TRIBUNJATIM.COM - Tahun baru biasanya menjadi momen paling sibuk bagi Rohmat dan istrinya.
Namun kali ini suasana berbeda dirasakan penjual jagung di Desa Cimaung, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tersebut.
Rohmat mengatakan, penjualan jagung di penghujung tahun 2025 kali ini tidak lagi seramai di tahun-tahun sebelumnya.
Baca juga: Pelajar sampai Trauma & Putus Sekolah usai Dibully Tak Punya HP, Istri Wabup Nangis Lihat Kondisinya
Rohmat dan istri tampak duduk di jongkonya menunggu pembeli datang sambil ditemani rintik hujan yang tak kunjung reda.
Tumpukan jagung tersusun rapi di atas meja kayu sederhana, berdampingan dengan buah-buahan seperti jeruk dan jambu.
"Dulu-dulu mah sampai habis tiga kuintal. Tahun kemarin cuma satu kuintal," kata Rohmat saat ditemui di jongkonya, Rabu (31/12/2025).
"Tahun sekarang rencananya dua kuintal, tapi jagungnya belum datang juga," imbuhnya, mengutip Tribun Jabar.
Rohmat menyebut, perubahan pola belanja masyarakat menjadi salah satu penyebab utama.
Layanan belanja daring yang menawarkan pengantaran langsung ke rumah membuat banyak orang enggan berhenti di lapak pinggir jalan, apalagi saat hujan turun.
"Sekarang mah banyak yang jualan online, diantar ke rumah-rumah. Kalau hujan gini, orang malas beli di sini," tuturnya.
Rohmat mengatakan, harga jagung pun ikut menyesuaikan kondisi pasar.
Jika sebelumnya jagung bisa dijual hingga Rp10 ribu per kilogram, kini harganya menurun seiring berkurangnya pembeli.
"Sekarang mah sekitar Rp25 ribu dapat tiga kilo, pembelinya juga sudah berkurang," kata Rohmat.
Rohmat mengingat tahun-tahun baru sebelumnya yang cenderung cerah, sehingga orang-orang lebih leluasa bepergian.
Kini, hujan yang datang hampir setiap hari membuat aktivitas jual beli ikut tersendat, meski pasokan jagung terbilang lancar.
"Pasokan mah lancar, cuma penjualannya aja yang agak sulit."
"Sama semua juga, tiap-tiap jongko juga begitu," ucapnya.
Lebih dari 30 tahun, Rohmat mengais rezeki di lokasi ini.
Sejak dulu, ia menjual jagung dan berbagai buah-buahan.
Ia juga menyaksikan perubahan wajah pariwisata di sekitarnya.
Jika dulu wisatawan ramai berhenti dan membeli di lapaknya, kini banyak yang memilih membeli langsung di area wisata.
"Sekarang pengunjung mah ada aja, cuma di tempat wisata juga banyak yang jualan. Jadi belinya di sana aja."
"Paling yang beli di sini itu langganan-langganan," katanya.
Meski tantangan semakin besar, Rohmat tetap bertahan dan konsisten berjualan mengandalkan para langganannya.
Lesunya penjualan saat momen Tahun Baru 2026 juga dirasakan sejumlah penjual terompet.
Budi Kurniawan (55) adalah satu di antaranya.
Budi merupakan perajin sekaligus penjual terompet asal Desa Baledono, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Sudah jualan terompet sejak tahun 1990, Budi kini harus menelan kenyataan pahit, lapak sepi, pembeli nyaris tak ada.
"Pernah gagal total. Modal sampai Rp15 juta habis, tapi terompet tidak laku," tutur Budi pada Rabu (31/12/2025).
Pengalaman pahit tersebut terjadi beberapa tahun lalu, saat ia berjualan di wilayah Kutoarjo bersama sekitar 20 pedagang terompet lainnya.
Kala itu, hasil penjualan nihil.
Baca juga: Ibu-ibu Nekat Keluar Mobil saat Keliling Taman Safari, Aksinya di Kandang Jerapah Jadi Sorotan
Meski sempat terpukul, Budi memilih tidak sepenuhnya meninggalkan keahlian yang telah ia tekuni sejak puluhan tahun lalu.
Memasuki awal 2025, Budi kembali mencoba peruntungan.
Dengan modal yang jauh lebih kecil, sekitar Rp2 juta, ia memproduksi sekitar 200 terompet hasil buatan tangannya sendiri.
Terompet-terompet tersebut dijual dengan harga Rp10 ribu per buah, jauh lebih murah dibandingkan produk pabrikan.
Namun, kenyataan kembali tak berpihak.
Dari pagi hingga sore hari, saat ia duduk menunggu di lapak sederhana, belum satu pun terompet berpindah tangan.
"Dari pagi sampai sore, belum ada yang beli," ucapnya pelan, sembari menata terompet berwarna-warni yang menggantung rapi di lapaknya, melansir dari Kompas.com.
Menurut Budi, perubahan pola hiburan masyarakat menjadi salah satu penyebab utama menurunnya minat terhadap terompet Tahun Baru.
Kehadiran telepon pintar berbasis Android membuat masyarakat lebih memilih hiburan digital dibandingkan tradisi lama menyambut pergantian tahun.
"Sekarang orang lebih asyik main HP. Terompet itu identiknya cuma buat Tahun Baru. Dulu masih bisa dipakai untuk acara lain," keluhnya.
Meski demikian, Budi menegaskan bahwa terompet buatannya murni untuk hiburan.
Ia menolak jika terompet dikaitkan dengan kepentingan politik atau agama.
Harapannya sederhana, bisa mendapatkan penghasilan yang sae, atau layak, untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Baca juga: Misnawati Nelangsa Kebun Dilumat Habis Gelondongan Kayu saat Banjir, Kini Jual Daun Buat Makan
Tak banyak yang tahu, Budi bukan penjual terompet biasa.
Sejak 1990, ia telah menekuni dunia perajin terompet dan dikenal sebagai salah satu pakar terompet tradisional di Purworejo.
"Sudah lama kalau menekuni bisnis ini, ini jadi salah satu penyambung hidup saya," kata Budi
Tangannya piawai menciptakan berbagai desain unik, mulai dari bentuk naga, karakter hewan, hingga model kreatif lain yang menjadi ciri khas karyanya.
Keahliannya membuat Budi kerap menjadi rujukan para pedagang terompet dari berbagai wilayah, seperti Kemiri, Katerban, hingga Kutoarjo, yang datang untuk belajar teknik pembuatan terompet darinya.
Sebelum fokus sebagai perajin, Budi juga pernah menjalani profesi sebagai penjual mainan keliling, berpindah dari satu tempat ke tempat lain demi menyambung hidup.
Kini, meski usia tak lagi muda dan pasar kian menyempit, ia tetap bertahan dengan keterampilan yang dimilikinya.
"Sebelum jual terompet, dulu jual mainan keliling, tapi sudah lama sekali," katanya.
Kisah Budi Kurniawan menjadi potret nyata ketangguhan pelaku usaha kecil di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Di balik sunyinya bunyi terompet Tahun Baru, tersimpan harapan sederhana seorang perajin.
Agar tradisi tak sepenuhnya hilang, dan jerih payah tangan tetap dihargai.
"Ya semoga ke depan dapat lebih baik, anak-anak bisa main terompet seperti dulu lagi," tutupnya.