TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemda DIY belum memiliki data pasti jumlah wisatawan yang masuk ke wilayah DIY selama masa liburan.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, memperkirakan angka kunjungan berada di kisaran 2 juta orang, meski hingga kini data tersebut masih dalam proses pengumpulan.
“Dari jumlah, dulu perkiraannya secara nasional itu hitungannya dari Kementerian Perhubungan sekitar 9 juta orang yang melakukan perjalanan. Tapi saya kira tidak sampai segitu, mungkin sekitar 2 jutaan yang masuk ke DI Yogyakarta. Namun, saya belum memiliki data pastinya,” kata Ni Made.
Ia menjelaskan, pemantauan pergerakan wisatawan ke DIY tidak mudah dilakukan karena banyaknya jalur masuk.
Data hanya bisa dihimpun dari simpul transportasi seperti bandara, stasiun, dan terminal, sementara sebagian besar wisatawan menggunakan kendaraan pribadi.
“Karena pergerakan keluar-masuknya memang seperti ini, agak susah juga untuk memantaunya. Kita memiliki banyak jalur masuk. Titik yang bisa dikumpulkan datanya itu bandara, stasiun, dan terminal. Sementara itu, kalau dilihat, banyak juga yang menggunakan kendaraan pribadi,” ujarnya.
Menurut Ni Made, perhitungan kendaraan yang masuk melalui jalur utama seperti Prambanan, Tempel, dan wilayah barat di Kabupaten Kulon Progo juga belum sepenuhnya mencerminkan jumlah wisatawan yang benar-benar berkunjung ke DIY.
“Tapi kan itu jalan utama ya, kan kadang orang lewat, misalnya ke Magelang dia lewat Klangon Tempel ya, dia lewat dari situ bis lewat. Kemudian dari Prambanan dia tidak masuk terus (ke Kota Yogya), tapi bisa kemudian lewat Prambanan Gading atau kemudian Prambanan Tempel. Bisa juga seperti itu, sehingga kemudian memang secara data pastinya itu kita juga kurang bisa pasti," ujarnya.
Baca juga: Uji Coba Bus Listrik DIY Sepanjang 2025, Rute Jombor–Malioboro Dinilai Paling Potensial
Kondisi libur kali ini, menurut Ni Made, jauh lebih ramai dibandingkan periode Lebaran.
Kemudahan akses menjadi salah satu faktor pendorong, termasuk keberadaan jalan tol meski belum sepenuhnya tersambung hingga Yogyakarta.
“Kalau dibandingkan mungkin dengan Lebaran, oh iya, ini ramai sekali. Jauh-jauh ramai ini. Mungkin karena situasinya juga, orang mendapatkan kemudahan akses. Jalan tol itu, walaupun belum sepenuhnya dibuka sampai Yogyakarta, tetapi itu memungkinkan orang sekarang lebih mudah menuju Yogyakarta,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, dampak liburan sudah mulai terasa, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ni Made menyebut tren kebangkitan UMKM mulai terlihat sejak libur Natal dan Tahun Baru.
“Dampak terhadap ekonomi DIY selama musim liburan ini jelas terasa. Orang tidak hanya menikmati Jogja dalam arti jalan-jalan dan pemandangan, tetapi juga menikmati UMKM kita,” katanya.
Namun, Pemda DIY belum memiliki data pasti terkait perputaran uang wisatawan.
Belanja wisatawan relatif sulit dipantau, terutama yang tidak menginap di hotel.
“Spending money ini juga belum kita ketahui secara pasti. Kita sering mengalami kesulitan karena belanja itu bisa terukur ketika wisatawan menginap di hotel, tetapi ketika menginap di homestay, misalnya, itu sulit dipantau,” ujar Ni Made.
Data tersebut diharapkan bisa diperoleh melalui survei Bank Indonesia.
"Nanti mungkin dari Bank Indonesia yang melakukan survei, biasanya itu seperti itu. Kita dapat tahu sejauh mana ya bisa terlihat dari situ," ujarnya. (*)