TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU- Kehadiran Grup Astra Agro di Dusun Tikke, Kabupaten Pasangkayu, telah menjadi tonggak perubahan besar bagi kehidupan masyarakat setempat.
Dari wilayah yang semula serba terbatas, Dusun Tikke kini tumbuh menjadi kawasan yang lebih terbuka dan berkembang, seiring harmoni yang terbangun antara perusahaan dan warga.
Tokoh masyarakat Dusun Tikke, Hamma P yang akrab disapa Ambe Aja, mengenang masa-masa awal kehadiran perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut. Menurutnya, perubahan yang terjadi terasa begitu signifikan.
Baca juga: Depan Rujab Ketua DPRD Sulbar Mulai Bersih, Pedagang Pilih Bongkar Lapak Takut Kena Denda Rp10 Juta
Baca juga: Jadwal KMP Swarna Kartika Rute Mamuju-Kariangau Januari 2026, Cek Jam Keberangkatannya
Terutama berkat kehadiran Grup Astra Agro, salah satunya PT Letawa.
“Tidak pernah terlintas di pikiran kami bisa berkembang dan maju seperti sekarang,” ujar Ambe Aja.
Pembukaan wilayah dimulai dengan masuknya alat-alat berat milik Astra Agro, seperti grader dan dozer, yang diturunkan di kawasan Jono sebelum membuka akses menuju Dusun Tikke. Kenangan itu masih membekas di ingatan Ambe Aja.
Ia bercerita, bagaimana warga dusun pada waktu itu sangat terkagum-kagum ketika alat berat membuka akses dan membangun jalur perlintasan yang sangat penting untuk mobilitas penduduk.
Memang, kehadiran dan deru mesin dari alat berat tersebut menjadi awal terbukanya akses transportasi darat.
Dusun yang sebelumnya terisolasi perlahan terhubung dengan wilayah lain, membuka peluang baru bagi interaksi sesama penduduk dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Sebelum jalan darat tersedia, warga Dusun Tikke sepenuhnya mengandalkan jalur laut untuk menjual hasil bumi ke Donggala.
Perjalanan kerap terkendala cuaca. Tak jarang, masyarakat yang bekerja sebagai petani terpaksa menumpahkan hasil panen ke laut demi keselamatan penumpang perahu dari terpaan gelombang.
“Dulu semuanya benar-benar dimulai dari nol. Sumber penghasilan hanya dari hasil kebun yang dibawa naik perahu. Kalau ombak besar, kami lebih memilih menyelamatkan diri daripada memaksakan membawa hasil panen,” tutur Ambe Aja.
Lebih dari sekadar membuka akses jalan, kehadiran Astra Agro juga memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan warga. Salah satunya melalui penyediaan bibit tanaman yang hingga kini masih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Yang paling berkesan bagi saya adalah bantuan bibit. Kami diajari menanam, diberi bibit, dan hasilnya masih bisa kami nikmati sampai sekarang,” katanya.
Dari sisi sosial, Astra Agro turut membentuk budaya kerja yang kuat di Dusun Tikke. Warga setempat tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung sebagai bagian dari perusahaan.
“Di PT Letawa, Mamuang, LTT, sebagian besar karyawannya berasal dari lingkungan kami sendiri. Mulai dari pekerja, mandor, sampai mandor utama,” jelasnya.
Ia menilai kebersamaan dan solidaritas menjadi kekuatan utama yang memperkokoh hubungan antara perusahaan dan masyarakat.
“Mungkin dari luar terlihat seperti perusahaan keluarga. Tapi justru ikatan yang kuat itulah yang membuat Astra Agro semakin kokoh,” imbuhnya.
Community Development Area Manager (CDAM) Area Sulawesi Barat, Hermanto Rudi menegaskan bahwa kehadiran Astra Agro di Dusun Tikke merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kehadiran Astra Agro di Dusun Tikke adalah wujud komitmen kami untuk mendukung pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi yang terjalin kami harapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi pertumbuhan wilayah ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, perusahaan akan terus berkontribusi dalam pengembangan sosial dan ekonomi masyarakat melalui sinergi yang berkelanjutan antara perusahaan dan komunitas setempat.
Dengan infrastruktur yang semakin memadai dan kesejahteraan masyarakat yang terus meningkat, keberadaan Astra Agro di Dusun Tikke menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat mampu menghadirkan perubahan positif yang berkelanjutan.(*)