Mengenal Pesona Wae Rebo, Desa Wisata di Atas Awan yang Masuk Warisan Dunia
January 02, 2026 08:14 PM

TRIBUNJOGJA – Di tengah pegunungan Flores, Nusa Tenggara Timur, tersembunyi sebuah desa adat yang kerap dijuluki “desa di atas awan”.

Namanya Desa Wae Rebo, destinasi wisata budaya yang menawarkan keindahan alam sekaligus tradisi leluhur yang masih terjaga hingga kini.

Desa Wae Rebo terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut.

Untuk mencapainya, wisatawan harus melakukan trekking sejauh kurang lebih 7 kilometer dari Desa Denge, melewati hutan dan perbukitan hijau yang memanjakan mata.

Baca juga: Dijuluki Nepal van Java, Ini Daya Tarik Dusun Butuh di Lereng Gunung Sumbing

Sejarah Desa Wae Rebo

Wae Rebo adalah desa adat suku Manggarai yang diyakini telah ada sejak ratusan tahun silam. Desa ini dikenal lewat rumah adat ikonik berbentuk kerucut bernama Mbaru Niang, yang berdiri kokoh di tengah lembah pegunungan Flores.

Setiap pagi, kabut tipis perlahan menyelimuti kawasan desa, menciptakan suasana sunyi, sakral, dan menenangkan, seolah membawa siapa pun yang datang kembali ke masa lampau.

Wae Rebo didirikan oleh leluhur bernama Empo Maro, yang memilih menetap di wilayah pegunungan terpencil demi menjaga keseimbangan alam serta nilai-nilai adat yang diwariskan turun-temurun.

Hingga kini, masyarakat Wae Rebo masih hidup selaras dengan alam dan memegang teguh tradisi leluhur dalam kehidupan sehari-hari.

Daya Tarik Utama Wae Rebo

Ikon utama Wae Rebo adalah tujuh rumah adat Mbaru Niang yang berdiri melingkar dalam satu kawasan. Masing-masing rumah memiliki fungsi berbeda, mulai dari tempat tinggal hingga pusat pelaksanaan ritual adat.

Keindahan Wae Rebo terasa semakin kuat saat kabut perlahan turun, terutama di pagi hari. Desa ini seolah muncul dari balik awan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Di sini, listrik sangat terbatas dan sinyal hampir tak ada. Malam pun berjalan sunyi, hanya ditemani cahaya lampu sederhana dan suara alam. inilah yang membuat Wae Rebo begitu istimewa, terutama bagi yang senang traveling untuk mencari ketenangan.

Wisatawan diajak merasakan kehidupan yang lebih sederhana dan bermakna, mulai dari menyeruput kopi Flores hangat, mengikuti ritual adat penyambutan, hingga berbincang bersama tetua desa di dalam Mbaru Niang.

Pariwisata di Wae Rebo dijalankan dengan prinsip keberlanjutan. Jumlah pengunjung dibatasi, adat istiadat dijunjung tinggi, dan alam dijaga dengan penuh kesadaran. 

Warisan Budaya yang Diakui Dunia

Daya Tarik Wae Rebo tak hanya memikat wisatawan, tetapi juga mendapat pengakuan internasional. 

Pada 2012, desa ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO, berkat keberhasilannya menjaga arsitektur tradisional dan nilai budaya leluhur di tengah arus modernisasi.

Komitmen masyarakat adat dalam merawat alam dan tradisi juga mengantarkan Wae Rebo meraih berbagai penghargaan bergengsi, seperti Green Tourism Village dari Kemenparekraf, serta Indonesian Sustainable Tourism Award (ISTA) 2018.

Tak berhenti di situ, Wae Rebo kembali mencuri perhatian nasional lewat Anugerah Desa Wisata (ADWI) 2021 kategori Daya Tarik, hingga dinobatkan sebagai ASEAN Community Based Tourism 2023, bukti bahwa desa ini menjadi contoh sukses pariwisata berbasis komunitas di Asia Tenggara.

Harga Tiket dan Aturan Berkunjung

Waktu terbaik mengunjungi Wae Rebo adalah pada musim kemarau, sekitar April hingga Oktober, saat jalur trekking lebih aman dan pemandangan lebih maksimal.

Wisatawan yang ingin menginap di Desa Wae Rebo umumnya perlu membayar mulai dari sekitar Rp300.000 per orang, ini sudah termasuk sarapan dan makan malam. Namun, nominalnya bisa berbeda-beda, tergantung kebijakan desa dan paket kunjungan yang dipilih.

Pengunjung diwajibkan menghormati adat setempat, menjaga kebersihan, berpakaian sopan, serta mengikuti aturan desa demi kelestarian budaya dan alam.

Bagi pencinta traveling, budaya, dan ketenangan, Desa Wae Rebo layak masuk dalam daftar perjalanan impian. Bukan karena kemewahan, melainkan karena keaslian dan keunikan yang ditawarkannya perlu dijaga bersama-sama.

(MG ADZKIA HAFIDZA ELFADZ)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.