Uji Coba Bus Listrik DIY Sepanjang 2025, Rute Jombor–Malioboro Dinilai Paling Potensial
January 02, 2026 03:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Perhubungan (Dishub) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menilai rute Jombor–Malioboro sebagai jalur paling potensial dalam uji coba operasional bus listrik sepanjang 2025.

Evaluasi tersebut didasarkan pada kajian awal serta hasil pengamatan selama satu tahun uji coba di sejumlah rute.

Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan DIY, Wulan Sapto Nugroho, mengatakan pemilihan rute Jombor–Malioboro sejak awal mempertimbangkan fungsi Terminal Jombor sebagai simpul transportasi tipe B dan tingginya kebutuhan masyarakat menuju kawasan Malioboro. 

“Rute Jombor–Malioboro dipilih karena kajian awal menunjukkan potensi tertinggi. Di Jombor ada terminal tipe B yang menjadi simpul naik-turun penumpang, dan saat itu belum ada rute langsung Jombor–Malioboro. Tujuannya untuk mempermudah masyarakat menggunakan angkutan umum ke Malioboro,” ujarnya.

Antusiasme Penumpang Cukup Tinggi

Hasil uji coba menunjukkan jumlah penumpang dari kawasan Malioboro tergolong cukup tinggi.

Meski demikian, permintaan dari arah timur, termasuk dari Bandara Adi Sutjipto, juga tercatat besar.

Namun, menurut Sapto, jalur bandara–Malioboro telah dilayani Bus Trans Jogja rute 1A dengan interval 15 menit sehingga dinilai sudah memadai. 

“Dari evaluasi, rute Jombor–Malioboro memang sesuai dengan kajian awal,” katanya.

Terkait jumlah penumpang harian, Sapto menjelaskan data detail tersedia, tetapi tidak seluruh periode uji coba dapat dijadikan acuan utama.

Hal ini disebabkan perubahan jam operasional selama uji coba, mulai dari delapan jam pada pagi hingga sore, hingga siang sampai malam hari. 

“Baru dua bulan terakhir kita coba operasi penuh 16 jam. Hasilnya menunjukkan masyarakat cukup tertarik, tetapi ini bukan persoalan bus listrik atau diesel,” ujarnya.

Baca juga: Hampir 500.000 Wisatawan Padati Tugu hingga Malioboro pada Malam Tahun Baru

Ia menegaskan bahwa pilihan masyarakat menggunakan angkutan umum lebih banyak dipengaruhi kebiasaan. 

“Pengguna transportasi pribadi tetap memilih motor, sementara mereka yang memang menggunakan angkutan umum akan naik bus listrik atau diesel,” kata Sapto.

Menurut Sapto, tantangan peningkatan jumlah penumpang bus listrik di Yogyakarta juga berkaitan dengan belum adanya kebijakan pendorong penggunaan angkutan umum. 

“Kebijakan seperti di Jakarta, misalnya ganjil-genap atau ERT, belum ada di Jogja. Tanpa adanya push policy, sulit meningkatkan jumlah penumpang secara signifikan,” ujarnya.

Teknis Operasional

Dari sisi teknis, kondisi armada bus listrik selama uji coba dinilai cukup baik.

Kendala mekanik sempat terjadi pada awal operasional karena operator masih dalam tahap pembelajaran.

Namun, selama satu tahun uji coba, tidak ditemukan masalah teknis maupun operasional yang berarti. 

“Secara keseluruhan cukup bagus. Jarak tempuh rute Jombor masih memungkinkan,” kata Sapto.

Untuk pengisian daya, bus listrik menjalani satu kali pengisian penuh selama operasional 16 jam.

Proses pengisian memakan waktu sekitar satu jam dengan ketentuan pengisian dilakukan saat kapasitas baterai mencapai batas minimum 20 persen. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.