BANGKAPOS.COM -- Kematian mahasiswi Universitas Negeri Manado (UNIMA), Evia Maria Mangolo (21), masih menjadi misteri.
Evia Maria diduga bukan bunuh diri, tapi dibunuh.
Dugaan tersebut berasal dari keluarga Evia Maria yang menemukan beberapa luka lebam di tubuh korban.
Pihak keluarga kini meminta agar jenazah Evia Maria diotopsi untuk mengetahui penyebab pasti kematian mahasisi Unima tersebut.
Evia ditemukan meninggal dunia secara tak wajar di kamar kosnya di Tomohon, Sulawesi Utara.
Peristiwa ini menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar, khususnya bagi keluarga.
Baca juga: Kekayaan Andi Muhammad Farid Ketua DPRD Soppeng, Usia 27 Tahun Punya Harta Rp3,4 Miliar
Keluarga menolak anggapan bahwa Evia mengakhiri hidupnya sendiri.
Mereka menduga kuat bahwa kematian mahasiswi muda itu merupakan tindak pembunuhan.
Melalui kuasa hukum keluarga, Cyprus Tatali, pihak keluarga akhirnya memutuskan untuk menempuh jalur otopsi guna mengungkap penyebab pasti kematian Evia.
Langkah ini diambil demi menghindari berbagai penafsiran yang simpang siur di tengah masyarakat.
“Agar supaya tidak ada multi tafsir, maka diputuskan untuk diadakan otopsi,” kata Cyprus Tatali kepada Tribunmanado di rumah persemayaman jenazah di Perum CBA Gold Mapanget, Minut, Jumat (2/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa ayah Evia telah membawa jenazah putrinya untuk menjalani proses otopsi beberapa hari sebelumnya.
Menurut Cyprus, terdapat sejumlah kejanggalan yang ditemukan pada kondisi tubuh korban.
Ia menyebut adanya luka lebam di beberapa bagian tubuh Evia yang memicu kecurigaan keluarga.
“Untuk posisi kain juga agak janggal,” katanya.
Baca juga: Sosok Pratu Farkhan, Prajurit TNI Tewas Diduga Dianiaya Senior, Keluarga Trauma Lihat Pakaian Dinas
Cyprus menegaskan bahwa hasil otopsi diharapkan dapat membuka seluruh fakta yang selama ini tertutup.
Dengan langkah tersebut, pihak keluarga ingin mendapatkan kejelasan dan kebenaran yang sesungguhnya.
“Jika memang itu bukan bunuh diri, siapa pelakunya,” ujarnya tegas.
Dalam kesempatan yang sama, Cyprus juga menyampaikan kekecewaan keluarga terhadap penanganan awal pihak kepolisian di Tomohon.
Ia mempertanyakan keputusan oknum polisi yang langsung memindahkan jenazah korban ke rumah sakit.
“Atas izin siapa oknum polisi langsung pindahkan jenazah korban ke rumah sakit, dalam teori penyelidikan, kalau orang mati tak wajar, tak serta merta langsung dibawa ke rumah sakit,” katanya.
Ia menekankan bahwa dalam kasus kematian tidak wajar, seharusnya kepolisian segera melibatkan Inafis.
Menurutnya, Inafislah yang memiliki kewenangan untuk menangani jenazah dan menentukan penyebab kematian.
“Kami minta tolong pada pak kapolda, pak kapolda ini adalah seorang yang berprestasi, profesional dan tegak lurus dalam menegakkan aturan, tak ada alasan oknum polisi di Tomohon mengambil langkah sebelum menghubungi Inafis, karena matinya tak wajar, mereka juga tidak bisa menyimpulkan telah terjadi bunuh diri, ini wewenangnya Inafis,” kata Cyprus.
Sementara itu, Antonius, ayah Evia, menyampaikan harapan besar agar kasus ini diusut tuntas.
Ia menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada kepolisian.
“Saya berharap institusi kepolisian sebagai penegak hukum dapat mengungkap kasus kematian tak wajar ini, kami semua mempercayakan penanganan kasus ini pada pihak kepolisian, kami bermohon pak Kapolda,” katanya penuh harap.
Dari informasi dari pihak kepolisian, peristiwa tersebut pertama kali diketahui sekitar pukul 08.00 Wita.
Penemuan berawal saat pemilik kost berinisial YR, yang tinggal di Kelurahan Matani Satu, menerima panggilan dari salah satu penghuni kost.
Mendengar hal itu, YR langsung bergegas menuju lokasi indekost.
Setibanya di tempat kejadian, YR melihat Evia Maria berada di depan pintu masuk kost dengan kondisi sudah meninggal.
Selanjutnya, YR menghubungi pihak kelurahan untuk melaporkan kejadian tersebut.
Tak berselang lama, personel Polsek Tomohon Tengah langsung mendatangi lokasi kejadian.
Kapolsek Tomohon Tengah IPTU Stenly Tawalujan, bersama tim identifikasi dari Polres Tomohon kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Jenazah Evia Maria disemayamkan di rumah kerabat di Perumahan CBA Gold, Teterusan, Mapanget, Minahasa Utara (Minut), Sulut.
