TRIBUNJAKARTA.COM, TAMAN SARI - Ramainya pengunjung yang memadati kawasan wisata Kota Tua Jakarta saat musim libur panjang Natal dan Tahun Baru 2026 tak melulu berbanding lurus dengan pendapatan para pelaku usaha kecil di dalamnya.
Di balik hiruk-pikuk wisata murah meriah itu, penyewa sepeda hias justru merasakan daya beli masyarakat yang kian melemah.
Suwandi (56), salah satu penyewa sepeda hias di Kota Tua, mengaku kondisi tersebut masih terasa hingga awal 2026.
Meski pengunjung silih berganti datang, tak sedikit dari mereka yang hanya berjalan-jalan tanpa mengeluarkan banyak biaya.
“Pengunjung memang masih ada. Harapannya juga masih ada. Tapi daya beli masyarakat itu terasa kurang, tidak seperti dulu,” ujar Suwandi saat ditemui di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Jumat (2/1/2026).
Suwandi bukan pemain baru, ia sudah menyewakan sepeda sejak 2008, jauh sebelum kawasan Kota Tua seramai sekarang.
Ia paham betul pasang surut kondisi wisata, termasuk dampak panjang pandemi Covid-19 yang hingga kini masih terasa.
“Kalau dibandingkan sebelum Covid-19, itu jauh. Setelah Covid sampai sekarang daya belinya belum stabil,” katanya.
Menurut Suwandi, Kota Tua sejatinya menjadi pilihan wisata favorit karena murah dan terbuka untuk semua kalangan.
Pengunjung bisa masuk tanpa tiket, menikmati suasana sejarah, hingga makan dan minum tanpa pungutan khusus.
“Di sini kan gratis. Bisa makan minum dengan tenang. Cuma diminta jaga kebersihan saja. Makanya orang tetap datang,” ucapnya.
Namun murahnya wisata juga berimbas pada keputusan pengunjung untuk menekan pengeluaran.
Sepeda hias yang disewakan Suwandi dipatok Rp25 ribu untuk durasi 30 menit. Harga itu dinilainya sudah paling terjangkau.
Ia pun mengaku kerap memberi kelonggaran waktu bagi penyewa.
Jika terlambat mengembalikan sepeda satu hingga beberapa menit, Suwandi memilih tak menambah biaya.
“Kalau cuma telat satu sampai lima menit, nggak masalah. Itu risiko saya,” tuturnya.
Risiko juga ia tanggung ketika sepeda rusak.
Suwandi mengaku tidak pernah meminta ganti rugi kepada penyewa selama kerusakan tersebut tidak disengaja.
“Kalau sepeda rusak, saya tidak minta ganti. Itu risiko saya. Namanya usaha,” ucapnya.
Dalam kondisi ramai, Suwandi biasanya mengeluarkan maksimal tiga sepeda dari total lima unit yang dimilikinya.
Sementara di hari biasa, hanya satu atau dua sepeda yang beroperasi.
Bagi Suwandi dan penyewa lain, ramainya Kota Tua menjadi harapan sekaligus dilema.
Pengunjung memang kembali berdatangan, namun dompet wisatawan yang belum sepenuhnya pulih membuat roda ekonomi kecil berputar lebih lambat.