Cerita Timor Leste Kepincut Bahan Bakar Alternatif Karya Anak Indonesia
January 03, 2026 12:39 AM

POS-KUPANG.COM, BOGOR - Bahan bakar alternatif karya anak Indonesia telah menarik minat dan kekaguman pemerintah Republik Demokratik Timor Leste (RDTL).

Pemerintah negara termuada di kawasan Asia Tenggara itu melirik bahan bakar alternatif dengan label Bobinos itu untuk mendukung agenda kemandirian energi negara itu. 

Melalui Kepala SKK Migas Gualdino do Carmo da Silva, Pemerintah Timor Leste menjajaki kolaborasi dengan Tim Babibos Indonesia untuk menghadirkan kemandirian energi bagi masyarakat di negara termuda kawasan Asia Tenggara tersebut. 

Pertemuan antara Gualdino dan jajaran Tim Bobibos telah berlangsung pada Rabu (17/12/2025) lalu di Jakarta.  

Dewan Pembina Bobibos, Mulyadi mengungkapkan kehadiran Bobibos direspon sangat positif oleh pemerintah Timor Leste.

Dalam waktu dekat, pihaknya diundang Timor Leste untuk melakukan perjanjian kerja sama untuk menindaklanjuti kolaborasi program swasembada energi itu.

“Prinsipnya pihak Timor Leste yang mewakili pemerintah Kepala SKK Migas nya sangat antusias dan merspon baik, bahkan kita Bobibos diminta hadir di timor leste sebelum natal di minggu depan untuk menandatangani MoU dan membicarakan hal-hal yang sifatnya teknis dan memberikan bahan-bahan untuk menjadi klausul yang akan dibuatkan regulasi oleh pemerintah Timor Leste,” ujar Mulyadi, dikutip dari KBRN.

Dia menyebut, Babibos diberi tanda kehormatan sebagai partner negara Timor Leste, sehingga harapannya program kemandirian energi dapat diwujudkan seiring dengan lahirnya inovasi energi alternatif yang bermanfaat.

Apa itu Babibos?

Babibos adalah bahan bakar alternatif dari nabati yang memanfaatkan jerami padi. Babibos merupakan inovasi energi terbarukan berbasis limbah pertanian.

Inisiator Green Merah Putih Fauzan Rachmansyah menilai, inisiatif masyarakat Indonesia dalam mengembangkan Bobibos sebagai langkah positif dengan dampak ganda.

Selain mendorong pemanfaatan energi terbarukan, inovasi ini juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani.

Menurut Fauzan, pengelolaan jerami sebagai bahan bakar alternatif berpotensi mengurangi pencemaran udara akibat praktik pembakaran terbuka.

Di sisi lain, langkah ini juga dapat menambah nilai ekonomi limbah pertanian sekaligus membuka lapangan kerja baru di tingkat desa.

Siap produksi massal

Bobibos pun siap berekspansi dengan melakukan produksi massal di Timor Leste pada awal tahun 2026.

Langkah itu diambil setelah adanya penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan pemerintah setempat yang memberikan dukungan penuh terhadap energi alternatif ini.

Pembina Bobibos, Mulyadi mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah menyusun rencana aksi (action plan) bersama mitra di T di TImor Limor Leste, mencakup kerangka waktu hingga kesiapan mesin produksi. Pemerintah Timor Leste bahkan telah menyiapkan fasilitas pabrik serta lahan bahan baku seluas 25.000 hektare (ha).

Baca juga: Ekspor ke Timor Leste Lewat PLBN Motaain Cetak Rekor

"Target kami paling lambat Februari sudah produksi, tapi kami upayakan Januari sudah mulai. Produksi perdana akan diluncurkan langsung oleh pemerintah Timor Leste," ujarnya melalui keterangan resmi, Jumat (26/12/2025).

Mulyadi yang juga Anggota Komisi XI DPR RI ini menjelaskan, pada tahap awal lahan seluas 5.700 ha telah disiapkan untuk memasok bahan baku. Ekspansi ke luar negeri ini dilakukan lantaran regulasi di dalam negeri belum mengatur jerami sebagai bahan baku bioenergi dalam kebijakan transisi energi nasional.

Saat ini, kata dia, regulasi nasional baru mencakup bioenergi dari sawit, aren, dan tebu. Oleh karena itu, Bobibos memilih untuk tidak melakukan distribusi massal di Indonesia guna menaati aturan uji ketahanan, sertifikasi, dan standar keselamatan yang berlaku.

"Kami kader partai pemerintah, kami harus memberi contoh ketaatan pada regulasi. Tidak mungkin kami produksi massal tanpa aturan yang jelas," tegasnya.

Kendati melangkah ke Timor Leste, Mulyadi menegaskan bahwa Bobibos siap kembali diproduksi secara besar-besaran di tanah air jika Presiden Prabowo Subianto memberikan mandat resmi dan didukung payung regulasi yang kuat. Menurutnya, potensi jerami di Indonesia sangat jumbo dengan luas sawah mencapai 11,3 juta ha.

"Kalau negara meminta, pasti kami siap. Indonesia bisa menghasilkan sekitar 20 miliar liter per tahun dari jerami. Itu sangat meringankan masyarakat," imbuhnya.

Mulyadi juga memastikan bahwa perkembangan Bobibos di Timor Leste sudah diketahui oleh Presiden Prabowo melalui jalur komunikasi partai. Ia menyebut telah melaporkan hal ini secara berjenjang kepada Dewan Pembina partai hingga pimpinan DPR dan kementerian teknis terkait.

Sementara itu, terkait kerja sama dengan proyek Lembur Pakuan di Jawa Barat yang sempat ramai di media sosial, Mulyadi mengklarifikasi, Bobibos telah mengirimkan 42 toren. Menurutnya, keterlambatan realisasi di lapangan terjadi karena kesiapan lokasi dari pihak mitra yang belum rampung.

Lebih lanjut, Mulyadi menekankan, langkah ke Timor Leste melalui skema business to business (B2B) bukanlah bentuk meninggalkan Indonesia.

"Ini solusi energi untuk dunia. Kalau suatu saat Indonesia mengundang kami kembali dengan regulasi yang jelas, kami akan pulang dengan senang hati," pungkasnya. (*/ian)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.