Kisah Ayah Evia Maria Mangolo Mahasiswi Unima Meninggal di Tomohon Kerja Keras Demi Anak: Api Padam
January 02, 2026 05:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Cahaya sudah lenyap dari wajah Antonius Mangolo, semenjak sang anak Anthonieta Evia Maria Mangolo, meninggal dalam keadaan tak wajar di tempat kosnya di Tomohon, Sulawesi Utara (Sulut).

Pria ini dikenal punya semangat kerja yang sangat tinggi.

Ia berprofesi sebagai buruh bagasi.

Tanpa lelah ia berjerih, demi asa bahwa suatu hari putri mereka dapat hidup layak dan mengangkat kehidupan mereka.

"Tapi saat ini api itu sudah padam, inilah perasaan kami," katanya sambil meneteskan air mata kepada Tribun Manado, Jumat (2/1/2026) di rumah persemayaman di Perumahan CBA Gold Mapanget, Minahasa Utara (Minut), Sulut.

Antonius coba tegar.

Ia seperti hendak membesarkan hati sang istri yang terlihat terpukul.

Namun, saat itu, ia tak sanggup menahan tangisnya.

Pertahanannya jebol.

Antonius mengaku hanya orang kecil.

Tapi ia paham betul arti pendidikan.

Dirinya ingin sang anak menikmati pendidikan.

"Saya bekerja keras agar anak saya dapat jadi orang terdidik," katanya.

Ia berharap, dengan pendidikan tinggi, Evia bisa mengubah hidup mereka.

Namun ironisnya, dunia pendidikan juga yang telah merenggut anaknya.

"Ini terjadi di dunia pendidikan," katanya.

Ia meminta pihak kepolisian agar dapat mengusut tuntas kematian sang anak.

Dirinya mempercayakan penanganan kasus kematian anaknya pada aparat kepolisian.

"Saya minta pada pak Kapolda," katanya.

Ibu dan Guru SMP Kenang Evia Maria Mangolo

Dua wanita ini berpelukan dengan penuh kesedihan di samping peti jenazah keluarga Antoineta Evia Maria Mangolo, Jumat (2/1/2026) di Perum CBA Gold Mapanget, Minut, Jumat (2/1/2026).

Evia adalah mahasiswa Universitas Negeri Manado (Unima) yang meninggal tak wajar di tempat kos di Tomohon, Sulut.

Seorang wanita adalah Sofia Lontolawa, ibunda dari Evia Maria Mangolo.

Seorang lagi adalah guru SMP Evia.

Dari pelukan yang penuh duka itu, ia melangkah ke tragedi; sang murid yang terbaring kaku di peti jenazah.

Menangis lantas mengenang masa-masa indah bersama sang murid teladan, menangis lagi, mengingat lagi.

Sofia mengatakan, Evia memang disayangi para gurunya.

"Dia dengar-dengaran (penurut), baik, penurut dan pintar, setiap saya ketemu gurunya, semua menanyakan kabarnya," kata dia.

Di mata sang ibu, Evia bukan hanya bintang kelas, tapi bintang di rumah.

Ia ingat, Evia selalu bangun pagi.

"Ia ingin cepat-cepat ke sekolah, dia juga sangat rajin belajar," kata dia.

Dia mengakui Evia sosok pendiam.

Tapi di balik itu punya kemauan besar untuk maju.

"Evia sangat ingin maju dan berhasil untuk nantinya menjadi tumpuan hidup kami," katanya.

Sebut dia, sikap hidup Evia menular ke adiknya.

Sang adik belajar keras untuk sukses dan berharap dapat membahagiakan orang tuanya.

"Adiknya belajar giat, ingin dapat nilai tinggi," katanya.

Tak hanya rajin belajar belajar.

Evia juga sosok religius.

Sang anak kerap mengingatkan mamanya untuk beribadah atau Rosario.

"Ia kerap telepon saya, ingatkan jadwal ibadah," kata dia.

Ia menuturkan, Evia dan pacarnya sudah memutuskan untuk tunangan setelah wisuda.

Kuasa hukum keluarga, Cyprus Tatali mengungkapkan, Evia anak berprestasi.

"Nilainya 4 koma, seluruhnya A, hanya satu yang B," katanya.

(TribunManado.co.id/Art)

WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.