Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Bener Meriah
TribunGayo.com, REDELONG - Hujan masih setia turun ketika Tim Desember Kopi Gayo berangkat dari Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Kamis (1/1/2026).
Baca juga: Kolaborasi BPJN Aceh dan TNI: Jembatan Bailey Jamur Ujung Dikebut, Progres Capai 50 Persen
Di dalam kendaraan AVP itu duduk Fikar W Eda, Devie Matahari dan Maestro Didong Gayo Ceh M Din, serta Ani Pinusa dan Firdaus dari dari grup Pinusa Band. Mobil dikemudikan Firdaus.
Perjalanan ini bukan sekadar lintasan geografis, melainkan lintasan rasa mengantar bantuan untuk para seniman Tanah Gayo yang terdampak banjir bandang.
Bantuan yang dibawa berasal dari hasil penggalangan dana para seniman Jakarta, yang diinisiasi oleh Bidang Sastra Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) dan Komunitas Desember Kopi Gayo, didukung Dewan Kesenian Jakarta, Jakpro, serta komunitas seni Jabodetabek.
Penggalangan dana itu berlangsung pada Jumat (26/12/2025), di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.
Dari solidaritas yang sama, The Atjeh Connection Foundation di bawah pimpinan Amir Faisal Nek Muhammad dan Anita Amir Faisal turut menyumbangkan satu ton beras untuk para seniman di Tanah Gayo.
Tujuan perjalanan kali ini adalah ke Buntul Sara Ine, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, sebuah tempat yang tak asing.
Di sanalah Desember Kopi Gayo 2023 pernah diselenggarakan, melibatkan puluhan seniman lokal, termasuk Grup Didong Donang Gayo yang digerakkan para perempuan Seni Antara dan Kem.
Kini, hampir semua seniman dan pelaku seni di kawasan itu terdampak serius.
Baca juga: Bantuan Seniman untuk Seniman di Tanoh Gayo Pascabencana Hidrometeorologi
Rumah-rumah mereka hancur diterjang banjir bandang, kebun rusak dan kehidupan terpaksa dimulai dari puing.
Perjalanan sekitar dua jam itu ditempuh dengan kewaspadaan penuh.
Dari Takengon, kami melaju melalui Simpang Teritit- Belang Panas, Simpang Tiga Redelong, Bale Redelong, Isak Busur, Pondok Sayur, Pondok Gajah, hingga Pondok Baru.
Di pasar Pondok Baru, kendaraan berbelok ke kiri menuju Jongok, lalu melewati Bener Lukup, Kampung Gunung dan Bener Kelipah.
Di beberapa titik, jalan masih dalam perbaikan. Jembatan darurat berdiri dan mencemaskan saat hujan.
Longsor mengintai di sisi kiri dan kanan. Kendaraan harus melambat, menakar setiap pijakan ban.
Dari Bener Kelipah, menuju Ramung, lalu berbelok kiri memasuki Buntul jalur Jalan KKA yang menghubungkan Bener Meriah dan Aceh Utara.
Saat menuruni jalan menuju Guci, pemandangan menyergap dada. Sebuah bangunan mersah atau meunasah (mushola) kecil di sisi kiri jalan hancur.
Yang tersisa hanya sebuah guci penampungan air utuh, berdiri sendiri, seakan saksi bisu bencana.
Di Genting Gajah, jembatan sudah bisa dilintasi, namun hujan membuat permukaan licin dan berbahaya.
Memasuki Kem, hati seperti diremas. Kawasan itu hancur. Batu-batu bergelimpangan, kayu-kayu besar lintang pukang, rumah lenyap tinggal papan yang ringsek. Sebagian sudah tak berbekas.
Dari Kem menuju Wih Ni Pase, sungai yang longsor. Kerusakan parah masih terlihat, meski jalur sudah bisa dilewati.
Hujan belum berhenti, jalanan tetap licin. Buntul Sara Ine tinggal sepelemparan batu.
Kami tiba di Pegayon, di mana sebuah masjid besar berdiri. Di sanalah markas para seniman yang dikoordinasikan Azam Pegayon.
Tempat itu pula yang pada 2023 menjadi salah satu pusat perhelatan Desember Kopi Gayo.
Kepada Azam dan Fachruddin, bantuan berupa beras dan sejumlah uang diserahkan.
“Terima kasih,” ucap Azam dengan mata berkaca-kaca.
Ia menitipkan salam untuk para seniman Jakarta orang-orang yang mungkin tak pernah menapakkan kaki di tanah ini, tetapi telah meringankan duka mereka.
Dari Buntul Sara Ine tidak jauh lagi Gunung Salak hingga Lhokseumawe.
Namun yang tertinggal di belakang bukan sekadar jejak ban di jalan berlumpur, melainkan keyakinan bahwa seni, solidaritas dan kemanusiaan selalu menemukan jalannya sendiri, bahkan di tengah reruntuhan. (*)
Baca juga: Status Siaga, Aktivitas Vulkanik Gunung Api Burni Telong di Bener Meriah Masih Tinggi