AS Mau Ikut Campur, Trump Bilang Akan Kirim Pasukan Jika Iran Membunuh Para Demonstran
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Jumat (2/1/2025) memperingatkan kalau AS "siap siaga" untuk campur tangan jika Iran membunuh para demonstran.
Ucapan Trump itu merespons situasi terkini Iran yang diguncang gelombang demonstrasi menuntut kenaikan biaya hidup di negara itu.
Baca juga: Rekor dalam 35 Tahun, Iran Eksekusi Mati 1.500 Orang Tahun Lalu: Makin Banyak Gelombang Demonstrasi?
Gelombang demo di Iran belakangan berubah menjadi kekerasan dan menewaskan beberapa orang.
"Jika Iran menembak dan membunuh demonstran damai secara brutal, yang merupakan kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang menyelamatkan mereka," kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.
"Kami sudah siap tempur dan siap berangkat," kata Trump
Laporan menyebutkan kalau enam orang tewas pada Kamis (1/1/2026) dalam bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan di seluruh Iran.
Gelombang kerusuhan saat ini dimulai pada Minggu pekan lalu ketika para pedagang di Teheran memprotes kenaikan biaya hidup dan kemerosotan ekonomi.
Gerakan ini kemudian meluas hingga mencakup segmen masyarakat lainnya dan menyebar ke berbagai wilayah di negara tersebut.
Selain itu, tiga orang dilaporkan tewas di kota Azna, yang terletak di provinsi Lorestan.
Televisi pemerintah sebelumnya mengumumkan kematian seorang anggota Basij, sebuah pasukan paramiliter yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dalam demonstrasi di kota Kuhdasht di bagian barat.
Demonstrasi saat ini belum mencapai skala protes massal yang melanda Iran pada akhir tahun 2022 menyusul kematian sosok Mahsa Amini.
Amini meninggal dalam tahanan setelah ditahan oleh polisi moral karena diduga melanggar aturan berpakaian ketat negara itu.
Saat itu kematian Amini memicu kemarahan nasional selama berbulan-bulan dan mengakibatkan ratusan kematian, termasuk puluhan personel keamanan.
Iran juga menghadapi kerusuhan signifikan pada November 2019 menyusul kenaikan harga bahan bakar.
Pihak berwenang menggunakan tindakan keras untuk meredam protes tersebut, secara resmi melaporkan 230 kematian, meskipun organisasi hak asasi manusia non-pemerintah memperkirakan jumlah korban jiwa sebenarnya jauh lebih tinggi.
(oln/rntv/*)