Jadwal Puasa Ramadhan 2026 Lengkap Kalender Hijriah, Download Gratis Resmi dari Kemenag
January 02, 2026 05:20 PM

POSBELITUNG.CO -- Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026.

Sementara itu, pemerintah belum memutuskan tanggal pasti kapan awal puasa Ramadhan 2026.

Pemerintah baru akan menetapkan tanggal pasti jatuhnya 1 Ramadan setelah menggelar rukyatul hilal melalui sidang isbat yang digelar pada akhir bulan Syawal.

Baca juga: Kalender Mei 2026, Ada 11 Hari Libur Termasuk Akhir Pekan, Download di Sini

Namun, pemerintah biasanya sudah menentukan prediksi jatuhnya 1 Ramadan yang tercatat dalam kalender resmi.

Berdasarkan kalender 2026 M/1447 H yang dirilis Kementerian Agama (Kemenag), 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 19 Februari 2026.

Berikut ini kalender 2026 dapat didownload gratis resmi dari Kementerian Agama (Kemenag).

DOWNLOAD KALENDER 2026 GRATIS

Awal Puasa Ramadan 1447 H/2026 Masehi

saat ini pemerintah belum menentukan kapan awal puasa Ramadhan 1447 H dilaksanakan.

Baca juga: Kalender Maret 2026, Bulan Paling Banyak Hari Libur, Berikut Daftarnya

Hal tersebut dikarenakan pemerintah menggunakan metode rukyatul hilal, di mana harus melalui sidang isbat yang dilakukan oleh Kementerian Agama.

Namun menurut Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri Nomor 1497 Tahun 2025, Nomor 2 Tahun 2025, dan Nomor 5 Tahun 2025 tentang Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026, Lebaran atau Idul Fitri 1447 H jatuh pada tanggal 21 dan 22 Maret 2026.

Berdasarkan SKB tersebut bisa dikatakan bahwa 1 Ramadhan 1447 H kemungkinan jatuh pada tanggal 19 atau 20 Februari 2026.

Meski begitu, masyarakat tetap harus menunggu pengumuman resmi dari pemerintah terkait kapan puasa Ramadhan 2026 dimulai.

Lain halnya dengan Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan puasa Ramadhan 1447 H/2026 M

Mengutip laman resmi Muhammadiyah, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah secara resmi menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Penetapan ini berbeda dari yang tercantum dalam kalender cetak Muhammadiyah versi awal, yakni 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Sementara itu, Lebaran atau 1 Syawal 1447 H menurut Muhammadiyah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Perbedaan Metode Rukyat dan Hisab

Dilansir dari laman baznas.go.id, rukyatul hilal memiliki makna melihat dengan mata adanya bulan sabit.

Penentuan puasa awal Ramadhan dengan metode ini berdasar pada penglihatan dan pengamatan bulan secara langsung yang berbentuk sabit atau belum terlihat bulat dari bumi.

Dalil terkait penggunaan metode ini terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 185, Allah SWT berfirman:

Artinya: "Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut."

Bulan yang dimaksud adalah bulan sabit muda sangat tipis pada fase awal bulan baru. Bulan inilah yang disebut dengan hilal.

Pengamatan hilal tersebut dilakukan pada  hari ke-29 atau malam ke-30, dari bulan yang sedang berjalan. Bila malam tersebut hilal sudah terlihat, maka malam itu sudah dimulai bulan baru.

Namun jika hilal tidak terlihat,  maka malam itu adalah tanggal 30 bulan yang sedang berjalan. Malam berikutnya dimulai tanggal satu bagi bulan baru atas dasar istikmal (digenapkan). 

Sementara, metode hisab adalah penentuan awal Ramadan berdasarkan perhitungan astronomis.

Metode ini meyakini adanya hilal meskipun tidak terlihat dengan mata telanjang selama memenuhi kriteria tertentu. 

Tiga syarat kriteria dalam penentuan hilal dengan metode ini di antaranya:

Baca juga: Kapan Awal Puasa Ramadhan 1447 Hijriah, Download Kalender 2026 PDF Gratis

  • Telah terjadi ijtimak (konjungsi)
  • Ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam. 
  • Pada saat terbenamnya matahari piringan atas bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud).

Ketiga kriteria tersebut harus terpenuhi untuk menandakan telah masuk dalam awal bulan hijriyah. 

Namun dengan catatan, bila menggunakan metode hisab hakiki kriteria ijtimak sebelum gurub (al-ijtima qabla al-gurub), tidak perlu lagi mempertimbangkan keberadaan bulan saat matahari terbenam di atas ufuk atau bukan.

Dalil terkait penggunaan metode hisab sebagai penentuan awal bulan hijriah terdapat pada surat Ar Rahman ayat 5, yakni:

"Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan."

Selain itu, terdapat pula pada surat Yunus ayat 5 yang berbunyi:

"Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-temat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun perhitungan (waktu)".

Kemudian, ada pula dalam hadis Bukhari dan Muslim:

"Apabila kamu melihat hilal berpuasalah, dan apabila kamu melihatnya ber-idul fitrilah. Jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka estimasikanlah."

"Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Maksudnya adalah kadang-kadang dua puluh sembilan hari, dan kadang-kadang tiga puluh hari."

(Posbelitung.co/TribunJabar.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.