TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Bagi Erizal (50), dua bulan terakhir adalah masa yang tak mudah dilalui. Warga Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) itu masih hidup dalam bayang-bayang trauma banjir bandang yang melanda kawasan tempat tinggalnya pada akhir November 2025 lalu.
Setiap hujan lebat turun, ingatan Erizal selalu kembali pada peristiwa mencekam yang nyaris merenggut nyawa dirinya dan keluarga.
Banjir bandang atau galodo yang datang tanpa aba-aba itu menjadi pengalaman paling pahit sepanjang hidupnya.
Baca juga: Gubernur Mahyeldi Lepas 400 Mahasiswa KKN Unand untuk Verifikasi Rumah Terdampak Bencana di Sumbar
Pagi itu, Kamis (27/11/2025), sekitar pukul 06.30 WIB, Erizal bersama istri dan dua anaknya tengah berada di dalam rumah.
Tanpa tanda-tanda mencurigakan, air tiba-tiba datang dengan deras dan cepat.
“Seperti tsunami. Datangnya tiba-tiba dan langsung tinggi. Kami tidak sempat menyelamatkan diri,” ujar Erizal saat ditemui TribunPadang.com, Jumat (2/1/2026).
Dalam situasi panik dan penuh keterbatasan, Erizal hanya bisa berusaha menyelamatkan keluarganya sebisanya.
Baca juga: Rumah Hasil Perjuangan Desni dan Mendiang Suami Rusak Pascabanjir di Nanggalo, Kini Tinggal Kenangan
Dua anaknya ia naikkan ke atas kasur bertingkat yang sebelumnya ditumpuk dengan pakaian, agar posisi mereka lebih tinggi dari permukaan air.
Sementara itu, Erizal dan sang istri terpaksa bertahan di bawah.
Air dingin terus naik hingga mencapai leher mereka. Di tengah kepungan banjir, tak ada lagi yang bisa dilakukan selain pasrah.
“Saat itu sudah tidak tahu lagi mau bilang apa. Air sudah setinggi leher, kami cuma bisa berdoa supaya selamat,” tuturnya dengan suara bergetar.
Lima jam lamanya Erizal dan istrinya merasakan dinginnya air yang merendam tubuh mereka.
Baca juga: Tangis Darmi Pecah Mengenang Rumah Hancur Diterjang Banjir Bandang di Guo Kuranji
Hingga akhirnya, sekitar pukul 11.00 WIB, bantuan datang.
Petugas berhasil mengevakuasi Erizal beserta keluarganya ke tempat yang lebih aman.
Peristiwa tersebut menjadi luka yang paling membekas dalam ingatan Erizal.
Di balik kepasrahan saat itu, ia meyakini masih ada harapan yang diberikan Tuhan untuk dirinya dan keluarga.
Namun, banjir yang terus berulang di kawasan tempat tinggalnya membuat trauma itu kembali muncul.
Baca juga: Rumah Hasil Tani Alizar Hilang Disapu Galodo Padang, Hanya Bisa Tertawa Meski Sesak Menahan Air Mata
Setiap genangan air, setiap hujan deras, selalu mengingatkannya pada momen antara hidup dan mati.
“Kalau setiap banjir pasti selalu teringat. Antara hidup dan mati. Alhamdulillah kami masih selamat, tapi traumanya masih ada sampai sekarang,” katanya.
Memasuki awal tahun 2026, hujan masih kerap mengguyur Kota Padang.
Rumah Erizal pun masih sering digenangi air saat curah hujan tinggi. Kondisi ini membuatnya terus diliputi rasa cemas.
Baca juga: Tiap Hujan Warga Kuranji Padang Tak Bisa Tidur Nyenyak, Takut Sungai Guo Tiba-tiba Mengamuk Lagi
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi persoalan banjir yang tak kunjung usai, agar warga seperti dirinya tidak terus hidup dalam ketakutan di rumah sendiri.
“Kami cuma ingin bisa tinggal dengan tenang, tanpa takut setiap hujan datang,” harapnya. (TribunPadang.com/Fajar Alfaridho Herman)