama pihak terkait dapat mengambil langkah serius dalam menangani konflik manusia dengan gajah liar.

Tanpa penanganan yang tepat, korban jiwa dan kerugian ekonomi akibat rusaknya lahan pertanian akan terus terjadi.

Gajah Liar dan Konservasi

Gajah liar adalah gajah yang hidup bebas di habitat alaminya tanpa campur tangan manusia.

Di Indonesia, gajah liar merujuk pada gajah Sumatra yang hidup di hutan Sumatra dan dilindungi undang-undang karena statusnya yang terancam punah.

Keberadaan mereka sangat penting bagi ekosistem, namun konflik dengan manusia sering muncul akibat perambahan hutan dan berkurangnya sumber makanan alami.

Kasus yang menimpa Darusman menjadi gambaran nyata betapa kompleksnya hubungan antara manusia dan satwa liar.

Di satu sisi, gajah perlu dilindungi sebagai bagian dari konservasi.

Di sisi lain, masyarakat yang tinggal di sekitar habitat gajah juga berhak atas rasa aman dan perlindungan terhadap sumber penghidupan mereka.

Baca juga: Hendak ke Kebun, Seorang Warga Bener Meriah Nyaris Diinjak Gajah Liar

Baca juga: Kawanan Gajah Liar Kembali Rusak Kebun Warga di Pucok Panga Aceh Jaya

Baca juga: Doktif Resmi Jadi Tersangka Kasus Pencemaran Nama Baik Richard Lee, Terancam 2 Tahun Penjara

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.