TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Unggahan terakhir Evia Maria Mangolo, mahasiswi Universitas Negeri Manado (UNIMA) sebelum tewas mengenaskan tengah jadi sorotan.
Pasalnya sebelum meninggal dunia, Evia Maria sempat membongkar kelakuan bejat sang dosen.
Kabar kematian mahasiswi usia 21 tahun itu belakangan viral di media sosial.
Sebab Evia Maria kabarnya adalah korban pelecehan seksual dari sang dosen berinisial DM.
Usai membongkar perangai buruk sang dosen kepadanya, Evia ditemukan tewas di kamar kosannya di kawasan Kaaten, Kota Tomohon, Sulawesi Utara pada Selasa (30/12/2025).
Kematian Maria sontak memicu tanda tanya besar perihal pemicunya.
Maria disebut-sebut meninggal dunia karena depresi sehingga mengakhiri hidupnya.
Namun beberapa hari sebelum meregang nyawa, Maria sempat memosting sesuatu di media sosial hingga menulis surat.
Postingan terakhir Maria itu sempat dilihat oleh keluarganya, termasuk sang tante, Ketsia.
Kepada awak media, Ketsia menceritakan unggahan Maria sebelum ditemukan tewas mengenaskan di kamar kosan.
Sebelum tanggal 25 Desember 2025, Maria sempat memosting dirinya sedang mandi di pantai bersama sang adik.
Lalu di unggahan berikutnya, Maria membagikan momen bahagia perihal keberhasilannya menyelesaikan KKN.
Maria juga sempat memosting soal kado natal untuk sang mama.
"Ia unggah sesuatu seperti kertas, mungkin tanda berhasil menyelesaikan KKN dan menulis kado natal untuk mama (Maria)," ujar Ketsia.
Sedianya Maria pulang ke rumahnya di hari Natal.
Namun Maria akhirnya tetap tinggal di kosannya sampai menjelang tahun baru lalu ia pun ditemukan meninggal dunia di kamar kosan.
"(Maria) tidak jadi (pulang ke rumah) karena tidak dapat tiket," imbuh Ketsia.
Pada tanggal 16 Desember 2025, Maria membuat surat aduan untuk pihak kampus guna melaporkan tindakan bejat sang dosen berinisial DM.
Dalam surat tersebut, Maria menceritakan kronologi dugaan pelecehan seksual yang ia alami yang dilakukan oleh DM pada tanggal 12 Desember 2025.
"Saya mengajukan laporan terkait dengan tindak pelecehan yang dilakukan oleh DM," tulis Maria.
Dihimpun TribunnewsBogor.com, di dalam surat tersebut, Maria menceritakan awal mula dugaan pelecehan itu ia terima dari sang dosen.
Mulanya Maria diminta sang dosen untuk masuk ke mobilnya yang ada di parkiran.
Maria yang merupakan mahasiswi semester akhir pun akhirnya menuruti perintah DM atau yang karib ia sapa dengan sebutan mner.
Dari sanalah Maria mulai mengalami kejadian mengejutkan.
"Beliau memaksa saya untuk duduk di depan, saya menolak perintah tersebut, di situ saya mulai ragu dengan mner saya takut diapa-apain sama beliau. Beliau memaksa saya pindah di depan dengan melangkah saja, posisi saya pakai rok," ungkap Maria.
Selama di dalam mobil bersama DM, Maria merasa gusar dan tak nyaman.
Terlebih saat sang dosen menggerayangi tubuhnya tanpa izin.
"Setelah saya sudah di depan, mobilnya jalan lagi sampai depan prodi psikologi, di situ beliau sudah menurunkan sedikit kursinya seperti berbaringm, saya disuruh urut. Saya bilang nda tau ba urut (tidak bisa urut). Dikasih contoh oleh mner begini sapu-sapu saja (posisi tangannya sudah mengusap-usap belakang saya). Semakin tidak nyamannya saya tangan beliau tanpa izin dia meletakannya di paha saya sambil bicara kalau urut itu enaknya sambil tidur," ujar Maria.
Tak cuma itu, Maria bahkan diduga mendapatkan pelecehan verbal.
Yakni sang dosen sempat mengajaknya berbincang hal-hal dewasa soal jika mereka menginap satu kamar.
Mendengar ucapan sang dosen, Maria sontak menangis.
"Saya bilang mner ini sudah kelewatan tapi dengan pikirannya yang biadap beliau hanya berkata 'nda apa apa torang manusia semua pasti ada kesalahan, jadi kalau sudah terjadi ya terjadi no'. Di situ saya semakin jijik dan sudah tidak tahan dikurung dalam mobil," kata Maria.
Namun saat Maria menangis, dosen DM justru kian nekat.
Maria mengaku mendadak pipinya dicium oleh sang dosen.
"Beliau bertanya bisa mo dicium, saya bilang tidak mner ini sudah lewat batas. Saya sudah takut sambil menangis tapi saat saya menangis beliau tidak melihat. Tiba-tiba beliau sudah menarik pipi untuk diciumnya (mencium saya). Posisi tangan kiri saya pakai untuk menutup mulut saya dan tangan kanan saya mendorong mner. Terus dia bilang 'bibir nda'. Saya bilang tidak mau," imbuh Maria.
Usai kejadian tersebut, Maria tampak syok hingga akhirnya ia menulis surat aduan untuk pihak kampus.
Baca juga: Nasib Tragis Mahasiswi Sembunyikan Kehamilan, Tewas Usai Nekat Melahirkan Sendiri di Kamar Kos
Atas kematian Maria yang mendadak dan tak terduga, keluarga tak lantas menerimanya.
Ketsia menceritakan temuan mengejutkan soal kematian sang ponakan.
Keluarga syok menemukan adanya tanda tak biasa di jenazah Maria.
Hal itulah yang mendorong keluarga akhirnya meminta agar jenazah Maria diotopsi.
"Ada tanda biru seperti tanda seperti luka," pungkas Ketsia dilansir dari Tribun Manado, Jumat (2/1/2026).
Tanda luka itu terdapat di pinggang kiri dan di paha atas jenazah korban.
Permintaan keluarga korban agar jenazah Maria diotopsi itu berkaitan dengan laporan kepolisian yang dibuat oleh keluarga.
Pihak keluarga akhirnya membawa kasus kematian Maria itu ke ranah kepolisian.