Jenazah Evia kini disemayamkan di kediaman Kel. Pdt Roos Merry Kabuhung.
Pendeta Roos merupakan tante Evi Maria yang melayani sebagai Pendeta di Jemaat GMIM Eden Mapanget.
Keluarga berencana membawa pulang, jenazah Evi Maria ke Ulu Siau, Kepulauan Sitaro, Sulut Rabu (31/12/2025) pagi ini.
Meskipun demikian, rencana ini batal menyusul keputusan jenazah Evi akan diotopsi.
Pantauan Tribunmanado.co.id di rumah duka, puluhan orang datang melayat.
Beberapa di antaranya bagian dari Ikatan Kekeluargaan Indonesia Sangihe Sitaro Talaud (IKISST) Sulawesi dan Manado.
Ayah Evia, Antonius Mangolo dan adiknya, Revan serta kerabat lainnya telah tiba di Manado sejak Rabu dinihari.
"Kami berencana membawa pulang anak kekasih pagi ini tapi rencana berubah karena katanya mau otopsi" ujar paman Evia, Jhonli Mangolo di rumah duka.
Jenazah Evia Maria Mangolo, mahasiswi Unima yang meninggal di tempat kos di Tomohon, akan menjalani otopsi di RS Kandou Manado, pada Rabu (31/12/2025).
Otopsi diputuskan oleh keluarga setelah ditemukan sejumlah luka yang membiru di tubuh jenazah.
Ketsia, tante dari Evia bercerita, pada Selasa (30/12/2025) malam di rumah duka di Perum CBA Gold, Mapanget, Minut, Sulut ia memperoleh sebuah dorongan untuk memeriksa kaki dari jenazah.
"Saat itulah ada tanda biru serta tanda seperti luka," katanya.
Beberapa saat kemudian, atas saran seseorang, pihaknya membuka tubuh jenazah dan ditemukan tanda biru di pinggang kiri dan di paha atas.
"Dari situ lantas diputuskan untuk dilakukan otopsi," katanya.
Ia menuturkan, ayah dari almarhum sudah tiba sejak Rabu dini hari.
Rabu pagi, ia bertolak ke Polda untuk persiapan otopsi.
Dia menerangkan, sesungguhnya jenazah direncanakan pulang pada Kamis.
Namun batal karena ada otopsi.
Ketsia menuturkan, pihaknya menyerahkan penanganan kematian itu pada pihak berwajib.
Evia Maria, mahasiswi Unima yang ditemukan meninggal di Tomohon dikenal sebagai sosok yang baik, rajin, pintar dan agak pendiam.
Hal ini diutarakan Ketsia, tante korban kepada Tribunmanado.com di rumah persemayaman di Perumahan CBA Gold, Teterusan, Mapanget, Minahasa Utara (Minut), Sulut, Rabu (31/12/2025).
"Ia memang pendiam, tapi rajin," katanya.
Ia bercerita, Evia sangat rajin membuat tugas kelompok.
Kadang, kata dia, saat menginap di rumahnya, Evia sering lupa makan karena kerjakan tugas.
"Saya sering tegur makan dulu, dan ia tetap dengan laptopnya," katanya.
Sebut dia, Evia juga pintar.
Selain itu baik hati.
Meski pendiam, Evia punya semangat tinggi untuk belajar.
Dikatakannya, ia sempat menelepon Evia, apakah hendak pulang saat Natal.
"Jawabnya tidak jadi, karena tidak dapat tiket," katanya.
Dirinya terakhir ketemu Evia pada beberapa bulan lalu.
Kala itu Evia tengah KKN dan mencari tempat kos.
"Ia dan dua temannya sempat menginap di rumah saya dan sewaktu hendak pulang saat itu hujan, ia katakan makaseh (terima kasih) Ma Abo (panggilan Ketsia)," katanya.
Ia mengatakan, sang ponakan sempat mengunggah story tengah mandi di pantai bersama adiknya sebelum Natal.
Lalu menyusul story lainnya.
"Ia unggah sesuatu seperti kertas, mungkin tanda berhasil menyelesaikan KKN dan menulis kado Natal untuk mama," katanya.
Evia Maria ternyata sudah punya tambatan hati.
"Ia sudah punya pacar," kata Ketsia, tante korban kepada Tribun manado di rumah persemayaman di Perumahan CBA Gold, Mapanget, Minahasa Utara (Minut), Rabu (31/12/2025).
Sebut dia, sang pacar saat ini bertugas di Papua.
Keduanya direncanakan akan tunangan setelah Evia wisuda.
Ia ingat, Evia pernah mengantar pacarnya naik kapal di Bitung.
"Evia juga pernah mengunggah foto sang pacar," katanya.
Di mata sahabatnya, Nadia, Evia adalah gadis ceria dengan mimpi besar untuk terbang tinggi dengan pesawat meninggalkan pulau kecil asalnya di Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara (Sulut).
Evia Maria kerap berbicara tentang langit dan seragam pramugari yang suatu hari ingin ia kenakan.
