TRIBUNNEWS.COM - Peringatan keras disampaikan oleh pemerintah Iran terkait pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal demonstrasi besar yang tengah terjadi di negaranya.
Seperti yang dikabarkan sebelumnya, pada hari Jumat (2/1/2026) Donald Trump mengancam akan turun tangan membantu para pengunjuk rasa di Iran jika pemerintah Teheran nekad menembaki mereka.
"Jika Iran menembak dan membunuh demonstran damai secara brutal, yang merupakan kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang menyelamatkan mereka. " cuit Trump.
Adapun ucapan Trump ini muncul di tengah kerusuhan di Iran yang kian membara dan telah menewaskan beberapa orang.
Setidaknya tujuh orang telah tewas, dan rekaman video menunjukkan pasukan keamanan membawa senapan dengan suara tembakan terdengar di latar belakang.
Komentar Trump tersebut juga secara tidak langsung merespons pernyataan seorang pejabat lokal di Iran barat, tempat beberapa kematian dilaporkan.
Dikutip oleh media negara Iran, IRNA, pejabat tersebut memperingatkan bahwa setiap kerusuhan atau pertemuan ilegal akan dihadapi "secara tegas dan tanpa ampun".
Pernyataan yang diduga justru meningkatkan eskalasi di Iran ini sepertinya memicu langkah Trump untuk segera turun tangan.
"Kami telah siap sedia dan siap bergerak, Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini! " ungkapnya dalam sebuah unggahan yang dibagikan di platform Truth Social.
Menanggapi komentar Trump tersebut, pejabat tinggi Iran Ali Larijani memperingatkan bahwa campur tangan AS dalam urusan domestik Iran akan berakibat pada destabilisasi seluruh Timur Tengah.
Hal senada juga disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Abbas menyebut pernyataan Trump sebagai "sembrono dan berbahaya," serta mengatakan bahwa militer Iran juga telah bersiaga penuh jika AS ikut campur dengan masalah domestik mereka.
Baca juga: Trump-Netanyahu Teken Kontrak Baru: AS Lepas 50 Jet Tempur F-15IA Seharga Rp144 T ke Israel
Ia juga menyatakan bahwa protes-protes tersebut sebagian besar berlangsung damai, namun serangan terhadap fasilitas umum tidak akan ditoleransi.
"Mengingat Presiden Trump sendiri pernah mengerahkan Pengawal Nasional di dalam wilayah Amerika Serikat, seharusnya ia lebih memahami bahwa serangan kriminal terhadap fasilitas umum tidak dapat ditoleransi," ujarnya.
Menanggapi ancaman intervensi Trump, Ali Shamkhani, penasihat pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, juga memperingatkan bahwa keamanan nasional Iran merupakan "garis merah, bukan bahan untuk cuitan petualangan."
"Setiap tangan yang ikut campur dalam keamanan Iran dengan dalih apa pun akan dipotong dengan respons yang menimbulkan penyesalan," kata Shamkhani dalam sebuah unggahan di platform X.
Trump sendiri tidak merinci jenis tindakan apa yang dapat diambil AS untuk mendukung protes tersebut.
Washington sebelumnya telah lama memberlakukan sanksi keuangan luas terhadap Teheran, khususnya sejak masa jabatan pertama Trump pada tahun 2018.
Di bawah komando Trump kala itu, AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran dengan negara-negara adidaya dunia lainnya dan mengumumkan kampanye "tekanan maksimum" terhadap Teheran.
Baca juga: Drone Iran Tertangkap Kamera di Venezuela, Teheran Ingin Pindahkan Medan Konflik ke Amerika Latin?
Sementara itu, opsi militer juga sepertinya terbuka.
Hal ini terjadi mengingat AS sebelumya telah melakukan operasi ofensif dengan membom fasilitas nuklir Iran pada bulan Juni 2025 lalu.
Kala itu, AS melangsungkan serangannya dengan bergabung bersama kampanye udara Israel yang menargetkan program atom dan kepemimpinan militer Teheran.
(Tribunnews.com/Bobby)