Kepada wartawan Tribunmanado.co.id, Indri Panigoro, Nadia mengungkap cita-cita Evia Maria.
Nadia mengenang Evia sebagai sosok yang ceria dan memiliki mimpi besar.
Salah satu cita-cita Evia yang sering ia ceritakan adalah keinginannya untuk menjadi pramugari.
“Dia sering bilang sebenarnya dia sangat ingin jadi pramugari,” katanya.
Nadia juga mengungkap percakapan terakhirnya dengan almarhumah.
Evia, kata Nadia kerap curhat soal kasus dugaan pelecehan seksual yang ia alami.
Sosok yang kerap disebut Evia dalam curhatannya yakni salah satu oknum dosen di Unima
Beberapa waktu sebelum meninggal dunia, Evia sempat mendatangi kos Nadia.
Saat itu, Evia mengatakan ingin ke kos Nadia untuk bercerita, sembari menunjukkan rencana foto studio seperti foto kelulusan SMA.
“Waktu di kos, dia tiba-tiba curhat sambil menangis. Dia cerita tentang dosen yang diduga melecehkannya,” kata Nadia saat diwawancarai di akun Facebooknya bernama Nadia, Kamis 1 Januari 2026 sore.
Nadia menuturkan, Evia juga pernah menyampaikan bahwa dirinya telah menerima perlakuan tidak pantas melalui pesan langsung (DM) dari dosen yang bersangkutan.
Evia bahkan sempat mengirimkan pesan suara (voice note) kepada Nadia, mengaku telah melaporkan dugaan pelecehan itu kepada Wakil Dekan III (WD III).
“Almarhumah bilang sudah lapor ke WD III soal pesan DM dan perlakuan dosen itu,” kata Nadia.
Pada 15 Desember, bertepatan dengan ulang tahun Nadia, Evia kembali mencurahkan ketakutannya.
Ia meminta pendapat Nadia karena merasa tertekan dan takut dengan sikap dosen tersebut.
“Saya bilang ke dia, lebih baik lapor saja. Kalau tidak, takutnya dosen itu bisa bertindak seenaknya lagi ke mahasiswa lain,” ujar Nadia.
Lanjut Nadia, pada keesokan harinya, Evia mengabarkan bahwa ia telah resmi melaporkan dugaan pelecehan seksual tersebut secara lisan kepada WD III.
Kata Nadia berdasarkan cerita Evia, pihak WD III kemudian menyarankan agar laporan tersebut dituangkan dalam bentuk surat pernyataan tertulis dan dilanjutkan ke pihak pusat atau pimpinan kampus.
Evia Maria seharusnya tinggal beberapa langkah lagi menuntaskan kuliahnya di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Jurusan Pendidikan Guru SD Universitas Negeri Manado.
Tapi harapan tinggal harapan. Beberapa hari jelang ujian, Evia ditemukan meninggal di tempat kosnya di Kaaten, Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Selasa 30 Desember 2025 pagi.
Evia dijadwalkan ujian seminar proposal skripsi pada Selasa 6 Januari 2025.
"Kasiang anak ini. Padahal tanggal 6 Januari somo ujian," kata paman Evia, Jhonli Mangolo di rumah persemayaman, Perumahan CBA Gold, Mapanget, Minahasa Utara, Rabu (31/12/2025).
Kata Jhonli, mungkin karena sudah terjadwal ujian tanggal 6 sehingga Evia memutuskan tidak pulang ke Ulu Siau, Kepulauan Sitaro.
"Sebenarnya kasiang depe papa deng mama suka skali dia pulang mo ba Natal deng Tahun Baru. Ya siapa mo sangka jadi bagini," kata sang paman lirih.
Universitas Negeri Manado (UNIMA) Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut) membebastugaskan oknum dosen berinisial D.M.
DM dibebastugaskan sebagai dosen imbas dugaan kasus kekerasan seksual yang ditulis Evia Maria melalui surat pernyataan.
Wafatnya Evia Maria membuat warga Sulut menyoroti Unima.
Menanggapi kasus ini, Unima langsung membebastugaskan DM.
Kebijakan tersebut diambil menyusul pemeriksaan internal kampus terhadap dosen yang bersangkutan pada Rabu (31/12/2025).
Kepala Humas Unima Titof Tulaka menyebut, setelah diperiksa di lingkungan kampus, oknum dosen tersebut langsung menuju kepolisian.
“Setelah diperiksa, oknum tersebut langsung menuju ke polisi untuk pemeriksaan,” ujar Kepala Humas Unima saat diwawancara, Kamis (1/1/2026).
Ia menjelaskan, pemeriksaan itu merupakan panggilan dari pihak kepolisian terhadap dosen tersebut terkait adanya dugaan pelecehan yang dialami mahasiswi.
Namun, saat dikonfirmasi terpisah, Kapolsek Tomohon Tengah, Iptu Stenly Tawalujan, mengatakan pihaknya tidak menerima laporan terkait kasus tersebut.
Pembaca yang merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa.
Di Manado Anda bisa menghubungi pihak RSJ PROF. DR. V. L. Ratumbuysang.
(Bangkapos.com/TribunManado/TribunnewsMaker.com)